Militer Israel Kekurangan Dana Rp216 T, Stok Senjata Menipis

1 jam yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Militer Israel mengalami kekurangan dana sekitar 40 miliar shekel atau sekitar Rp216 triliun.

Kekurangan anggaran itu terjadi ketika Israel berupaya mengisi kembali persediaan senjata dan memulihkan kemampuan militernya setelah hampir tiga tahun menjalankan operasi militer.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut surat kabar Israel Yedioth Ahronoth pada Senin (14/9), sejumlah pejabat senior militer Israel telah memperingatkan para pemimpin politik dalam beberapa bulan terakhir.

Mereka khawatir pendanaan yang tidak mencukupi dapat mempengaruhi kesiapan operasional, pengadaan senjata, hingga program pembangunan kekuatan militer dalam jangka panjang.

Peringatan tersebut disampaikan oleh Kepala Staf Militer Israel, wakilnya, serta Kepala Direktorat Perencanaan. Mereka meminta tambahan anggaran untuk mempertahankan operasi yang sedang berlangsung sekaligus membangun kembali kemampuan militer yang telah berkurang sejak Oktober 2023.

Menurut laporan itu, pejabat pertahanan Israel juga prihatin terhadap kekurangan amunisi dan menurunnya persediaan senjata. Sejumlah program yang dirancang untuk memulihkan kesiapan militer juga dilaporkan harus ditunda.

Persoalan anggaran tersebut tidak hanya berpotensi mempengaruhi operasi militer. Industri pertahanan dalam negeri Israel juga dapat terdampak jika tambahan dana tidak segera disetujui.

Beberapa jalur produksi militer juga berpotensi mengalami gangguan akibat keterbatasan alokasi anggaran.

Militer Israel telah menjalankan operasi di sejumlah front sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023. Operasi tersebut menyebabkan penggunaan amunisi, peralatan militer, dan personel cadangan dalam jumlah besar.

Di tengah kondisi itu, para perencana militer Israel juga mempersiapkan kemungkinan konfrontasi baru secara bersamaan yang melibatkan Iran, Hizbullah, dan Hamas.

Mereka juga mempertimbangkan tantangan keamanan yang terus berlangsung dari Suriah dan Yaman, seperti dilaporkan Middle East Monitor.

Para pejabat militer menilai setiap medan pertempuran memiliki kebutuhan operasional yang berbeda. Namun, militer Israel tetap berupaya mempertahankan kemampuan untuk menjalankan operasi di berbagai front secara bersamaan.

Karena itu, perencanaan pertahanan Israel tidak hanya didasarkan pada asumsi bahwa konflik di masa depan akan terjadi secara terpisah.

Defisit anggaran tersebut muncul ketika pemerintah dan militer Israel harus menentukan prioritas penggunaan dana. Pilihannya mencakup pembiayaan operasi yang sedang berlangsung, pengisian kembali persediaan senjata, pemulihan kesiapan militer, serta persiapan menghadapi potensi konflik pada masa mendatang.

(mge/bac)

Baca Artikel Selengkapnya