Menteri Israel Serukan Perang Genosida di Tepi Barat

1 jam yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich, menyerukan perang skala penuh di Tepi Barat yang diduduki. Ia mendesak militer untuk menggunakan taktik yang diterapkan di Gaza—wilayah yang telah hancur akibat genosida yang sedang berlangsung. 

Smotrich, yang dikenal karena retorikanya yang provokatif, rasis, dan merendahkan martabat warga Palestina, juga menyerukan aneksasi Lebanon selatan dan wilayah Gaza ke bawah kendali Israel.

Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada Ahad, sang menteri mengatakan kepada Ynet News bahwa Israel harus "berperang" di wilayah pendudukan dan mengulangi apa yang telah mereka "lakukan di Gaza". Pernyataannya muncul sekitar satu bulan menjelang pemilihan umum, di tengah meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh pihak Israel dan para pemukim di wilayah pendudukan, serta demonisasi terhadap warga Palestina yang berkewarganegaraan Israel. 

Saat wawancara dengan Ynet News, Smotrich menyatakan bahwa Israel harus "melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan di Gaza" ketika menanggapi pertanyaan mengenai bagaimana Israel sebaiknya mengatasi "ketegangan keamanan" yang kian meningkat di Tepi Barat yang diduduki. 

Dengan gaya bicaranya yang khas dan provokatif, Smotrich menyatakan bahwa ia memiliki "solusi" untuk mengatasi aksi kekerasan massal (pogrom) yang terus terjadi di Tepi Barat yang diduduki. 

Sejak Israel melancarkan perang genosida yang masih berlangsung di Gaza, entitas zionis itu telah meningkatkan tindakan keras di Tepi Barat, menangkap ribuan orang—banyak di antaranya tanpa dakwaan resmi—serta membiarkan aksi kekerasan massal oleh para pemukim terus terjadi di wilayah tersebut.

"Menurut saya, kita perlu melancarkan perang di Yudea dan Samaria, melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan di Gaza, serta membubarkan Otoritas Palestina yang merupakan otoritas teror," ujarnya kepada Ynet News, merujuk pada nama alkitabiah untuk Tepi Barat. Otoritas Palestina memerintah Tepi Barat menyusul Perjanjian Oslo. 

Pasukan Israel telah "membersihkan" kamp-kamp pengungsi Palestina di Tepi Barat, dan ia menambahkan: "Kita perlu menegaskan kepada [militer Israel]: Sama seperti kalian melumpuhkan Hamas di Gaza, tidak boleh ada infrastruktur teror di Yudea dan Samaria. Tidak ada teroris, tidak ada senjata, tidak ada terowongan." Itu adalah retorika yang mengkhawatirkan, demikian peringatan Suhad Bishara, direktur hukum Adalah – Pusat Hukum untuk Hak-Hak Minoritas Arab di Israel. 

"Smotrich tidak hanya mengusulkan 'perang' terhadap warga Palestina di Tepi Barat, ia bahkan sudah melancarkannya," kata Bishara kepada Al Jazeera. "Kamp-kamp pengungsi yang ia banggakan telah 'dibersihkan' itu sebenarnya telah dihancurkan, dan penduduknya dipindahkan secara paksa."

"Seruannya untuk 'melakukan hal yang sama seperti di Gaza'—tempat Israel melancarkan kampanye genosida berupa pembunuhan massal, kelaparan, dan kehancuran—merupakan pernyataan terbuka mengenai niat untuk melakukan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida terhadap warga Palestina di Tepi Barat," ujarnya. 

Selain itu, Smotrich mendesak aneksasi wilayah yang dikuasai militer Israel di Gaza, yang dibatasi oleh apa yang disebut sebagai "Garis Kuning" —garis tempat tentara Israel mundur pada tahap pertama "gencatan senjata" Gaza. Peta militer Israel menunjukkan garis tersebut membentang sejauh 1,5 km hingga 6,5 km ke dalam wilayah Gaza dari perbatasan timur dengan Israel, serta mencakup sekitar 58 persen wilayah kantong tersebut. 

Sejak "gencatan senjata" diberlakukan, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 1.408 warga Palestina. Menurut kementerian kesehatan wilayah kantong tersebut, setidaknya 74.000 warga Palestina telah tewas akibat tindakan Israel sejak Oktober 2023, sementara sebagian besar wilayah yang terkepung itu telah hancur lebur menjadi puing-puing.

Para pakar hukum dan aktivis menyebut tindakan militer Israel di Gaza sebagai genosida. Sebuah panel komisi penyelidikan PBB pada bulan September lalu menyatakan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza.

Baca Artikel Selengkapnya