Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, memimpin ratusan warga Yahudi Israel menggeruduk kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem, Palestina, Kamis (23/7) lalu.
Rekaman AFP memperlihatkan Ben Gvir dan ratusan umat Yahudi berada di kompleks Al-Aqsa untuk memperingati hari berkabung Yahudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lihatlah apa yang terjadi di sini. Orang-orang Yahudi sedang berdoa dan merasa bahwa merekalah pemilik sah tempat ini," kata Ben Gvir dalam video yang direkam di kompleks tersebut dan diunggah di saluran Telegramnya.
"Di mana pun, orang-orang memahami bahwa Negara Israel adalah pemegang otoritas yang berdaulat. Masih banyak yang harus dilakukan, dan dengan pertolongan Tuhan, kami akan terus melangkah maju," ucapnya.
Penggerudukan tersebut bertepatan dengan Tisha B'Av atau hari puasa Yahudi untuk memperingati kehancuran Bait Suci Pertama dan Kedua, yang tahun ini diperingati mulai Rabu (22/7) malam hingga Kamis (23/7).
Penggerudukan ini melanggar status quo Masjid Al Aqsa yang telah berlaku selama beberapa dekade.
Kompleks Masjid Al Aqsa merupakan situs tersuci ketiga dalam Islam sekaligus lokasi paling suci dalam agama Yahudi, tempat dua bait suci kuno pernah berdiri.
Akses ke lokasi yang terletak di Yerusalem Timur ini diatur oleh kesepakatan "status quo" yang telah berlaku selama berpuluh-puluh tahun antara Israel dan Yordania, di mana sebuah lembaga keagamaan Yordania bertindak sebagai pengelola situs tersebut.
Berdasarkan kesepakatan, warga Yahudi diperbolehkan berkunjung namun tidak diizinkan untuk berdoa di sana. Sementara itu, kegiatan ibadah umat Muslim harus terus berlangsung tanpa gangguan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Ben Gvir dan sejumlah umat Yahudi berulang kali melanggar batasan-batasan tersebut, termasuk dengan melakukan doa secara terbuka di dalam kompleks. Aksi ini memicu kecaman dari Yordania, Otoritas Palestina yang berbasis di Ramallah, serta berbagai lembaga keagamaan Islam.
Yordania telah mengecam keras kunjungan terbaru Ben Gvir ke kompleks tersebut.
"Yordania dengan tegas menolak dan mengecam keras tindakan penerobosan yang terus dilakukan oleh para pejabat Israel, anggota Knesset, dan pemukim ekstremis ke Masjid Al Aqsa, serta peran polisi Israel dalam memfasilitasi tindakan-tindakan tersebut," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania, Fouad Al Majali, dalam sebuah pernyataan pada Kamis.
Ia menggambarkan tindakan tersebut sebagai "upaya yang tidak dapat diterima untuk memaksakan realitas baru di Masjid Al-Aqsa/Al-Haram Al-Sharif melalui upaya mengubah pengaturan yang ada saat ini."
Turki juga mengecam keras kunjungan Ben Gvir.
"Kami mengingatkan komunitas internasional bahwa mencegah tindakan provokatif pemerintahan Netanyahu serta upaya menciptakan situasi fait accompli (fakta yang sudah terjadi dan tidak dapat diubah) merupakan tanggung jawab bersama. Tindakan-tindakan tersebut melanggar status historis dan hukum situs-situs suci di Yerusalem, khususnya Masjid Al-Aqsa, yang merupakan milik eksklusif umat Islam," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.
Pemerintah Israel secara terbuka menegaskan bahwa kebijakan mereka mengenai status quo tidak berubah, meskipun insiden seperti ini terus memicu konflik Israel-Palestina.
Sejak menjabat, Ben Gvir telah mendatangi Masjid Al Aqsa lebih dari dua belas kali. Sebelumnya, ia bahkan memanfaatkan peringatan Tisha B'av di sana untuk menyerukan tindakan lebih keras terhadap warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat.
Selain menandai peristiwa hancurnya Bait Suci, hari puasa ini secara tradisional dikaitkan dengan serangkaian bencana yang konon menimpa bangsa Yahudi pada atau di sekitar tanggal yang sama sepanjang sejarah.
(blq/rds)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·