Menlu RI Akui Rakyat Palestina Belum Lihat Perubahan Nyata dari Upaya Perdamaian

1 jam yang lalu 3

Warga Palestina meratapi jenazah mantan polisi Abed Almalek Abu Jobein, di Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, pada 14 Juli 2026. Setidaknya tujuh warga Palestina syahid dalam serangan Israel terhadap sebuah kantor polisi di Jabalia, Gaza utara.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengakui bahwa upaya perdamaian dalam konflik Israel-Palestina belum membuahkan hasil. Warga Palestina, terutama di Jalur Gaza, masih menghadapi krisis dan membutuhkan pasokan bantuan kemanusiaan.

Hal itu disampaikan Sugiono saat menghadiri Ministerial Coordination Meeting of the Group of Eight Arab and Islamic Countries yang terdiri atas Indonesia, Arab Saudi, Mesir, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, Türkiye, dan Pakistan di New York, Amerika Serikat, Senin (21/9/2026). 

“Kita berkomitmen untuk tegaknya perdamaian, tetapi rakyat Palestina belum melihat perubahan nyata. Dalam jangka pendek, yang mereka butuhkan adalah mengalirnya bantuan kemanusiaan, gencatan senjata, dan berhentinya pembunuhan di Gaza,” ujar Sugiono dalam pertemuan tersebut, seperti dikutip dalam keterangan yang dirilis Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI.

Sugiono menekankan bahwa prioritas saat ini adalah memastikan upaya perdamaian dapat menghasilkan perubahan nyata di lapangan, terutama di tengah situasi Gaza yang justru terus memburuk. “Kita harus menyampaikan pesan yang kuat. Kita ingin melihat bahwa upaya yang kita lakukan benar-benar menghasilkan kemajuan dan perubahan bagi rakyat Palestina,” ucapnya.

Dia pun menekankan pentingnya negara-negara Group of Eight untuk terus menyuarakan pesan tegas yang seirama dan menjaga dorongan bersama bagi perdamaian Palestina. Sugiono mengatakan, Indonesia berkomitmen untuk terus melakukan pendekatan dengan berbagai mitra demi kemajuan proses perdamaian di Palestina. Partisipasi aktif masyarakat Palestina dinilai menjadi salah satu aspek utama agar perdamaian yang berkelanjutan dapat terwujud.

Pertemuan Tingkat Menteri Group of Eight merupakan kelanjutan dari koordinasi delapan negara Arab dan Islam yang diinisiasi pada High-Level Week Sidang Majelis Umum ke-80 PBB pada tahun 2025 untuk mencari langkah konkret penyelesaian isu Palestina. Sejak saat itu, koordinasi terus diperkuat melalui pelibatan berbagai mitra, termasuk Amerika Serikat. Hal itu guna menjaga momentum diplomatik dan mendorong langkah bersama menuju perdamaian di Gaza.

Pekan lalu Juru Bicara Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Pat Griffiths, mengatakan, meski intensitas konflik telah menurun sejak gencatan senjata tahun lalu, kematian dan kehancuran masih dihadapi warga Palestina di Jalur Gaza setiap harinya. Dia mengingatkan bahwa krisis di sana tetap berlangsung walaupun isu Gaza tak menjadi berita utama.

“Mari kita perjelas: kematian dan kehancuran bagi warga Palestina di Gaza berlanjut setiap hari. Penderitaan itu nyata, hadir dan di sini setiap hari - bahkan ketika Gaza tidak menjadi berita utama,” kata Griffiths yang sedang berkunjung ke Gaza, Jumat (18/9/2026), dilaporkan Anadolu Agency.

Dia menekankan bahwa saat ini warga Gaza masih kehilangan akses kesehatan, pangan, pendidikan, dan layanan atau kebutuhan dasar lainnya. “Banyak yang masih kehilangan orang yang dicintai, tidak tahu apakah mereka ditahan atau meninggal," ujarnya.

Griffiths mengatakan, selain pelayanan media, bantuan kritis yang saat ini sangat dibutuhkan warga Gaza adalah makanan, air bersih, dan tempat tinggal. 

Baca Artikel Selengkapnya