Menko Airlangga: Rupiah melemah karena gejolak global

1 bulan yang lalu 27
Kita monitor saja, karena ini kan gak bisa kita setiap hari reaktif. Kita monitor saja, dan itu BI (Bank Indonesia) tugasnya menjaga,

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai nilai tukar rupiah yang melemah hari ini dipengaruhi oleh gejolak global.

“Ya, kan, itu lihat gejolak, gejolak global juga (jadi pengaruh utama). Jadi, ya, kita monitor saja,” kata Menko Airlangga saat ditemui di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI, Jakarta, Kamis.

Adapun nilai tukar rupiah pada Kamis pagi melemah 108 poin atau 0,63 persen menjadi Rp17.289 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.

Lebih lanjut, Airlangga mengatakan, pemerintah terus melakukan peninjauan lebih lanjut agar dapat menemukan antisipasi, mengingat asumsi nilai tukar rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran (TA) 2026 adalah Rp16.500 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah melemah dipicu ketegangan AS-Iran yang tingkatkan harga energi

“Kita monitor saja, karena ini kan gak bisa kita setiap hari reaktif. Kita monitor saja, dan itu BI (Bank Indonesia) tugasnya menjaga,” ujar Menko Airlangga.

Di sisi lain, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan, pelemahan rupiah dipicu ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran yang mendorong kenaikan harga energi.

“Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ucapnya kepada ANTARA.

Melihat dari sisi domestik, lanjut dia, keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen mencerminkan fokus pada stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Baca juga: Rupiah pada Kamis pagi melemah jadi Rp17.289 per dolar AS

Untuk meredam volatilitas, BI disebut juga menaikkan ambang batas transaksi DomesticNon-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari sebelumnya 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.

BI juga menyampaikan bahwa kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan di pasar spot valuta asing sekaligus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan,” ujarnya.

Baca juga: BI yakin rupiah bisa menguat, didukung fundamental ekonomi RI

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya