Jakarta, NU Online
Kerupuk kulit menjadi salah satu pelengkap yang kerap dijumpai di warung nasi Padang. Di balik kerenyahannya, terdapat proses pembuatan yang panjang serta ketekunan pelaku usaha dalam menjaga kualitas produk.
NU Online berkesempatan mengunjungi tempat usaha kerupuk kulit milik Zubaedah (42) di Jalan Pancoran Barat VII D, Pancoran, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Bersama kakaknya, Ahmad Muhlis, Zubaedah meneruskan usaha keluarga yang dirintis ayah mereka sejak 1999. Hingga kini melalui Pabrik Kerupuk Kulit Cap Tiga Bintangi, mereka berupaya mempertahankan usaha tersebut agar tetap bertahan dan terus memiliki pelanggan.
Zubaedah menjelaskan, proses pembuatan kerupuk kulit membutuhkan waktu dua hingga tiga hari, mulai dari pengolahan bahan baku hingga penggorengan.
"Prosesnya panjang, bisa dua sampai tiga hari. Bahan baku biasanya datang saat subuh dengan jumlah sekitar 200 hingga 250 kilogram. Setelah itu, kulit dibersihkan, dibakar untuk menghilangkan bulunya, direbus, dipotong dadu, lalu dijemur hingga kering sebelum digoreng," katanya kepada NU Online.
Menurut Zubaedah, proses pengolahan menyebabkan berat bahan baku menyusut secara signifikan. Dari 200 hingga 250 kilogram kulit mentah, hasil kerupuk yang diperoleh sekitar 60 kilogram per hari.
"Dalam satu bulan, hasil produksi bisa mencapai 1.800 kilogram jika dihitung dari 60 kilogram per hari selama 30 hari. Penyusutannya banyak sekali," ujarnya.
Dalam hal pemasaran, Zubaedah tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung ke tempat usahanya. Ia telah memiliki pelanggan tetap dan memasok kerupuk kulit ke sejumlah restoran. Pemasarannya bahkan telah menjangkau Bandung dan Kalimantan.
"Bahkan, kemarin ada calon pembeli dari Arab Saudi yang meminta sampel untuk dijajaki pemasarannya," katanya.
Perempuan yang akrab disapa Bu Dada itu menerapkan harga berbeda untuk pembelian eceran dan pemasok (supplier). Perbedaan harga tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pemasok yang akan menjual kembali produk tersebut kepada konsumen.
"Untuk eceran, harga satu kilogram Rp140.000, setengah kilogram Rp70.000, dan seperempat kilogram Rp35.000. Untuk pemasok, harganya tentu lebih murah," tuturnya.
Dalam menjalankan usahanya, Zubaedah melibatkan lima pekerja dengan tugas berbeda. Empat orang membantu proses produksi, sedangkan satu pekerja lainnya bertugas mengantarkan pesanan sekaligus menangani proses penggorengan.
Meski telah memiliki pelanggan dari berbagai daerah, Zubaedah tetap menghadapi sejumlah tantangan. Kenaikan harga bahan penunjang, terutama minyak goreng dan plastik kemasan, menjadi salah satu kendala karena turut meningkatkan biaya produksi.
Di tengah tantangan tersebut, ia berharap usaha kerupuk kulit warisan keluarganya dapat terus bertahan dan berkembang.
"Semoga usaha ini dapat terus bertahan di tengah perubahan harga bahan baku dan kebutuhan produksi," harapnya.
Ia juga berharap semakin banyak konsumen mengenal produknya sehingga jangkauan pemasaran dan jumlah pelanggan terus bertambah.
"Mudah-mudahan konsumennya semakin banyak dan usaha ini semakin dikenal, supaya bisa menambah pelanggan," pungkasnya.

4 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·