Mengapa Hati Gelisah dan Sedih? Ini Penjelasan Ulama Tasawuf

6 jam yang lalu 8

Setiap manusia pasti pernah merasa sedih, baik karena sebab yang jelas maupun tanpa alasan yang bisa dikenali. Hati terasa berat, pikiran kalut, padahal tidak ada peristiwa nyata yang bisa dijadikan penjelasan.

Dalam penjelasan sufisme, kondisi semacam ini tidak serta-merta dianggap sebagai musibah, atau sekadar gejala psikologis seperti yang lazim dipahami saat ini. Para ulama justru membacanya sebagai bagian dari mekanisme rahmat Allah yang bekerja secara halus dalam diri seorang hamba.

Salah satu hadits yang menjadi pijakan pembahasan ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا كَثُرَتْ ذُنُوبُ الْعَبْدِ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُكَفِّرُهَا مِنَ الْعَمَلِ، ابْتَلاَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْحُزْنِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ

Artinya, "Apabila dosa seorang hamba semakin menumpuk, sementara ia tidak memiliki amal yang cukup untuk menebusnya, maka Allah 'Azza wa Jalla mengujinya dengan kesedihan agar dengannya dosa-dosa itu terhapus." (HR Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, [Beirut: 'Alam al-Kutub, 1998], Juz VI, hlm. 157).

Riwayat yang senada juga termuat dalam Syu'abul Iman karya Al-Baihaqi, dengan sedikit perbedaan redaksi. Di sana kata "al-huzn" (kesedihan) digantikan dengan "al-hamm" (kegelisahan):

إِذَا كَثُرَتْ ذُنُوبُ الْعَبْدِ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مِنَ الْعَمَلِ مَا يُكَفِّرِ ذُنُوبَهُ، ابْتَلَاهُ اللهُ بِالْهَمِّ يُكَفِّرُ بِهِ ذُنُوبَهُ

Artinya, "Apabila dosa seorang hamba semakin menumpuk, sementara ia tidak memiliki amal yang dapat menebus dosa-dosanya, maka Allah mengujinya dengan kegelisahan yang dengannya dosa-dosanya terhapus." (HR Imam Al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman, [Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 2003], Juz XII, hlm. 320).

Perbedaan lafadz ini disinggung oleh Al-Hafizh Al-Iraqi yang menegaskan bahwa redaksi al-huzn lebih shahih. Dari sisi sanad, Al-Mundziri menyatakan bahwa para periwayatnya tsiqah, kecuali Laits bin Abi Sulaim yang masih diperdebatkan. 

Al-Haitsami menambahkan bahwa Laits dikenal melakukan tadlis, sementara perawi lainnya dinilai tsiqah, sehingga Al-Munawi merumuskannya sebagai riwayat yang hasan (derajatnya valid, namun dengan pertimbangan). (Al-Munawi, Faidhul Qadir, merekam bahwa penyusun al-Jami' ash-Shaghir menghukuminya hasan (Muhammad ‘Abd ar-Ra’uf al-Munawi, Faidh al-Qadir, [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415 H/1994 M], cet. I, Jilid VII, hal. 105)..

Kendati hadits dipersoalkan status hukumnya, pesan dan hikmah yang dikandungnya dapat kita petik dan pedomani. Al-Munawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "tidak memiliki amal" bisa karena amalnya memang sedikit, atau karena dosanya begitu banyak sehingga amal yang ada tidak mencukupi untuk menutupnya. Dalam kondisi inilah Allah mendatangkan kesedihan sebagai bentuk penghapus dosa, bukan sebagai hukuman atas dosa-dosa.

Lebih jauh, Abu Thalib al-Makki dalam Qutul Qulub memberi penjelasan yang lebih dalam tentang makna kegelisahan, kesedihan, dan berbagai beban batin yang dialami seorang hamba. Menurutnya, tidak semua hukuman atas dosa tampak dalam bentuk musibah lahiriah. Ada kalanya bekas dosa justru hadir dalam bentuk gelisah, sedih, rasa sempit di dada, atau kepedihan batin yang tidak selalu mudah dijelaskan sebabnya.

Dalam bagian tersebut, Abu Thalib al-Makki mengutip satu khabar atau riwayat yang memiliki korelasi penting:

مِنَ الذُّنُوبِ ذُنُوبٌ لَا يُكَفِّرُهَا إِلَّا الْهَمُّ بِطَلَبِ الْمَعِيشَةِ

Artinya, “Di antara dosa-dosa terdapat dosa-dosa yang tidak dapat dihapus kecuali oleh kegelisahan dalam mencari penghidupan,” (Abu Thalib Muhammad bin Ali al-Makki, Qutul Qulub fi Mu‘amalat al-Mahbub wa Washf Thariq al-Murid ila Maqam at-Tauhid, ditahqiq, ditashih, dan dita'liq oleh ‘Ashim Ibrahim al-Kayyali al-Husaini asy-Syadzili ad-Darqawi, [Beirut-Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2009], Jilid I, hal. 313-314).

Ungkapan ini menunjukkan bahwa kegelisahan, dalam pandangan para ahli suluk, tidak selalu bermakna negatif. Ia bisa menjadi jalan pembersihan jiwa, penghapus kesalahan, dan bentuk kasih sayang Allah kepada seorang hamba agar tidak terus tenggelam dalam kelalaian.

Karena itu, kesedihan yang tiba-tiba datang tanpa sebab yang jelas boleh jadi merupakan tebusan atas kekeliruan yang pernah dilakukan, atau peringatan lembut agar hati kembali menghadap kepada Allah.

Abu Thalib al-Makki juga menjelaskan bahwa kegelisahan semacam ini dapat dipahami sebagai kesedihan akal ketika teringat beratnya pertanggungjawaban di hadapan Allah. Pada saat seseorang terlalu sibuk mengejar kebutuhan jasmani, kesenangan dunia, dan berbagai ambisi kehidupan, akal yang jernih seakan mengingatkan bahwa semua itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dari sinilah muncul rasa sedih, takut, dan gelisah yang sebenarnya menjadi tanda masih hidupnya hati seorang mukmin (hlm. 314).

Dalam pemahaman ahli tasawuf, sebagaimana dijelaskan Abu Thalib al-Makki, kegelisahan banyak bersumber dari dua hal besar. Mereka adalah kelalaian dalam ketaatan dan kuatnya ambisi terhadap dunia. Keduanya sama-sama meninggalkan bekas pada hati. 

Kelalaian membuat hati menjauh dari Allah, sedangkan ambisi dunia membuat seseorang mudah lupa terhadap tujuan akhir dari kehidupan manusia. Karena itu, kesedihan yang muncul akibat dua hal tersebut dapat menjadi sarana pembersihan, selama ia membawa seseorang kepada tobat, kesadaran, dan perbaikan diri.

Kesimpulannya, Islam mengajarkan cara pandang yang berbeda terhadap kesedihan dan kegelisahan. Gejala tersebut tidak selalu dinilai gangguan psikis yang perlu segera disingkirkan. Kesedihan bisa menjadi cara Allah merahmati hamba-Nya yang dosanya menumpuk namun amalnya belum cukup untuk menutupnya. 

Seperti yang diungkap Al-Munawi: "Duka dan kesusahan di dunia ini adalah rahmat dari Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." Wallahu a'lam.

----------
Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta.

Baca Artikel Selengkapnya