Jakarta (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan Indonesia akan mengoptimalkan kemitraan pertahanan "Memorandum Badr" yang ditandantangani bersama Pakistan, Qatar, dan Turki untuk meningkatkan kapabilitas produksi pertahanan nasional.
“Kita ingin meningkatkan kemampuan nasional, dan dalam hal ini kita bermitra dengan negara-negara yang sudah dipertimbangkan memiliki kualifikasi dan kompatibilitas dalam mendukung peningkatan kemampuan produksi Indonesia,” kata Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela dalam jumpa pers di Jakarta pada Kamis.
Dia menjelaskan "Memorandum Badr" secara khusus mengatur sejumlah bidang kerja sama, antara lain bidang riset dan pengembangan serta alih teknologi.
Kemudian, kolaborasi industri dan manufaktur untuk membuka peluang investasi dari kerja sama pembuatan alutsista yang tangguh dan kompetitif, serta pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan kapasitas SDM di bidang industri pertahanan.
“Langkah ini akan mendorong inovasi teknologi pertahanan melalui penggabungan kepakaran keempat negara,” kata Jubir Kemlu RI.
Indonesia menilai kemitraan tersebut merupakan upaya membangun kerja sama strategis di bidang pertahanan berdasarkan prinsip saling percaya, kesetaraan, timbal balik, dan kepentingan bersama.
Menurut Nabyl, Memorandum Badr juga sejalan dengan upaya Indonesia melakukan diversifikasi mitra internasional dalam pengembangan kerja sama pertahanan.
“Intinya, kemitraan ini bisa memperkuat posisi kita dalam rantai pasok global,” tambah Jubir Kemlu.
Adapun “Memorandum Badr” ditandatangani di Doha, ibu kota Qatar, oleh pejabat pertahanan dari empat negara. Wakil Menteri Pertahanan RI Yusuf Jauhari, Menteri Pertahanan Nasional Turkiye Yasar Guler, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Negara untuk urusan Pertahanan Qatar Sheikh Saud bin Abdulrahman bin Hasan Al Thani, serta Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif menjadi penandatangan kesepakatan tersebut.
Kepala Sekretariat Industri Pertahanan Turkiye Haluk Gorgun juga menandatangani kesepakatan tersebut bersama Menhan Guler.
Kesepakatan "Badr", yang berarti "bulan purnama", ditujukan untuk mendorong kerja sama dalam produksi militer, penguatan kapabilitas militer, dan dukungan kolaborasi dalam pelatihan, penelitian, dan pengembangan militer teknis.
Melalui kemitraan tersebut, keempat negara peserta akan mendorong proyek bersama dalam produksi, saling berbagi teknologi, riset dan pengembangan, serta latihan militer teknis.
Baca juga: Indonesia, Turkiye, Qatar, Pakistan teken pakta kerja sama pertahanan
Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·