Mata-Mata Zaman Now Tak Lagi Curi Dokumen, Ini Modus Barunya

25 menit yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gambaran mata-mata yang menyelinap ke laboratorium untuk mencuri dokumen rahasia semakin tidak memadai untuk menjelaskan spionase teknologi modern. Peringatan terbaru MI5 menunjukkan bahwa pengetahuan strategis kini dapat bergerak melalui saluran yang sepintas terlihat biasa: pendanaan penelitian, kolaborasi universitas, perekrutan profesional, hingga proyek akademik lintas negara.

Perubahan itu menjadi semakin jelas setelah badan keamanan Inggris tersebut menerbitkan Security Service Espionage Alert pada 30 September 2026. MI5 menyatakan China General Technology Research Institute (CGTRI) memiliki hubungan sangat kuat dengan Ministry of State Security (MSS) China dan menilai tujuan utama lembaga itu adalah mendanai penelitian yang secara langsung meningkatkan kemampuan teknis MSS untuk kegiatan spionase.

Lebih dari 100 akademisi yang terkait dengan Inggris, menurut MI5, telah berkontribusi pada proyek penelitian yang didanai MSS melalui CGTRI. Bidang yang disentuh bukan teknologi pinggiran, melainkan artificial intelligence, cybersecurity, covert communications systems, dan steganografi, sejumlah bidang yang dapat memiliki manfaat sipil sekaligus kegunaan keamanan dan intelijen.

Yang membuat kasus ini berbeda dari gambaran spionase klasik adalah kemungkinan sebagian akademisi bahkan tidak mengetahui siapa yang berada di belakang sumber akhir pendanaan tersebut. MI5 secara eksplisit mengatakan dalam sejumlah kasus peneliti mungkin tidak menyadari CGTRI mendanai proyek China yang mereka kontribusikan.

Karena itu, alert tersebut bukan tuduhan bahwa lebih dari 100 akademisi Inggris secara sadar bekerja sebagai mata-mata China. Justru persoalan yang disoroti MI5 adalah kemungkinan kegiatan akademik yang secara formal tampak normal dapat memberikan manfaat strategis kepada badan intelijen asing tanpa seluruh orang yang terlibat memahami struktur pendanaan akhirnya.

Reuters melaporkan alert tersebut sebagai langkah publik yang belum pernah dilakukan MI5 dalam bentuk seperti ini. The Guardian juga mencatat bahwa peringatan tersebut menimbulkan tekanan terhadap universitas Inggris untuk segera meninjau kerja sama mereka dengan CGTRI sekaligus membuka perdebatan lebih luas mengenai bagaimana universitas memeriksa sumber dana dan mitra riset asing.

Pertanyaan keamanan tidak lagi berhenti pada siapa agen asing yang mencoba mencuri sebuah rahasia, tetapi mulai bergeser pada siapa yang membiayai penelitian, siapa memperoleh akses kepada ilmuwan dan jaringan mereka, serta bagaimana hasil penelitian itu pada akhirnya dapat digunakan.

MI5 sendiri secara terbuka menyatakan ancaman negara asing tidak hanya diarahkan kepada pemerintah atau badan intelijen. Academic partnerships, supply chains, perusahaan teknologi, informasi komersial, dan penelitian STEM, terutama teknologi dual-use dan emerging technologies, juga dapat menjadi sasaran karena dapat membantu negara lain mempercepat kemampuan teknologi atau militernya.

National Protective Security Authority (NPSA), yang merupakan bagian dari MI5, bahkan menggambarkan kerentanan itu dengan sangat gamblang. Menurut pedoman Trusted Research, kerja sama internasional dapat memberi aktor negara akses terhadap manusia, jaringan teknologi informasi, serta partisipasi dalam penelitian sensitif tanpa harus terlebih dahulu melakukan spionase tradisional atau serangan siber.

Keterbukaan yang menjadi kekuatan dunia akademik dengan demikian sekaligus dapat menjadi titik kerentanannya. Peneliti terbiasa berbagi temuan, menghadiri konferensi, menjalankan riset bersama, menerima visiting researchers dan membangun jaringan lintas negara; sementara badan keamanan harus memikirkan apakah akses yang sah itu dapat digunakan untuk memperoleh teknologi, kekayaan intelektual, atau pengetahuan bernilai strategis.

NPSA secara khusus menyebut bahwa keterlibatan akademik tradisional dapat menjadi jalur bagi badan intelijen asing untuk mendekati seseorang, termasuk melalui konferensi atau research placement. Lembaga itu juga memperingatkan bahwa aktor negara dapat mengeksploitasi sifat kolaboratif sektor akademik untuk memperoleh data penelitian, intellectual property, ide, dan teknik.

Dengan demikian, dalam spionase teknologi kontemporer, konferensi tidak harus menjadi tempat penyerahan amplop berisi dokumen rahasia agar memiliki nilai intelijen. Ia dapat menjadi tempat mengenali pakar, membangun hubungan profesional, memahami siapa menguasai teknologi tertentu, atau membuka jalan menuju proyek bersama yang kemudian memberikan akses lebih luas.

Perubahan modus itu bukan hanya terlihat dalam dunia penelitian. Empat bulan sebelum alert CGTRI, pada 3 Juni 2026, badan intelijen Five Eyes, MI5 Inggris, FBI Amerika Serikat, ASIO Australia, CSIS Kanada dan NZSIS Selandia Baru, mengeluarkan bulletin bersama Safeguarding Our Secrets mengenai operasi perekrutan daring yang mereka kaitkan dengan intelijen militer China.

Bulletin tersebut menjelaskan sebuah pola yang jauh dari adegan pertemuan agen rahasia di tempat gelap. Perwira intelijen disebut menyamar sebagai recruiter atau consultant untuk perusahaan samaran yang terlihat sah, kemudian memasang pekerjaan melalui platform profesional dan situs gig work seperti LinkedIn, Indeed, dan Upwork.

CV pelamar kemudian dapat diseleksi berdasarkan kemungkinan akses mereka terhadap informasi sensitif. Setelah kontak awal, calon direkrut untuk membuat laporan yang tampak seperti pekerjaan konsultasi biasa, sebelum permintaan berkembang menuju informasi yang lebih eksklusif atau tidak tersedia untuk publik.

Baca Artikel Selengkapnya