Makkah, NU Online
Angin dari barisan bukit batu berwarna kuning pucat bercampur hitam bertiup ke lembah, menyambut kami saat tiba di pelataran parkir Masjid Sayyidah Aisyah di Tan’im, sebelah utara Kota Makkah. Embusan angin itu menghadirkan sensasi seperti berdiri tepat di depan mulut tungku menyala.
“Ini jam tiga sore lho,” kata Hj. Erti Herlina, Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daerah Kerja Makkah. “Lihat, suhunya menembus 43 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban hanya 16 persen,” lanjutnya sambil menunjukkan layar ponselnya.
Kami lalu melangkah ke beranda masjid yang dinaungi atap. Namun, angin dari bukit-bukit batu itu seolah tetap mengikuti, membawa hawa panas yang menusuk kulit. Meski demikian, sensasi itu tampaknya tak terlalu dipedulikan orang-orang di beranda.
Di tempat itu, jamaah hilir mudik dari area parkir menuju tempat wudhu, berpapasan dengan mereka yang hendak memasuki masjid. Kaum perempuan berbaju kurung berkumpul di bagian beranda untuk bersiap menunaikan shalat Ashar, sementara para pria tanpa penutup kepala dengan tubuh berbalut kain ihram memasuki ruang utama masjid.
Azan berkumandang pukul 15.36. Kami mengambil air wudhu dan segera masuk ke dalam masjid untuk mengikuti shalat berjamaah. Ruang shalat yang hanya berjarak beberapa meter dari beranda itu seolah berada di musim berbeda. Pendingin ruangan seperti memisahkan jarak ratusan kilometer.
Orang-orang dengan warna kulit, bahasa ibu, dan postur tubuh berbeda larut dalam gerakan dan bacaan yang sama dalam shalat Ashar berjamaah.
Selepas shalat, imam menyampaikan taushiyah melalui pengeras suara. Dari beberapa penggal kalimat yang terdengar, tampaknya ia sedang menjelaskan hakikat talbiyah. Berkali-kali terdengar ucapan, “Labbaykallahumma labbayk...” menggema memenuhi relung masjid.
Namun, jamaah memiliki cara masing-masing dalam merespons. Ada yang tetap duduk menyimak dan mendekati imam yang duduk di kursi. Sebagian menyimak sambil merekam. Ada pula yang memilih mengundurkan diri, lalu berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil.
Di salah satu sudut belakang terbentuk beberapa kelompok jamaah yang duduk melingkar. Di sudut lain, seorang jamaah mengajarkan lafal talbiyah kepada dua orang di hadapannya. Sementara di bagian berbeda, jamaah tampak komat-kamit menghadap ponsel; sebagian merekam video atau sekadar berfoto untuk mengabadikan momen yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup.
Di bagian tengah masjid, kelompok jamaah yang baru selesai berwudhu kembali menegakkan shalat Ashar. Saf jamaah terus memanjang dan membesar, dipenuhi makmum dari beragam bangsa dan bahasa.
Di luar masjid, area parkir tak pernah sepi. Bus, taksi, mobil pribadi, dan kendaraan sewaan datang dan pergi silih berganti.
Favorit Miqat Jamaah Haji Indonesia
Di tengah lalu lalang jamaah dari berbagai negara itu, Tan’im memiliki tempat tersendiri di hati jamaah Indonesia.
Hj. Erti Herlina mengatakan, Masjid Sayyidah Aisyah menjadi lokasi yang banyak dipilih jamaah haji Indonesia untuk melaksanakan umrah sunah. Masjid tersebut menyediakan fasilitas kamar mandi untuk berganti pakaian ihram dan memiliki jarak yang relatif dekat ke Masjidil Haram, sekitar 7,5 kilometer atau sekitar 15-20 menit perjalanan.
Menurutnya, Masjid Tan’im merupakan lokasi miqat terdekat bagi penduduk Makkah maupun orang yang sementara tinggal di kota tersebut dibandingkan Ji’ranah dan Hudaibiyah.
Dalam catatan NU Online pada liputan musim haji 2022, masjid tersebut juga disebut sebagai lokasi favorit jamaah haji Indonesia untuk mengambil miqat umrah sunah.
Tak heran, jamaah asal Indonesia mudah ditemui di lokasi itu. Kami, misalnya, mendapati rombongan jamaah haji asal Aceh Besar, BTJ Kloter 5, yang dipimpin Djasnawi tengah melafalkan niat umrah bersama para jamaahnya.
Menurut Hj. Erti, waktu Ashar menjadi saat terbaik mengambil miqat bagi jamaah haji Indonesia yang hendak melaksanakan umrah sunah. Panas memang masih terasa, tetapi relatif lebih ramah dibanding waktu Dhuhur.
Sementara pada malam hari, suhu memang lebih bersahabat bagi jamaah Indonesia. Namun, pada saat itu pula jamaah dari berbagai negara mulai memadati area masjid sehingga jamaah lansia lebih mudah terpisah dari rombongan. Karena itu, ia menganjurkan jamaah mengambil miqat selepas Ashar.
“Karena sehabis Maghrib atau Isya itu semakin ramai di sini,” katanya.
Selain itu, ia mengajak jamaah haji Indonesia untuk tidak terlalu sering melaksanakan umrah sunah. Sebab, puncak ibadah haji atau wukuf di Arafah tinggal menghitung pekan. Jamaah diimbau lebih memprioritaskan stamina dan kesehatan untuk menghadapi puncak ibadah haji daripada terlalu sering melaksanakan umrah sunah.
Sekilas Masjid Sayyidah Aisyah
Berdasarkan catatan NU Online pada 2022, Tan’im merupakan jalur perlintasan dari Makkah menuju Madinah. Di pinggir jalan raya, tepat di batas Tanah Haram, berdiri salah satu masjid bersejarah, yakni Masjid Sayyidah Aisyah.
Hj. Erti menjelaskan, nama Masjid Sayyidah Aisyah diambil dari nama istri Nabi Muhammad SAW, Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar. Pada saat Haji Wada’, Aisyah tidak dapat melaksanakan umrah bersama rombongan karena sedang haid.
Dalam catatan sejarah sebagaimana ditulis NU Online pada liputan 2022, Aisyah diperbolehkan mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji kecuali thawaf. Setelah suci dari haid, Nabi Muhammad SAW meminta Abdurrahman, saudara Aisyah, untuk mengantarkannya menuju Desa Tan’im guna mengambil miqat di daerah tersebut.
“Peristiwa yang berlangsung pada tahun 9 Hijriyah itu menjadi dasar Tan’im sebagai tempat miqat. Inilah yang menjadi alasan mengapa masjid di situ disebut sebagai Masjid Aisyah,” tulis NU Online.
Masjid Tan’im mengalami perbaikan dari masa ke masa, dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya. Renovasi terakhir dilakukan pada masa Raja Fahd bin Abdul Aziz dengan biaya mencapai 100 juta riyal.
Kini masjid tersebut memiliki luas sekitar 84 ribu meter persegi dengan luas bangunan mencapai 6.000 meter persegi. Beragam fasilitas tersedia untuk memudahkan jamaah mengambil miqat kapan saja.
“Masjid ini buka selama 24 jam, yang memungkinkan siapa pun mengambil miqat sewaktu-waktu,” tulis NU Online.
Menjelang petang, jamaah terus berdatangan. Talbiyah bergema bersahut-sahutan dari sudut-sudut masjid, sementara bus dan taksi silih berganti menurunkan orang-orang yang hendak memulai ihram mereka dari batas Tanah Haram.

6 jam yang lalu
3





English (US) ·
Indonesian (ID) ·