Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) Maroko buka suara usai puluhan ribu migran dari negara tersebut berenang menyeberang ke wilayah Ceuta milik Spanyol.
Dalam pernyataan resmi, Kemdagri Maroko menyebut gelombang migrasi di Ceuta, Afrika Utara, dipicu oleh disinformasi di media sosial, aktivitas jaringan perdagangan orang, serta kesalahan tafsir pada putusan Mahkamah Agung (MA) Spanyol baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 8 Juli, MA Spanyol menyatakan bahwa migran yang dicegat di laut tidak bisa dikembalikan ke negara asal begitu saja. Putusan ini tidak berlaku bagi mereka yang memasuki Spanyol melalui jalur darat.
Menurut Kemdagri Maroko, karena hal tersebut, sekitar 40 ribu orang nekat masuk lewat jalur laut ke wilayah otonom milik Spanyol.
Pernyataan Kemdagri Maroko ini disampaikan setelah Uni Eropa ribut gegara puluhan ribu migran memaksa masuk ke Spanyol via Ceuta. Aksi itu terjadi pada Rabu hingga Jumat pekan lalu.
Menurut catatan Kemdagri Spanyol, sekitar 50 ribu migran tercatat berusaha memasuki wilayah mereka. Sebanyak 72 orang tewas, mayoritas karena tenggelam.
Sebanyak 22 negara Uni Eropa kompak mengutuk migrasi massal ini karena dianggap menciptakan persepsi bahwa masuk secara ilegal ke Eropa diperkenankan.
Italia bahkan mengambil langkah tegas dengan menangguhkan kebijakan perbatasan terbuka Schengen dengan Spanyol. Madrid mengutuk langkah tersebut.
Prancis dan Portugal juga langsung menambah pasukan dan memperketat perbatasan baik di darat maupun maritim.
Kemdagri Spanyol sementara itu menyatakan bahwa per Sabtu (1/8), "hampir semua" migran sudah dikembalikan ke Maroko dan situasi di Ceuta kembali normal.
(blq/dna)

2 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·