Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah berada di Irak selama 12 tahun, Amerika Serikat mengumumkan telah menyelesaikan penarikan seluruh pasukan dari Irak pada Rabu (30/9) usai menjalankan misi memerangi ISIS.
Juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan pasukan dan peralatan terakhir sudah diangkut dari pangkalan udara di Irbil, Irak Utara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tonggak sejarah ini mencerminkan keberhasilan kampanye selama 12 tahun yang mengalahkan ISIS sebagai ancaman militer terorganisir di Irak dan di seluruh wilayah," kata Parnelll, dikutip Al Jazeera.
"Ini juga menandai transisi dari misi koalisi masa perang ke upaya keamanan yang dipimpin Irak yang didukung oleh hubungan keamanan bilateral yang lebih normal."
Parnell menambahkan bahwa militer AS akan terus memberikan pelatihan dan dukungan intelijen yang tepat sasaran ke Irak.
Apakah Irak mampu?
Pertanyaan banyak analisis adalah apakah Irak mampu mengelola keamanan dalam negerinya setelah pasukan AS pergi?
AS menyatakan bahwa pasukan keamanan Irak, termasuk Peshmerga Kurdi, telah mengembangkan kemampuan untuk memimpin perang melawan terorisme. Namun, berakhirnya kehadiran militer juga menghilangkan beberapa kemampuan pertahanan yang selama ini diandalkan oleh pasukan Irak dan Kurdi.
Renad Mansour, wakil direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara serta direktur Inisiatif Irak di Chatham House, mengatakan bahwa pasukan Irak telah menunjukkan kemampuan mereka untuk membendung ISIS tanpa dukungan militer langsung dari AS.
"Pasukan keamanan Irak sekarang secara umum mampu membendung Daesh (ISIS) tanpa dukungan militer langsung dari AS," katanya kepada Arab News.
"Kita telah melihat hal ini teruji secara efektif sejak September lalu, ketika kehadiran Operasi Inherent Resolve meninggalkan Baghdad, tanpa adanya penurunan signifikan dalam pertempuran melawan Daesh."
Meski masih ada kelemahan, terutama di bidang intelijen, pengawasan, dan kemampuan khusus, kata Mansour. Namun, ia berpendapat bahwa ISIS bukan lagi tantangan keamanan utama Irak.
Kolonel purnawirawan Angkatan Darat AS, Myles B. Caggins III, seorang peneliti senior non-residen di New Lines Institute dan mantan juru bicara Koalisi Global untuk mengalahkan ISIS di Irak dan Suriah, juga mengatakan bahwa pasukan Irak dan Kurdi dapat mencegah ISIS merebut kembali wilayah tersebut.
"Tanpa bantuan langsung dari AS dan Koalisi Global, Pasukan Keamanan Irak dan Peshmerga mampu mencegah ISIS memobilisasi kelompok pejuang dalam jumlah besar dan merebut desa-desa," katanya kepada Arab News.
Namun Caggins mengatakan kelompok itu tetap menjadi ancaman, merujuk pada bentrokan baru-baru ini antara Layanan Kontra Terorisme elit Irak dan sekelompok kecil tersangka teroris di Kirkuk.
(isa/bac)

1 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·