Mamdani Ditentang Kelompok Sosialis, Menolak Pecat Kepala Polisi New York

1 jam yang lalu 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wali Kota New York Zohran Mamdani menghadapi tekanan politik dari kelompok sosialis demokrat yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama pendukungnya. Namun, politikus berhaluan kiri tersebut menolak desakan untuk memecat Komisaris Kepolisian New York (NYPD) Jessica Tisch, sekalipun tuntutan itu datang dari organisasi politik yang turut mengantarkannya memenangkan pemilihan wali kota pada 2025.

Keputusan Mamdani memperlihatkan semakin terbukanya perbedaan antara agenda ideologis pendukungnya dan kebijakan yang dijalankan pemerintahannya. Perselisihan tersebut menguat setelah penembakan seorang imigran oleh petugas federal Amerika Serikat memicu demonstrasi, bentrokan dengan polisi, dan tuntutan perubahan besar dalam pengelolaan keamanan New York.

"Jessica Tisch adalah komisaris polisi. Saya tidak memiliki rencana untuk mengubahnya," kata Mamdani kepada wartawan di Queens, Selasa (13/10/2026), sebagaimana dilaporkan CNN dan ABC7 New York.

Pernyataan itu disampaikan ketika sejumlah tokoh Democratic Socialists of America (DSA) mendesak pemecatan Tisch karena menilai kepolisian New York gagal melindungi warga dari tindakan aparat imigrasi federal. Organisasi tersebut juga menuntut pembubaran Strategic Response Group (SRG), satuan khusus NYPD yang menjadi sasaran kritik karena pendekatannya dalam menangani demonstrasi.

Mamdani tidak hanya menolak tuntutan pergantian pimpinan polisi, tetapi juga membela rekam jejak Tisch. Menurutnya, perempuan yang menjabat komisaris kepolisian sejak pemerintahan Wali Kota Eric Adams itu berhasil membenahi persoalan korupsi di jajaran pimpinan NYPD sekaligus mempertahankan penurunan angka kriminalitas.

"Alasan saya memutuskan mempertahankan Jessica Tisch sebagai komisaris polisi adalah rekam jejaknya dalam memberantas korupsi di jajaran atas NYPD, sekaligus menurunkan angka kejahatan di seluruh kota," ujar Mamdani.

Keputusan mempertahankan Tisch sebenarnya sudah mengundang pertanyaan sejak Mamdani mempersiapkan pemerintahannya pada November 2025. Tisch dipandang mewakili pendekatan kepolisian yang lebih moderat dan konvensional, sedangkan Mamdani memenangkan pemilihan dengan janji mengubah cara negara menangani persoalan keamanan publik.

Namun, kerja sama keduanya selama sekitar sepuluh bulan pertama pemerintahan Mamdani menghasilkan sejumlah indikator keamanan yang dijadikan alasan untuk mempertahankan kepemimpinan kepolisian. Perbedaan orientasi politik di antara mereka belum membuat Mamdani bersedia mempertaruhkan kesinambungan pengelolaan keamanan kota.

Data resmi NYPD yang diumumkan pada 6 Oktober menunjukkan jumlah pembunuhan di New York sepanjang sembilan bulan pertama 2026 mencapai 203 kasus, turun dari 253 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah insiden penembakan juga menurun dari 553 menjadi 489 kasus, sedangkan korban penembakan berkurang dari 694 menjadi 594 orang.

Angka tersebut merupakan tingkat terendah yang tercatat untuk periode sembilan bulan pertama tahun berjalan dalam kategori pembunuhan, insiden penembakan, dan korban penembakan. Secara keseluruhan, tujuh kategori kejahatan besar yang dipantau kepolisian turun 6,6 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Bagi Mamdani, capaian tersebut menjadi alasan penting untuk mempertahankan Tisch di tengah meningkatnya tekanan politik. Akan tetapi, bagi sejumlah pendukung sosialisnya, penurunan kriminalitas belum menjawab persoalan penggunaan kekuatan oleh aparat maupun perlindungan terhadap hak warga yang melakukan demonstrasi.

Perselisihan itu mencapai titik baru setelah seorang agen Immigration and Customs Enforcement (ICE), lembaga federal yang menangani penegakan hukum imigrasi, menembak Oscar Belgal, pria berusia 28 tahun asal Republik Dominika, pada Kamis (8/10/2026). Penembakan berlangsung di kawasan Marble Hill, New York, ketika seorang anak berusia lima tahun berada di dalam kendaraan bersama Belgal.

Belgal mengalami luka tembak dan dibawa ke rumah sakit, sedangkan anak tersebut dilaporkan tidak mengalami cedera fisik. Peristiwa itu segera memicu demonstrasi yang menentang operasi imigrasi pemerintahan Presiden Donald Trump dan memperbesar ketegangan antara aparat federal dengan masyarakat New York.

Baca Artikel Selengkapnya