Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan posisi Malaysia menolak wilayahnya dijadikan poin transit bagi kapal kargo apapun yang berkontribusi terhadap operasi militer Israel. Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di X, Selasa (15/9/2026), Anwar mengatakan Malaysia tetap berkomitmen mencegah negaranya dijadikan alat mendukung agresi atau aksi menindas orang-orang tak bersalah.
"Posisi Malaysia jelas dan tegas. Kami tidak akan memperbolehkan negara kami sebagai sebuah saluran bagi pengiriman apapun yang mendukung atau berkontribusi untuk kapabilitas militer Israel dan kekejaman terhadap warga Palestina dan nyawa tak bersalah lainnya," kata Anwar dikutip Bernama.
"Pengiriman mencurigakan apapun akan menjadi subjek inspeksi dan investigasi sesuai dengan hukum Malaysia. Di mana kesalahan ditemukan, aksi menentukan akan diambil," ujar Anwar menambahkan.
Pernyataan PM Anwar dikeluarkan bersama dengan sebuah laporan media asing yang menyoroti sebuah level baru pengawasan terhadap pengiriman via kapal yang bertolak dari Israel oleh Malaysia. Dilaporkan Bloomberg, otoritas Malaysia menyita tiga kapal kontainer yang akan bertolak ke Israel dari Pelabuhan Tanjung Pelepas.
Tiga kapal itu disita pada 19 Agustus saat hendak menuju Palabuhan Ashdod dan bermuatan komponen sepeda listrik dari pabrikan China, Chongqing Mobimax Technology Co. Otoritas Malaysia melakukan investigasi muatan kontainer dan tiga kapal itu masih berada di Pelabuhan Tanjung Pelapas hingga sebulan ke depan.
Sebelumnya pada 7 Agustus, Malaysia juga menahan kapal kontainer yang dicurigai bermuata senjata api karena alamat pengiriman ditujukan untuk Elbit Systems.
sumber : Antara

1 jam yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·