Made in Lebanon, Drone Serat Optik Hizbullah Buat IDF Kocar-Kacir

5 jam yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Gerakan perlawanan Lebanon, Hizbullah, menerbitkan sebuah video pada hari Sabtu yang menunjukkan apa yang mereka gambarkan sebagai kemampuan manufaktur militer dalam negeri. Video itu muncul seiring laporan kian kewalahannya tentara Israel menghadapi drone Hizbullah.

Video tersebut, berjudul ‘Proudly Made in Lebanon’, menampilkan para pejuang Perlawanan yang beroperasi di dalam fasilitas produksi tersembunyi yang dilengkapi dengan mesin yang digunakan untuk perakitan drone dan pembuatan senjata.

Dilansir the Palestine Chronicle, Rekaman menunjukkan para pejuang menggunakan alat solder, peralatan las, dan sistem elektronik sambil merakit komponen drone serangan satu arah. Gambar mendiang pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah dan Sayyed Hashem Safieddine juga terlihat di dalam fasilitas tersebut.

Rekaman tersebut tampaknya bertujuan untuk memperkuat narasi Hizbullah tentang swasembada militer meskipun ada serangan Israel yang terus berlanjut dan klaim berulang kali oleh pejabat Israel bahwa kemampuan kelompok tersebut telah sangat melemah.

Menurut laporan tersebut, Hizbullah telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mengembangkan jaringan produksi lokal untuk drone, roket, dan sistem berpemandu presisi di wilayah Lebanon.

Dalam beberapa pidato sebelum pembunuhannya, Sayyed Hassan Nasrallah menekankan infrastruktur dalam negeri Perlawanan dan kemampuan untuk mempertahankan produksi dan logistik bahkan dalam kondisi blokade atau masa perang.

Dia berulang kali menampilkan Hizbullah sebagai kekuatan Lebanon dengan kemampuan manufaktur, pasokan, dan komando independen yang beroperasi dari dalam Lebanon sendiri.

Sementara, media-media Israel terus melaporkan tentara penjajah mulai kewalahan diserbu drone Hizbullah. Di langit kota Taybeh di Lebanon, sistem pertahanan Israel yang bernilai miliaran dolar menjadi tidak berguna karena adanya gulungan kabel, menurut laporan harian Israel Yedioth Ahronoth (Ynet).

Saat helikopter evakuasi medis Israel bergegas menyelamatkan tentara yang terluka dalam serangan pesawat tak berawak, pesawat tak berawak (UAV) lainnya meluncur ke arah mereka. Karena kegagalan penanggulangan elektronik, tentara di darat terpaksa mengarahkan senapan mereka ke langit, menembaki ancaman yang datang sebelum meledak hanya beberapa meter jauhnya.

Situasi kacau ini menggarisbawahi kenyataan baru yang mematikan dalam konflik yang semakin meningkat. Kelompok Hizbullah Lebanon telah memperkenalkan senjata baru ke medan perang: drone serangan pandangan orang pertama (FPV) yang dipandu oleh kabel serat optik fisik.

Tidak seperti drone tradisional yang mengandalkan frekuensi radio atau sinyal satelit, pesawat yang dimodifikasi ini ditambatkan langsung ke stasiun kendali operator melalui benang serat optik. Kabel tersebut dapat memanjang antara 10–30 km [6,2 hingga 18,6 mil], memungkinkan drone mencapai target yang jauh.

Karena tidak ada sinyal nirkabel untuk dicegat, drone tersebut kebal terhadap sistem gangguan peperangan elektronik (EW) canggih milik Israel. Selain itu, pesawat ini dibuat dari fiberglass yang ringan, sehingga hampir tidak memancarkan sinyal termal atau radar.

Hassan Jouni, seorang analis militer, mencatat bahwa hal ini membuat sistem peringatan dini tradisional menjadi buta. Drone tersebut bahkan berhasil melewati sistem perlindungan aktif “Trophy” yang dipasang pada tank Merkava Israel, yang dirancang untuk mendeteksi dan mencegat proyektil yang masuk.

Baca Artikel Selengkapnya