Lontarak Pangissengeng, Manuskrip di Sulawesi Selatan Ungkap Makna Tanda Alam

1 jam yang lalu 1

‎Maros, NU Online

Aktivitas gunung api dan berbagai fenomena alam yang terjadi belakangan kembali mengingatkan masyarakat pada pengetahuan yang diwariskan leluhur melalui naskah lontara. Di Sulawesi Selatan, salah satu sumber pengetahuan tersebut terdapat dalam Lontarak Pangissengeng Daerah Sulawesi Selatan.

‎Naskah itu antara lain mencatat pengetahuan masyarakat mengenai berbagai fenomena alam, termasuk gempa bumi. Salah satu bagian yang menarik adalah catatan yang menghubungkan waktu terjadinya gempa dengan tafsir tertentu berdasarkan bulan dan waktu kejadian.

‎Pengetahuan semacam itu juga masih menjadi bagian dari ingatan masyarakat di Dusun Padaria, Desa Ampekale, Kabupaten Maros. Sejumlah manuskrip lontara masih disimpan oleh masyarakat setempat, sedangkan cerita mengenai pengetahuan orang-orang terdahulu diwariskan secara lisan.

‎Sitti Hapipah, salah seorang tetua yang masih hidup di Dusun Padaria, mengatakan masyarakat dahulu memiliki kebiasaan memperhatikan berbagai kejadian yang berlangsung di lingkungan sekitar.

‎“Orang-orang dahulu selalu memperhatikan kejadian yang ada di sekitarnya. Kalau ada sesuatu yang terjadi, mereka mengingatnya dan menceritakannya kepada anak cucu,” tuturnya pada Selasa (8/9/2026).

‎Menurut Sitti, kebiasaan tersebut membuat berbagai pengetahuan tentang kehidupan dan lingkungan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Salah satu catatan dalam Lontarak Pangissengeng berkaitan dengan gempa yang terjadi pada bulan Rabiul Awal. Dalam naskah tersebut disebutkan:

‎“Na rekko uleng Rabbilewaleng ngi na wewang ri subu e, tanra malupuk i tau we ri lalem-panuwa.”

“Kalau bulan Rabiul Awal terjadinya gempa bumi pada waktu Subuh, tanda orang-orang akan kelaparan di dalam negeri.”

‎Pada bagian berikutnya, naskah juga mencatat tafsir berbeda berdasarkan waktu terjadinya gempa. Gempa pada waktu Dzuhur disebut sebagai pertanda datangnya orang dari tempat jauh. Sementara gempa pada waktu Ashar, Maghrib, dan Isya masing-masing memiliki tafsir tersendiri dalam catatan tersebut.

‎Catatan itu memperlihatkan bahwa masyarakat masa lalu tidak hanya memperhatikan peristiwa alam, tetapi juga waktu ketika peristiwa tersebut berlangsung.

‎Firman, yang menyimpan sejumlah manuskrip lontara di Dusun Padaria, mengatakan bahwa naskah-naskah tersebut merupakan bagian dari ingatan masyarakat yang perlu dirawat dan dipelajari.

‎“Lontara itu menyimpan ingatan orang-orang tua kita. Kalau hanya disimpan, generasi muda tidak akan tahu apa yang pernah dicatat oleh leluhur. Yang penting sekarang bagaimana manuskrip itu dirawat, dibaca, kemudian dikaji,” ujarnya.

‎Menurut Firman, keberadaan manuskrip lontara di tengah masyarakat memberikan kesempatan bagi generasi sekarang untuk mengetahui pengetahuan yang berkembang pada masa lalu. Pengetahuan tersebut, lanjutnya, tidak cukup hanya disimpan sebagai benda peninggalan. Isi manuskrip juga perlu dibaca dan dipahami agar dapat diketahui konteks sejarah dan kebudayaannya.

Sementara itu, Peneliti kebudayaan Bugis Muhammad Tang mengatakan bahwa lontara perlu dibaca secara kontekstual. Catatan mengenai gempa, menurutnya, tidak serta-merta dapat disebut sebagai ramalan terhadap peristiwa yang terjadi pada masa sekarang.

‎“Lontara merupakan bagian dari sistem pengetahuan masyarakat. Karena itu, kita perlu membacanya secara kontekstual. Jangan langsung menjadikannya sebagai ramalan, tetapi jangan pula mengabaikannya sebagai sesuatu yang tidak bernilai,” kata Direktur Pascasarjana STAI Al-Furqan Makassar.

‎Ia mengatakan Lontarak Pangissengeng dapat menjadi bahan kajian untuk mengetahui bagaimana masyarakat Sulawesi Selatan pada masa lalu mengamati alam dan mencatat berbagai pengalaman yang mereka anggap penting.

‎“Yang harus dilakukan bukan hanya menyimpan manuskrip, tetapi juga mendokumentasikan, mentransliterasi, menerjemahkan, dan mengajarkannya kepada generasi muda. Dengan begitu, lontara menjadi sumber pengetahuan yang hidup,” lanjutnya.

‎Hal lain yang menarik dalam Lontarak Pangissengeng adalah penggunaan nama-nama bulan dalam kalender Islam. Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Ramadhan, Syawal, hingga Dzulhijjah muncul dalam sejumlah bagian naskah.

‎Penggunaan penanggalan Islam tersebut menjadi bagian dari kajian mengenai perkembangan pengetahuan masyarakat Sulawesi Selatan setelah Islam berkembang di kawasan ini.

‎Menjaga ingatan leluhur

‎Bagi masyarakat Padaria, keberadaan manuskrip lontara menjadi bagian dari kekayaan pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

‎Sitti Hapipah berharap generasi muda tidak kehilangan hubungan dengan pengetahuan yang pernah dimiliki masyarakat terdahulu.

‎“Orang-orang dahulu punya pengetahuan. Kita sekarang jangan sampai melupakannya. Kalau tidak dipelajari dan diwariskan, pengetahuan itu bisa hilang,” katanya.

‎Menurutnya, mengenal lontara bukan berarti generasi muda harus meninggalkan perkembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, warisan tersebut dapat dipelajari untuk mengetahui bagaimana masyarakat sebelumnya memahami kehidupan dan lingkungan.

‎Muhammad Tang juga mendorong agar manuskrip lontara yang masih berada di tengah masyarakat mendapatkan perhatian lebih serius, termasuk melalui dokumentasi dan kajian. Upaya tersebut penting karena sebagian manuskrip berada dalam kondisi yang rentan dan hanya diketahui oleh orang-orang tertentu.

"Ketika generasi yang mengetahui cara membaca atau memahami manuskrip tersebut semakin berkurang, pengetahuan yang terkandung di dalamnya juga berisiko tidak tersampaikan kepada generasi berikutnya," katanya.

Baca Artikel Selengkapnya