Jakarta, NU Online
Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, diharapkan tidak hanya memilih Rais Aam PBNU dan Ketua Umum PBNU, tetapi juga menghasilkan keputusan yang mampu menjawab problematika NU di abad kedua.
Pendiri Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, memaparkan lima kelompok yang perlu menjadi prioritas NU ke depan, yakni anak muda, masyarakat perkotaan, warga berpendidikan dan profesional, kelas menengah, serta perempuan.
"Ada lima situasi yang saat ini dihadapi warga NU. Pertama, anak muda. Kedua, perkotaan. Itu yang menurut saya harus menjadi address utama program NU dari muktamar ini," kata Hasanuddin dalam diskusi Menyoal Politik Transaksional di Muktamar NU di kanal YouTube Padasuka TV yang dilihat pada Selasa (18/8/2026).
Ketiga, kelompok berpendidikan dan profesional. Hasanuddin mengatakan banyak warga NU kini memiliki latar belakang pendidikan yang baik, tidak hanya di bidang agama. Mereka juga banyak yang berkiprah sebagai profesional, teknokrat, ahli kecerdasan buatan (AI), hingga ahli robotik.
"Dan itu belum tersentuh oleh NU," ungkap salah satu Ketua PBNU tersebut.
Keempat, kelompok kelas menengah. Hasanuddin menilai dalam 10 tahun terakhir telah terjadi mobilitas vertikal di kalangan warga NU.
"Di kalangan warga juga demikian, sekarang kelompok kelas menengah sangat luar biasa besar. Bahkan, kita juga harus meng-address itu," ujarnya.
Kelima, NU perlu hadir di tengah kelompok perempuan. Menurut Hasanuddin, perempuan harus diberikan ruang yang lebih luas dalam NU, tidak hanya melalui satu kanal, tetapi juga dengan akses dan kesempatan yang lebih terbuka.
"Ini menurut saya Muktamar NU di Jombang harus ada. Kelima isu ini ada semua dalam rancangan roadmap 25 tahun NU," jelas Hasanuddin.
Dibutuhkan Tiga Kriteria Pemimpin NU
Untuk menjawab tantangan tersebut, NU membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki tiga kriteria utama.
Pertama, pemimpin harus memiliki kesadaran dan kegelisahan terhadap kondisi NU dan Indonesia, terutama dalam melihat berbagai perubahan yang terjadi, seperti pertumbuhan anak muda dan semakin berkembangnya masyarakat perkotaan.
"Siapa pun nanti ketua umumnya harus punya kesadaran ini bahwa NU di abad kedua tidak sama dengan NU abad pertama. Lanskapnya sangat berbeda," tuturnya.
Kedua, pemimpin NU harus memiliki visi, ide, dan gagasan untuk menjawab berbagai perubahan yang terjadi serta menghadirkan gagasan yang relevan dengan tantangan organisasi ke depan.
"Saya tidak mengatakan tradisi tidak penting, tradisi tetap penting, tapi jauh lebih penting dia memiliki gagasan menjawab perubahan yang dihadapi NU ke depan," katanya.
Ketiga, pemimpin harus mampu mengorkestrasi seluruh sumber daya yang dimiliki NU, baik sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), maupun berbagai potensi lainnya.
"Kita tentu berharap muktamar akan menghasilkan keputusan yang relevan dengan kondisi yang dihadapi warga NU hari ini," pungkasnya.

53 menit yang lalu
3




English (US) ·
Indonesian (ID) ·