Asap hitam tebal mengepul ke udara di atas pelabuhan Jebel Ali setelah terkena puing-puing dari rudal Iran yang dicegat, di Dubai, Uni Emirat Arab, Ahad (1/3/2026). Iran melancarkan serangan udara balasan di wilayah tersebut menyusul operasi militer gabungan Israel-AS sebelumnya yang menargetkan beberapa lokasi di seluruh Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI -- Uni Emirat Arab (UEA) gagal meyakinkan Arab Saudi dan Qatar untuk melancarkan respons militer gabungan terhadap serangan Iran di Teluk. Demikian dilaporkan Bloomberg pada Jumat dilansir MEE Sabtu (16/5/2026).
Menurut laporan tersebut, Presiden UEA Mohamed bin Zayed menggelar serangkaian panggilan telepon dengan para pemimpin Teluk, termasuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, tak lama setelah AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.
Teheran merespons dengan meluncurkan ribuan rudal dan drone ke negara-negara Teluk. UEA, yang menormalisasi hubungan dengan Israel pada tahun 2021 di bawah Kesepakatan Arab, menanggung beban utama pembalasan tersebut dengan hampir 3.000 rudal dan drone menghantam negara itu.
Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan para pemimpin Teluk lainnya menolak permintaan Mohamed bin Zayed untuk serangan terkoordinasi Teluk terhadap Iran.
Laporan tersebut menggarisbawahi bagaimana perang melawan Iran telah memperdalam ketegangan antara Arab Saudi dan UEA, alih-alih menyatukan rival-rival Teluk di sekitar musuh bersama.

3 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·