REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Pentagon memerintahkan Komando Pusat Amerika Serikat (USCENTCOM) beberapa hari lalu untuk menyelesaikan persiapan kelanjutan operasi militer berskala besar di Iran, menurut para pejabat Amerika Serikat, seperti dilansir Axios, Kamis(8/10/2026).
Petunjuk Pentagon tersebut tidak mencakup tanggal pasti peluncuran serangan sementara Presiden Donald Trump belum membuat keputusan akhir. Meski demikian, sumber-sumber dari pihak AS dan Israel menyebut aksi militer ini berpeluang terjadi sebelum pemilu sela (midterm elections) AS, atau bahkan sebelum pemilu Israel yang digelar sepekan sebelumnya.
Jika operasi tempur utama dilanjutkan, serangan diperkirakan bakal mencakup pemboman masif terhadap fasilitas energi, infrastruktur, hingga target nuklir Iran. Melanjutkan perang dalam tiga hingga empat pekan ke depan berpotensi memengaruhi pemilu sela, salah satunya dipicu lonjakan harga minyak dunia.
"Tugas Departemen adalah menyusun dan menyajikan opsi-opsi militer kepada Presiden," kata seorang pejabat Pentagon kepada Axios.
Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa Trump memegang seluruh opsi yang dapat diambil kapan saja."AS berada dalam posisi yang sangat kuat dengan kendali atas Selat Hormuz di saat ekonomi Iran sedang runtuh. Iran telah luluh lantak, dan hal ini hanya akan berjalan melalui satu dari dua cara: cara mudah atau cara keras," tutur pejabat tersebut. "Presiden Trump memegang seluruh kartu dan akan melakukan apa pun yang terbaik bagi Amerika Serikat."
The Atlantic melaporkan pada Rabu pagi bahwa Trump sedang mempertimbangkan serangan ke Iran sebelum pemilu sela. Pada Jumat lalu, tim keamanan nasional Trump berkumpul di Camp David selama beberapa jam untuk membahas situasi perang dan sejumlah isu lainnya.
Seorang pejabat Israel mengonfirmasi kepada Axios bahwa sebagian dari pertemuan tersebut berfokus pada potensi pelanjutan operasi militer besar-besaran di Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio seusai pertemuan menyatakan bahwa pembahasan berfokus pada perencanaan kebijakan luar negeri "jangka panjang".
Di sisi lain, negosiasi antara AS dan Iran belum menunjukkan kemajuan. Mediator asal Qatar masih menanti respons Iran terhadap proposal balasan AS yang memuat tuntutan kompromi terkait program nuklir.
"Diskusi mengenai kemungkinan berlanjutnya operasi tempur utama di Iran kian menguat. Peluang terjadinya sebelum pemilu memang tidak tinggi, namun kami tidak mencoret kemungkinan tersebut. Setelah pemilu sela, peluangnya meningkat secara signifikan," kata pejabat Israel kedua.

42 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·