REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Uni Emirat Arab (UEA) resmi mencalonkan diplomat senior Lana Zaki Nusseibeh sebagai sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berikutnya. Keturunan Palestina yang memiliki akar keluarga di Yerusalem itu berpeluang menjadi perempuan pertama yang memimpin organisasi internasional tersebut.
Pencalonan Nusseibeh diajukan Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan melalui surat kepada pimpinan Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB. Langkah ini muncul ketika proses pemilihan pengganti Antonio Guterres menghadapi kebuntuan setelah enam putaran pemungutan suara informal di Dewan Keamanan belum menghasilkan kandidat yang dapat diterima seluruh anggota tetap.
Laporan Reuters, Jumat (23/10/2026), menyebut Nusseibeh akan menjadi sekretaris jenderal perempuan pertama sekaligus pemimpin PBB pertama keturunan Palestina jika terpilih. Ia juga berpeluang menjadi pemimpin kedua dari kawasan Timur Tengah yang menduduki jabatan tersebut setelah Boutros Boutros-Ghali dari Mesir, yang menjabat pada 1992–1996.
Nusseibeh saat ini menjabat menteri negara di Kementerian Luar Negeri UEA. Sebelumnya, ia menjadi duta besar sekaligus perwakilan tetap UEA untuk PBB pada 2013–2024. Pengalamannya selama lebih dari satu dekade di lembaga internasional itu menjadi salah satu modal utama dalam pencalonannya.
Media Israel YNet melansir, keluarga Nusseibeh hingga saat ini merupakan pemegang kunci Gereja Makam Suci di Yerusalem. Keluarga Muslim itu dipercaya memegang kunci gereja sejak ratusan tahun lalu.
Lana Nusseibeh lahir di Abu Dhabi pada tahun 1978, namun kisah keluarganya bermula di Yerusalem. Ayahnya, Zaki Nusseibeh, lahir di kota tersebut pada tahun 1946. Saat Perang Enam Hari meletus, ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Cambridge, Inggris. Perang itu menggagalkan rencananya untuk pulang ke tanah air, sehingga ia pun pergi ke Abu Dhabi dengan membawa sekitar 100 buku.
Awalnya, ia bekerja sebagai jurnalis—termasuk untuk berbagai media Barat—sebelum akhirnya menjadi penerjemah pribadi sekaligus salah satu penasihat terdekat Syekh Zayed, pendiri Uni Emirat Arab. Ia tetap menjalin hubungan erat dengan keluarga penguasa selama beberapa dekade dan kini menjabat sebagai penasihat budaya untuk presiden negara tersebut.
Anwar Nusseibeh, kakek Lana, merupakan tokoh terkemuka dalam kancah politik Palestina dan Yordania. Ia terluka dalam perang tahun 1948 hingga kehilangan salah satu kakinya. Di kemudian hari, ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan Yordania serta gubernur Yerusalem di bawah pemerintahan Yordania.
Sari Nusseibeh, paman Lana, adalah seorang filsuf sekaligus mantan rektor Universitas Al-Quds. Ia ditunjuk oleh Yasser Arafat sebagai perwakilan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Yerusalem. Ketika menyadari bahwa upaya menuju solusi dua negara tidak menunjukkan kemajuan, ia mengajak rakyat Palestina untuk mulai mendiskusikan solusi satu negara.

1 jam yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·