Krisis Ekologis Berakar dari Cara Pandang Manusia terhadap Alam

3 jam yang lalu 1

Yogyakarta, NU Online
 
Krisis ekologis tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga berakar dari cara pandang manusia yang menempatkan alam sebagai objek untuk memenuhi kebutuhan. Perubahan relasi manusia dengan alam menjadi salah satu langkah penting untuk memulihkan keseimbangan kehidupan.


Peneliti ekologi Univeritas Islam Negeri Walisongo Semarang, Zaimatus Sa'diyah mengatakan bahwa akar krisis ekologi merupakan kegagalan relasi antroposentris antara manusia dan alam. Hal itu ia sampaikan dalam Diskusi Publik bertajuk Merawat Jagat: Perempuan dan Keadilan Ekologi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Sabtu (10/10/2026).


Berdasarkan pembacaan teologis yang mendalam, ia menegaskan bahwa Islam memiliki khazanah spiritual yang kaya untuk memandang bumi sebagai rahim kosmik penopang kehidupan.


“Ada satu ayat dalam Al-Qur'an di surat Thaha ayat 55, Allah berfirman bahwa ‘dari bumi itulah Kami menciptakan kalian dan kepada bumi pula Kami mengembalikan kalian, dan dari bumi pula Kami akan membangkitkan kalian’," ujarnya.


Ia juga mengatakan bahwa pemulihan krisis lingkungan perlu dimulai dari kesadaran individu, termasuk membenahi cara pandang masyarakat perkotaan terhadap sumber daya alam yang menopang kehidupan sehari-hari.


"Kita ini bernafas membutuhkan oksigen, jangan sampai untuk oksigen saja kita masih numpang ngutang pada pohon yang dirawat oleh orang lain, oleh tetangga kita," ujar Sadiyah.


Sementara itu, Sekretaris Alimat sekaligus Anggota Steering Committee Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Alimatul Qibtiyah, menjelaskan bahwa KUPI mengembangkan gerakan kultural progresif dengan menafsirkan ulang pelestarian alam secara inklusif.


“Jadi, kalau liberal feminis itu untuk melakukan perubahan itu kayak melawan gitu ya. Kalau kita bicara itu kayak melakukan perlawanan, tetapi kalau KUPI, ketika kita bicara KUPI, mengidentifikasi biven ulama gitu ya, itu adalah kita embrace, kita merangkul keyakinan itu, tetapi kita mencoba untuk menafsir ulang, menginterpretasi ulang,” ujarnya.


Ia menyampaikan bahwa gerakan transformatif tersebut dijalankan melalui trilogi KUPI, yakni ma'ruf, mubadalah, dan keadilan hakiki, agar kesadaran ekologis tumbuh secara damai di tengah masyarakat.


"Keburukan itu tumbuh subur bukan karena banyaknya orang buruk, tapi keburukan itu akan tumbuh subur karena banyaknya orang baik yang mendiamkannya. Saya yakin seratus persen yang ada di sini semuanya orang baik, sehingga dan saya yakin tidak membiarkan keburukan ekologi itu terjadi," ucap Alimatul.

Baca Artikel Selengkapnya