Korsel Tuduh Korut soal Ledakan Ranjau di DMZ, Dibantah Pyongyang

19 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Korea Selatan menuduh Korea Utara bertanggung jawab atas ledakan ranjau darat di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang melukai tiga tentaranya.

Namun, Pyongyang membantah tuduhan tersebut dan menyebut Seoul mengarang klaim untuk memicu provokasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ledakan terjadi pada 21 September saat tiga perwira Korea Selatan berada di wilayah DMZ. Ketiganya mengalami luka parah dan salah satu tentara dilaporkan kehilangan kakinya.

DMZ merupakan wilayah penyangga yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara sejak Perang Korea berakhir pada 1953. Kedua negara secara teknis masih dalam keadaan perang karena konflik tersebut hanya diakhiri dengan perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Korea Selatan menyatakan insiden tersebut sebagai "pelanggaran jelas" terhadap perjanjian gencatan senjata pada Selasa (29/9).

Seoul mengatakan Korea Utara bertanggung jawab atas keberadaan ranjau tersebut dan memperingatkan akan mengambil langkah yang diperlukan.

[Gambas:Video CNN]

Menteri Pertahanan Korea Selatan Kang Shin-chul mengatakan militer telah menyiapkan sejumlah tindakan untuk merespons insiden tersebut. Namun, dia tidak menjelaskan secara rinci langkah yang akan diambil.

Kang mengatakan ranjau Korea Utara itu diduga dipasang sebagai bagian dari upaya Pyongyang memperkuat wilayah perbatasannya.

Militer Korea Selatan sebelumnya menyebut pekerjaan tersebut juga menyebabkan tentara Korea Utara secara tidak sengaja melintasi perbatasan dalam beberapa kesempatan.

Kim Yo Jong bantah tuduhan Seoul

Adik sekaligus salah satu pejabat berpengaruh di pemerintahan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, membantah tuduhan Korea Selatan.

Dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, Kim menyebut pernyataan Korea Selatan itu "terlalu rendah dan kotor, sesuai dengan sifat suku-suku Republik Korea (ROK)".

Kim mengklaim Seoul sedang "mengarang" tuduhan palsu.

Ia menilai pernyataan Korea Selatan sebagai upaya politik dan militer untuk memprovokasi Pyongyang.

"Jelasnya, tentara kami tidak pernah melintasi perbatasan," kata Kim, seperti dilaporkan AFP.

Ia juga memperingatkan bahwa Korea Utara tidak akan tinggal diam terhadap tindakan yang dianggap bermusuhan di wilayah perbatasan.

"Kami tidak akan pernah tinggal diam melihat tindakan-tindakan bermusuhan yang menimbulkan kekhawatiran besar di wilayah perbatasan," ujarnya.

Komando PBB Temukan Ranjau Korut
Beberapa jam setelah pernyataan Kim Yo Jong, Komando PBB (UNC) mengumumkan hasil penyelidikan bersama dengan militer Korea Selatan.

UNC mengatakan penyelidikan menemukan ranjau anti-personel Korea Utara yang masih aktif di sisi Korea Selatan dari Garis Demarkasi Militer.

Berdasarkan temuan tersebut, UNC menyatakan insiden itu merupakan pelanggaran terhadap Perjanjian Gencatan Senjata.

UNC merupakan pasukan militer multinasional yang dipimpin Amerika Serikat. Pasukan tersebut bertugas mengawasi perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri pertempuran dalam Perang Korea pada 1950-1953 serta mengelola sisi selatan DMZ.

Insiden ranjau terbaru menambah ketegangan di salah satu perbatasan paling dijaga ketat di dunia.

Siaran melalui pengeras suara

Sejak 2024, Korea Utara memperkuat perbatasannya setelah Kim Jong Un menetapkan Korea Selatan sebagai "musuh utama".

Pyongyang memasang ranjau dan membangun penghalang antitank sebagai bagian dari upaya memperketat perbatasan.

Korea Utara juga meledakkan sejumlah bagian jalan antar-Korea yang sudah tidak digunakan.

Insiden serupa pernah terjadi pada 2015. Saat itu, dua tentara Korea Selatan terluka parah akibat ledakan ranjau di sisi selatan DMZ. Salah satu tentara kehilangan kedua kakinya.

Seoul ketika itu menyimpulkan bahwa tentara Korea Utara telah melintasi Garis Demarkasi Militer untuk memasang ranjau tersebut. Pyongyang membantah tuduhan itu.

Insiden 2015 kemudian mendorong Korea Selatan mengaktifkan kembali pengeras suara propaganda di sepanjang perbatasan untuk menyiarkan pesan yang ditujukan kepada Korea Utara.

(mge/bac)

Baca Artikel Selengkapnya