Jakarta, NU Online
Ketua Steering Committee (SC) Konferensi Internasional Imam Besar (IGIC) 2026 Irjen Pol Muhammad Sabilul Alif menjelaskan IGIC 2026 akan membawa tiga gagasan utama, yakni masjid sebagai pusat harmoni masyarakat, diplomasi keagamaan sebagai instrumen diplomasi keagamaan, dan perdamaian dunia sebagai tujuan akhir. Konferensi internasional para imam tersebut akan digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Ia mengatakan gagasan pertama yang diusung adalah Masjid Harmoni. Istilah masjid, kata dia, sengaja dipertahankan karena dekat dengan konteks kehidupan masyarakat Indonesia.
“Bagaimana nanti menempatkan masjid-masjid yang ada di dunia menjadi pusat harmoni masyarakat, bukan hanya sebagai tempat ibadah,” kata Sabilul di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Menurut dia, gagasan tersebut merujuk pada sejarah masjid pada masa Rasulullah. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat peradaban, ilmu pengetahuan, pendidikan, kemanusiaan, dan kehidupan masyarakat.
Masjid, kata Sabilul, juga pernah menjadi tempat menerima delegasi dari luar serta menjalankan berbagai urusan pemerintahan. Karena itu, konferensi akan menambahkan satu perspektif mengenai fungsi masjid, yakni sebagai pusat perdamaian.
Gagasan kedua ialah religious diplomacy atau diplomasi keagamaan. Sabilul menegaskan konsep tersebut berbeda dari diplomasi kenegaraan.
“Religious diplomacy ini adalah diplomasi keagamaan, bukan diplomasi kenegaraan,” ujarnya.
Menurut dia, diplomasi agama dapat menjadi bagian dari soft power diplomacy Indonesia. Kemajemukan masyarakat dan posisi Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim dinilai dapat menjadi modal untuk memperkenalkan pendekatan tersebut di tingkat global.
Melalui pertemuan para imam dan ulama dari berbagai negara, Sabilul berharap agama dapat menjadi saluran untuk menyampaikan pesan perdamaian, kemanusiaan, serta penghormatan terhadap perbedaan.
“Dengan mengumpulkan para tokoh imam, para ulama dunia menjadi sebuah corong perdamaian, corong masalah sisi-sisi kemanusiaan, dan corong untuk bagaimana perbedaan itu menjadi satu atau unity in diversity,” kata dia.
Sabilul mengatakan pesan tersebut juga dapat mencakup isu lingkungan hidup. Menurut dia, apabila para imam di berbagai negara menyampaikan pesan tentang perdamaian, keharmonisan, dan kepedulian terhadap lingkungan dari masjid, dampaknya dapat menjangkau masyarakat luas.
“Dari mihrab-mihrab masjid yang disampaikan oleh para imam itu akan menjadi sebuah empowering kekuatan yang nantinya menjadi sebuah getaran yang kuat untuk menyampaikan pesan perdamaian,” ujarnya.
Gagasan ketiga adalah perdamaian dunia. Sabilul mengatakan perdamaian menjadi muara dari berbagai gagasan yang dibawa dalam konferensi tersebut. Ia juga mengatakan forum ini dapat menjadi awal untuk membangun wadah bersama bagi para grand imam dari berbagai negara. Menurut Sabilul, hingga kini belum ada organisasi yang secara khusus menjadi ruang bersama para imam besar dunia. “Wadah grand imam ini belum ada,” katanya.
Sabilul mengatakan antusiasme terhadap konferensi cukup tinggi. Dari sekitar 50 negara yang diundang, 39 negara telah menyatakan akan hadir.

1 jam yang lalu
2



English (US) ·
Indonesian (ID) ·