Kitab Al-Barakah fi Fadhlis Sa'yi wal Harakah: Kebahagiaan bagi Para Buruh

2 jam yang lalu 1

Setiap tanggal 1 Mei, Hari Buruh Internasional dirayakan atau diperingati. Pada hari itu merupakan momentum yang tepat bagi segenap buruh untuk mengekspresikan kegembiraan dan rasa syukur karena mereka berada di jalan yang mulia. Baik dilihat dari sudut pandang sosial kemasyarakatan atau agama, jalan yang mereka tempuh termasuk mulia atau bahkan sangat mulia. 
 

Benar sekali, profesi buruh merupakan salah satu profesi yang sangat mulia. Jika kita sejenak membaca kembali sejarah, bisa dikatakan para nabi terdahulu semuanya berprofesi sebagai buruh. Disebutkan bahwa Nabi Adam as berprofesi sebagai petani, Nabi Nuh as sebagai tukang kayu, Nabi Idris as sebagai tukang jahit, Nabi Daud as sebagai tukang besi, dan nabi-nabi lain yang juga termasuk buruh. 
 

Kitab karya Syekh Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Umar al-Hubaisyi (712—782 H) berjudul Al-Barakah fi Fadhlis Sa'yi wal Harakah ini memotret dengan ciamik kabar-kabar menggembirakan bagi seluruh buruh di manapun mereka berada atau pekerjaan apapun yang sedang mereka jalani, di antara kabar tersebut adalah kemuliaan jalan yang mereka tempuh.

Sebelum menilik lebih jauh seperti apa kabar gembira tersebut dan semulia apa profesi buruh yang tertuang di dalam kitab ini, mari terlebih dahulu kita berkenalan dengan penulisnya. 
 

Sekilas Profil Penulis

Bernama Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Umar al-Hubaisyi. Ia lahir pada hari Kamis bulan Dzulhijjah tahun 712 Hijriah dan wafat pada akhir bulan Rajab tahun 782 Hijriah. 
 

Lahir dari sosok ayah yang dikenal sebagai ulama yang multidisiplin-ilmu (mutafannin), yakni Syekh Wajihuddin Abdurrahman. Sang ayah, selain masyhur dengan kealimannya, juga merupakan sosok yang sangat wara dan ajek dalam segala hal. Di samping itu, ia juga cukup produktif melahirkan karya tulis. 
 

Tidak heran jika Syekh Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Umar al-Hubaisyi, penulis kitab ini, menjadi sosok alim-allamah dan panutan bagi umat Muslim, khususnya di daerah Yaman. Iya, al-Hubaisyi merupakan nisbat pada Bani Habaisy yang berdomisili di Yaman. 
 

Syekh Jamaluddin, sapaan akrabnya, sedari kecil memang semangat mencari ilmunya tidak pernah surut. Bisa dikatakan, masa hidupnya hanya untuk ilmu. Hidupnya dihabiskan untuk mendorong umat keluar dari jurang kebodohan menuju kehidupan yang berlandaskan keilmuan hingga nafas terakhirnya. 
 

Di samping kealimannya dan menguasai banyak disiplin ilmu seperti ayahnya, ia juga termasuk ulama yang senantiasa mengamalkan ilmunya, lisannya selalu basah dengan dzikir, karismatik, semangatnya yang tak pernah pudar urusan keilmuan, dan tentu termasuk ulama yang produktif melahirkan kitab. 
 

Karya

Di antara buah tangannya adalah kitab berjudul:

  1. An-Nuraini fi Ishlahid Daraini;
  2. Al-Barakah fi Fadhlis Sa'yi wal Harakah wa Ma Yunji bi Idznillahi Ta'ala minal Halakah (kitab yang sedang kitab bahas ini);
  3. ‘Umdatut Thalib fil I'tiqatl Wajib;
  4. At-Tadzkir bi Ma Ilaihil Mashir;
  5. Farhatul Qulub wa Sulwatul Makrub;
  6. Masa'ilut Thalaq; dan
  7. Lain-lain.  
     

Latar Belakang Penulisan Kitab 

Penulisan kitab ini dilatarbelakangi oleh kegelisahan Syekh Jamaluddin terhadap anggapan masyarakat saat itu. Realitasnya, kata Syekh Jamaluddin menanggapi anggapan masyarakat yang etos kerja bagus, bahwa para pekerja keras yang istiqamah di jalan mencari penghidupan sehari-hari dianggap rendah oleh sebagian masyarakat. 
 

Sebaliknya, mereka yang hanya berpangku tangan, berdiam tanpa arah yang jelas, dianggap sebagai manusia yang tawakal, zuhud atau status positif lainnya. Maka, dengan semangat inilah kitab ini dipublikasikan pada masyarakat umum pada saat itu. 
 

Tujuan besarnya, kata penulis dalam mukadimahnya, adalah memberi semacam kabar gembira untuk mereka para pekerja keras atau pejuang nafkah, bisa kita sebut para buruh, yang dituduh sebagai masyarakat rendah. 
 

Begitu juga sebaliknya, kitab ini sepertinya juga ditunjukkan kepada para penuduh negatif tersebut, sebagai pengingat bagi masyarakat yang beranggapan berpangku tangan, tidak mencari penghidupan mandiri adalah jalan yang baik. 
 

Syekh Jamaluddin mengutip sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab Hilyatul Auliya’. Sabda yang sangat menohok para penuduh negatif para buruh. Berikut redaksinya: 
 

إن الله لا يحب الفارغ الصحيح لا في عمل الدنيا ولا في عمل الآخرة
 

Artinya: "Sungguh Allah tidak senang kepada pengangguran yang masih sehat, baik dalam amal dunia atau akhirat." (Lihat halaman 38).
 

Sabda Rasulullah sawini, Syekh Jamaluddin paparkan kepada mereka yang menuduh negatif para buruh. Setelah itu, ia secara eksplisit menguraikan redaksi yang mencerminkan pembahasan pokok yang menjadi topik utama dari kitab ini. Mari simak redaksi berikut:
 

أحببت أن أشرح لهم في هذا الكتاب ما يُسلِّي قلوبهم، ويُنفس كروبهم ، من فضائل الصناعات ، وأنها للأنبياء عادات ، وأبين فضل الكد في الزراعات ، وأن الزرع أفضل المكاسب الطيبات ، وهو من أهم فروض الكفايات ؛ إذ به تعيش الحيوانات
 

Artinya: "(Karena melihat anggapan negatif di atas), saya berkeinginan untuk mensyarah (menjelaskan) kitab ini untuk mereka (para buruh), yakni uraian (kabar) yang bisa membuat hati mereka bergembira dan menghilangkan kegundahannya (karena dituduh negatif)."
 

"Uraian tersebut meliputi (1) keutamaan-keutamaan profesi atau pekerjaan; (2) bahwa para nabi memiliki kebiasaan bekerja; dan (3) akan saya jelaskan keutamaan dari semangat bertani, bahwa bertani merupakan paling utamanya pekerjaan. Di samping itu, ia juga termasuk fardhu kifayah yang paling urgen, karena dengannya semua ekosistem hewan bisa hidup." (Lihat halaman 38).
 

Inilah yang melatarbelakangi Syekh Jamaluddin menulis kitab bertajuk Al-Barakah fi Fadhlis Sa'yi wal Harakah wa Ma Yunji bi Idznillahi Ta'ala minal Halakah ini, serta gambaran besar konten yang dibahas. Semua topik-topik pembahasan dalam kitab ini, katanya, mayoritas merujuk pada ayat al-Qur'an, hadits-hadits Rasulullah saw, dan riwayat-riwayat dari para ulama. 
 

Kabar Menggembirakan bagi Para Buruh 

Sebagaimana yang telah disinggung di muka, bahwa Syekh Jamaluddin merujuk pada beberapa hadits Rasulullah saw. Pada bab pertama membahas tentang keutamaan sebuah pekerjaan atau profesi, khususnya pertanian dan perniagaan.
 

Pada bab ini, ada kisah menarik, yakni dialog antara seorang laki-laki dengan Rasulullah saw. Dialog ini bisa menjadi kabar gembira pertama bagi para buruh, khususnya bagi mereka yang masih merasa pekerjaannya kelas bawah, pekerjaannya rendahan atau label negatif lainnya. Mari kita simak kisah berikut. 
 

Seorang laki-laki sowan kepada Rasulullah saw. Ia lalu menanyakan soal pekerjaan atau profesinya.
 

Ia bertanya, “Seperti apa komentar jenengan perihal pekerjaan saya ini?” 

Rasulullah saw bertanya balik, “Apa pekerjaanmu?”
 

“Tukang tenun,” jawab si laki-laki tersebut. 
 

Menimpali jawaban itu, lalu Rasulullah saw bersabda:
 

"Profesimu itu sama dengan profesinya Bapak kita, Nabi Adam as. Manusia pertama yang menenun adalah Nabi Adam as. Malaikat Jibril yang mengajarinya, ia bermurid kepadanya selama tiga hari. Sungguh Allah SWT senang terhadap profesimu. Profesimu itu dibutuhkan baik oleh orang masih hidup atau mati. 
 

Siapa saja yang mengatakan profesi kalian itu buruk, maka musuhnya adalah Nabi Adam as. Siapa saja yang meremehkan, maka sejatinya ia meremehkan Nabi Adam as. Siapa saja yang melaknat, maka sungguh ia telah melaknat Nabi Adam as. Dan siapa saja menyakitinya, maka ia sejatinya menyakiti Nabi Adam as dan sungguh Nabi Adam as kelak akan memusuhi di hari kiamat.
 

Janganlah takut kalian semua! Berbahagialah! Sungguh profesi kalian semua merupakan profesi yang barakah dan Nabi Adam akan menjadi penuntun kalian semua sampai ke surga." (lihat: halaman 46).
 

Berkaca dari kisah ini, bahwa Islam sama sekali tidak membedakan sebuah profesi, termasuk buruh. Tidak ada profesi yang hina atau rendah, yang terpenting merupakan pekerjaan halal. 
 

Semua profesi adalah mulia, termasuk buruh. Baik pekerjaan kasar yang memerlukan tenaga fisik misalnya buruh bangunan dan semacamnya, atau pun kerja otak seperti pekerja kantoran, semuanya sama. Semua mulia. Kemuliaan tersebut bisa kita lihat dari sabda Rasulullah saw berikut: 
 

إن الله يحب المؤمن المحترف
 

Artinya: "Sungguh Allah senang terhadap Mukmin profesional (memiliki pekerjaan atau tidak nganggur)." (HR at-Thabarani dan al-Baihaqi, [lihat: halaman 43]).
 

Bergembiralah para buruh. Sebab, semua profesi, termasuk buruh, tidak hanya mulia tapi juga disenangi Allah SWT. Inilah kabar gembira kedua. Dengan mengetahui kabar gembira ini, semoga semangat bekerja para buruh selalu bergelora dan tidak roboh diterjang kondisi dunia pekerjaan yang tidak menentu. 
 

Selamat membaca kabar gembira lainnya. Selamat Hari Buruh Internasional! 
 

Identitas Kitab

Judul: Al-Barakah fi Fadhlis Sa'yi wal Harakah wa Ma Yunji bi Idznillahi Ta'ala minal Halakah;
Penulis: Syekh Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Umar al-Hubaisyi (712—782 H);
Penerbit: Darul Minhaj;
Cetakan ke-1: 2016; dan
Tebal:  816 halaman.

Ustadz Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil, Sekarang Aktif Menjadi Perumus LBM PP Nurul Cholil dan Editor Website PCNU Bangkalan.

Baca Artikel Selengkapnya