Makanan halal itu ibarat fondasi dalam agama Islam. Sebab, dari makanan yang halal, seorang Muslim dapat menjaga kebersihan hati, kekhusyukan ibadah, dan keluhuran akhlaknya.
Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Menjaga Makanan Halal, Menjaga Keberkahan Hidup”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di bagian atas atau bawah artikel (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْعَالِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ وَأَعْدَادِ الرِّمَالِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي هُوَ لِلْعَالَمِينَ عِصْمَةٌ وَثِمَالٌ. صَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِينَ بِهِمْ يُقْتَدَى فِي الْأَعْمَالِ، صَلَاةً تُنَجِّي مِنَ الْأَوْزَارِ إِذَا ثَقُلَتْ مِنْهَا الْأَحْمَالُ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا مَا هَبَّتِ الْجَنُوبُ وَالشَّمَالُ، وَتَفَيَّأَتِ الظِّلَالُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشِّمَالِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada seluruh jamaah, terutama kepada diri khatib sendiri, agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta'ala dalam setiap keadaan.
Kita harus yakin bahwa dengan ketakwaan, Allah akan memberikan jalan keluar dari berbagai persoalan hidup. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya: "Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya."
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Dalam Islam, mengonsumsi makanan halal bukan sekadar anjuran, melainkan perintah Allah Ta'ala. Sebagaimana firman-Nya:
وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ
Artinya: "Makanlah apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu sebagai rezeki yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya kamu beriman." (QS. Al-Maidah: 88).
Ayat ini mengajarkan bahwa makanan yang kita konsumsi harus memenuhi dua prinsip, yaitu halal dan thayyib. Halal berarti diperbolehkan menurut syariat, baik dari jenis makanannya maupun cara memperolehnya. Sementara thayyib berarti baik, bermanfaat, dan tidak membahayakan tubuh.
Karena itu, ketika memilih makanan, jangan hanya mempertimbangkan rasa atau harganya. Kita juga perlu memastikan kehalalan dan kebaikannya, sebab apa yang kita konsumsi berpengaruh terhadap kehidupan jasmani dan rohani kita.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Makanan halal memiliki kedudukan penting dalam membangun ketakwaan. Bagaimana mungkin seseorang mengharapkan keberkahan ibadah, sementara rezeki yang digunakan untuk memenuhi kebutuhannya justru berasal dari sesuatu yang diharamkan?
Syekh Abdul Wahhab asy-Sya'rani dalam kitab Al-Minah as-Saniyah, halaman 7, menukil perkataan hikmah Syekh Ali al-Khawwash:
مَنْ أَكَلَ الْحَرَامَ وَأَطَالَ الْعِبَادَةَ فَهُوَ كَالْحَمَامِ الَّذِيْ رَقَدَ عَلَى بِيْضٍ فَاسِدٍ فَهُوَ يُتْعِبُ نَفْسَهُ فِيْ طُوْلِ الْمُقَامِ ثُمَّ لَا يُفَرِّخُ شَيْئًا بَلْ يَخْرُجُ مُذِرًا
Artinya: "Barangsiapa yang memakan makanan haram dan memperpanjang (memperbanyak) ibadahnya, maka ia seperti burung merpati yang mengerami telur yang busuk. Ia melelahkan dirinya sendiri dengan lama mengeram, kemudian tidak menetaskan sesuatu pun, bahkan yang keluar hanyalah bau busuk."
Hadirin sekalian, perumpamaan ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Bayangkan seorang ayah yang ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi saleh. Setiap malam ia mendoakannya, bahkan menyekolahkannya di tempat pendidikan terbaik. Namun, nafkah yang diberikan justru berasal dari judi online, riba, korupsi, atau usaha yang dilarang agama.
Tentu ada persoalan mendasar yang perlu diperbaiki. Kita mengharapkan anak-anak tumbuh dengan akhlak yang baik, tetapi pada saat yang sama mengabaikan kehalalan rezeki yang digunakan untuk membesarkan mereka. Padahal, salah satu bentuk tanggung jawab orang tua adalah memastikan nafkah keluarga berasal dari jalan yang diridhai Allah.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Syekh Ali al-Khawwash juga menyampaikan:
فَجَمِيْعُ الْمَعَاصِي الَّتِيْ يَفْعَلُهَا الْعَبْدُ إِنَّمَا سَبَبُهَا أَكْلُ الْحَرَامِ، فَمَنْ أَكَلَ الْحَرَامَ وَطَلَبَ أَنْ يَعْمَلَ الطَّاعَةَ فَقَدْ رَامَ الْمُحَالَ
Artinya: "Maka semua kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang hamba itu disebabkan dari memakan makanan haram. Maka barangsiapa yang memakan makanan haram dan ia menuntut (menginginkan) untuk bisa mengerjakan ketaatan, maka sungguh ia telah mengharapkan sesuatu yang mustahil."
Ungkapan ini mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga sumber rezeki. Ketika seseorang merasa sulit istiqamah, kurang khusyuk dalam shalat, atau mudah tergoda melakukan kemaksiatan, sudah sepatutnya ia melakukan introspeksi, termasuk memeriksa kembali kehalalan makanan dan penghasilannya.
Jangan sampai kita begitu bersemangat memperbanyak ibadah, tetapi kurang memperhatikan dari mana uang yang kita peroleh dan makanan yang kita konsumsi. Sebab, menjaga diri dari sesuatu yang haram juga merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah.
Oleh karena itu, marilah kita mulai dari diri sendiri. Pastikan pekerjaan dan penghasilan kita halal, makanan yang dibawa pulang untuk keluarga halal, dan setiap usaha yang kita jalankan tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Di Indonesia, perhatian terhadap kehalalan produk juga telah diatur melalui Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, yang menjadi landasan penyelenggaraan jaminan produk halal, termasuk ketentuan sertifikasi untuk produk sesuai peraturan yang berlaku.
Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kehalalan makanan bukan hanya tanggung jawab pribadi, tetapi juga memerlukan perhatian bersama.
Karena itu, marilah kita senantiasa menaati Allah dan Rasul-Nya, serta mematuhi ketentuan pemerintah yang tidak bertentangan dengan syariat. Dengan menjaga makanan dan penghasilan yang halal, kita sedang berikhtiar menjaga diri, keluarga, dan generasi penerus agar senantiasa berada dalam keberkahan dan ridha Allah SWT.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا،
أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ
Ustadz Abdul Karim Malik, alumni Al-Falah Ploso Kediri, pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi, dan pengajar di Pondok Pesantren PINK03 Kampung Rukem, Bekasi.

2 jam yang lalu
2



English (US) ·
Indonesian (ID) ·