Khutbah Jumat: Bahaya Dengki terhadap Keluarga dan Tetangga

1 jam yang lalu 2

Salah satu ajaran penting dalam Islam adalah senantiasa menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, terutama dengan keluarga dan tetangga. Namun, kedengkian terkadang tumbuh dalam hati manusia hingga perlahan merusak hubungan tersebut, bahkan mendorong seseorang untuk membenci dan menyakiti orang-orang terdekatnya.

Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Bahaya Dengki terhadap Keluarga dan Tetangga”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلىَ عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ، الَّذِي خَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلىَ خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجَابِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْأَحْبَابُ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْوَهَّابِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Mari kita awali khutbah ini dengan kalimat syukur al-hamdulillâhi rabbil alamin, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah swt berikan kepada kita semua, sehingga bisa menunaikan shalat Jumat berjemaah dalam keadaan sehat wal afiat. Shalat dan salam mari kita haturkan kepada panutan kita Nabi Muhammad saw, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Selanjutnya sebagaimana Nabi Muhammad senantiasa mengawali setiap khutbahnya dengan wasiat takwa, maka sebagai bentuk meneladani sunnahnya, perkenankan saya berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah sekalian, “Ushiikum waiyaa ya bitakwallah!” 

Mari kita perkuat ketakwaan kita dengan mengerjakan segala perintah dan larangan-Nya, karena hanya dengan takwa kita memiliki pegangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari di dunia, sekaligus bekal di akhirat nanti.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah


Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah sifat dengki, yaitu perasaan tidak senang melihat orang lain memperoleh nikmat, bahkan berharap nikmat tersebut hilang darinya. Selain berbahaya, sifat ini juga dapat merusak hubungan persaudaraan, menumbuhkan permusuhan, hingga mendorong seseorang menyakiti orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga dan tetangganya sendiri.

Karena bahayanya yang begitu besar, Allah swt mengajarkan kepada kita semua untuk senantiasa memohon perlindungan dari kejahatan orang-orang yang dengki, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ


Artinya, “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki’.” (QS. Al-Falaq: 1-5).


Jika kita bertanya, “Mengapa sifat dengki ini mendapatkan perhatian sedemikian besar dalam Al-Qur’an, hingga kita diajarkan untuk memohon perlindungan Allah dari kejahatan orang yang dengki?”

Maka jawabannya tidak lain selain karena dengki tidak hanya perihal perasaan tidak senang melihat nikmat orang lain, tetapi juga dapat mendorong seseorang melakukan berbagai tindakan yang dapat menyakiti sesama. 

Orang yang dengki bisa kehilangan kejernihan hati, sehingga kebahagiaan orang lain menjadi alasan baginya untuk melontarkan perkataan buruk, menyebarkan kebencian, bahkan melakukan perbuatan yang dapat membahayakan.

Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Syihabuddin al-Alusi ketika menjelaskan ayat ke-5 surat Al-Falaq tersebut dalam kitab Ruhul Ma’ani fi Tafsiril Qur’anil Adzim was Sab’il Matsani, jilid XXIII, halaman 190, sebagai berikut:

فَإِنَّ نَفْسَ الْحَاسِدِ حِيْنَئِذٍ تَتَكَيَّفُ بِكَيْفِيَّةٍ خَبِيْثَةٍ بِمَا تُؤَثِّرُ فِي الْمَحْسُوْدِ بِحَسَبِ ضَعْفِهِ وَقُوَّةِ نَفْسِ الْحَاسِدِ شَرًّا قَدْ يَصِلُ إِلَى حَدِّ الْإِهْلَاكِ

Artinya, “Karena sungguh, pada saat itu jiwa orang yang dengki berada dalam keadaan buruk yang dapat memengaruhi orang yang didengki, sesuai dengan tingkat kelemahannya dan kuatnya jiwa orang yang dengki. Pengaruh buruk tersebut bahkan dapat mencapai tingkat yang membinasakan.”


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah


Oleh sebab itu, jangan kita biarkan sifat dengki ini ada dalam jiwa kita. Sebab ia dapat menjadikan hubungan yang semula harmonis dengan saudara dan tetangga berubah menjadi permusuhan, ikatan kekeluargaan yang erat berubah menjadi pertikaian, dan ketenteraman bersama berubah menjadi rusak hanya karena terdapat sifat dengki dalam hatinya.


Betapa sering kita melihat hubungan antar tetangga menjadi renggang karena ada yang iri melihat tetangganya memiliki rumah lebih bagus, kendaraan yang lebih baru, atau kehidupan yang tampak lebih bahagia dan berkecukupan.


Dalam kondisi tersebut, seseorang dapat lebih sibuk memikirkan bagaimana cara menjatuhkan orang yang didengki daripada memperbaiki dirinya sendiri, ia akan mendorong orang lain meremehkan keberhasilan saudaranya, menghalangi rezekinya, membicarakan keburukannya, berharap nikmat yang didapatkannya hilang, hingga berupaya berbuat tindakan bahaya kepada mereka.


Jika sifat dengki terus dibiarkan, maka ia dapat menghilangkan rasa kasih sayang, memutus silaturahmi, dan mengubah kehidupan keluarga maupun lingkungan tetangga yang semestinya tenteram dan harmonis menjadi penuh kecurigaan dan permusuhan.

Inilah salah satu bahaya sifat dengki yang patut kita waspadai bersama. Ia tidak hanya mengotori hati, tetapi juga dapat merusak persaudaraan, menumbuhkan kebencian, hingga mendorong seseorang berbuat zalim kepada orang lain. 

Oleh sebab itu, Rasulullah saw mengingatkan kita semua untuk tidak saling dengki, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang berasal dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ

Artinya, “Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling membenci, dan saling membelakangi. Janganlah sebagian dari kalian menjual atas transaksi jual beli sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya, menelantarkannya, dan merendahkannya.” (HR. Muslim).

Selain itu, dalam riwayat lain yang juga berasal dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah saw juga mengingatkan kita semua untuk menjauhi sifat dengki, karena kedengkian dapat menghapus kebaikan yang pernah kita lakukan sebagaimana api dapat melahap kayu bakar. Nabi bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ


Artinya, “Jauhilah sifat dengki, karena sesungguhnya dengki dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud).

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Selain itu, tetangga memiliki hak yang harus kita jaga, di antaranya adalah tidak menyakiti dan tidak mengganggu ketenteraman hidupnya. Hal ini sebagaimana Rasulullah saw tegaskan dalam salah satu haditsnya bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya tidak menyakiti tetangganya. Nabi bersabda:


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

Artinya, “Siapa saja beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari).

Oleh sebab itu, jangan sampai kedengkian membuat kita melontarkan perkataan yang menyakitkan, merendahkan kehidupan tetangga, atau merasa senang ketika ia tertimpa kesusahan. 

Sebaliknya, mari kita jaga lisan dan perilaku, serta tumbuhkan rasa syukur agar kita dapat hidup berdampingan dengan baik tanpa menjadikan nikmat orang lain sebagai sumber kedengkian.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah


Demikian khutbah Jumat tentang bahaya sifat dengki terhadap keluarga dan tetangga. Semoga Allah swt senantiasa membersihkan hati kita semua dari kedengkian, menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat-Nya, serta menjadikan kita pribadi yang senantiasa mengharapkan kebaikan bagi sesama. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ،
صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

-----------------
Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop Bangkalan Jawa Timur.

 

Baca Artikel Selengkapnya