Dalam artikel sebelumnya, telah dipaparkan profil singkat sejumlah tokoh yang pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Saat era kolonial, penyebutan Ketum PBNU yakni Presiden. Sedangkan istilah PBNU, di era tersebut yakni Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO).
Disebutkan, Ketum PBNU pada era kepengurusan awal (1926) hingga tahun 1956, yakni KH Hasan Gipo (1926-1934), yang menjadi Ketum hingga akhir hayatnya. Kemudian estafet secara berturut-turut berlanjut kepada KH M Noer (1934-1937), KH Machfudz Siddiq (1937-1943), KH Nachrowi Thohir (1943-1944), KH M Dachlan (1944-1947), KH A Wahid Hasyim (1947-1950), dan KH Masykur (1950-1954).
Setelah Kiai Masykur, KH Dachlan yang pernah menjadi Ketum PBNU periode 1944-1947, kembali dipercaya mengemban posisi tersebut hingga masa periode tahun 1956. Berikut lanjutan artikel Ketua Umum PBNU dari Masa ke Masa, mulai tahun 1956 hingga 2026 (penomoran melanjutkan artikel sebelumnya, pen):
8. KH Idham Chalid (1956-1984)
Tokoh kelahiran Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan tersebut menjadi Ketum PBNU mulai masa periode tahun 1956-1959. Sejak saat itu, ia tak pernah tergantikan hingga Muktamar NU tahun 1984, di mana ia digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dengan menjabat selama hampir 28 tahun (1956-1984) tersebut, menjadikan ia sebagai Ketum PBNU dengan masa khidmah paling lama, serta melewati dua masa pemerintahan, yang kemudian dikenal dengan istilah Orde Lama (Sukarno) dan Orde Baru (Suharto).
Sebagai Ketum PBNU, ia juga pernah mengalami masa kepengurusan PBNU, di bawah kepemimpinan tiga Rais Aam. Dimulai dari masa KH A Wahab Chasbullah (1956-1971), kemudian KH Bisri Syansuri (1971-1980), dan KH Ali Maksum (1981-1984) (Lihat artikel yang ditulis Ajie Najmuddin, Rais Aam PBNU dari Masa ke Masa dari 1926 sampai 2026, NU Online, 2026)
Mengenai profil Kiai Idham, dapat kita baca di beberapa referensi. Di antaranya di buku Memperkenalkan Anggota-anggota DPR Hasil Pemilu 1971 (Lembaga Pemilihan Umum, 1971, hal. 98). Alumni Pesantren Gontor itu lahir pada tanggal 27 Agustus 1922. Artinya ketika pertama kali menjadi Ketum PBNU, Kiai Idham baru berusia 34 tahun.
Usia yang cukup dibilang masih muda, untuk memimpin organisasi besar seperti NU, yang kala itu telah bertransformasi menjadi partai politik dan memiliki 45 wakil di DPR dan 97 di Konstituante RI hasil Pemilu 1955. (Ajie Najmuddin, 97 Tokoh NU yang duduk di Majelis Konstituante, NU Online, 2024).
Meski dengan usia masih muda tersebut, NU mampu dibawa menjadi sebuah organisasi yang semakin diperhitungkan dalam kancah nasional dan bahkan internasional. Pada masa kepemimpinannya, terdapat beberapa kegiatan dalam level internasional, di mana NU memiliki peran besar di dalamnya, seperti Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) pada tahun 1965, dan lain-lain. (Ajie Najmuddin, Peran Penting NU dalam Penyelenggaraan KIAA, NU Online, 2022)
Pada penghujung kepemimpinannya, melalui keputusan Muktamar ke-27 yang berlangsung di Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo tahun 1984, NU menyatakan diri kembali ke khittah dan tak lagi menjadi partai politik ataupun terjun dalam politik praktis.
Sosok yang pernah menjadi Wakil Perdana Menteri (Waperdam) RI tersebut wafat pada 11 Juli 2010. Setahun berselang setelah wafat, KH Idham Chalid ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden No. 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 November 2011.
9. KH Abdurrahman Wahid (1984-1999)
Sosok yang akrab disapa Gus Dur tersebut menjadi Ketum PBNU di masa awal NU menyatakan diri kembali ke khittah. Bukan hal mudah tentunya, sebab semenjak tahun 1952 atau sudah 32 tahun lamanya NU terjun dalam politik praktis. Ditambah dengan buntut persoalan intern PBNU yang terjadi sebelum muktamar. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 1985, hal. 291)
Namun, pelan tapi pasti Gus Dur membawa NU kepada sebuah ritme organisasi yang berbasis pada keagamaan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Beberapa lajnah berdiri, seperti lajnah baru di NU, yang bertanggung jawab di bidang pengembangan SDM, yang kemudian kini dikenal dengan nama Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (Lakpesdam) NU.
Dalam buku Fahmi D. Saifuddin: Dokter NU itu (Lukman Hakim Saifuddin (ed.), Yayasan Saifuddin Zuhri, 2002, hal. 130), disebutkan tugas Lakpesdam yang utama kala itu adalah melakukan penelitian, menyelenggarakan pelatihan pengurus dan pengelola program-program NU, serta merintis berdirinya perpustakaan NU. Sebelumnya juga telah berdiri Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN) yang bertugas mengembangkan penerbitan dan penyiaran di lingkungan NU, yang antara lain menerbitkan Warta NU.
Setelah dibentuk Lakpesdam, dirancanglah tiga program dasar: 1) mengembangkan kualitas organisasi, 2) mengembangkan keterlibatan NU di dalam program pembangunan nasional, dan 3) meningkatkan kemandirian sosial-ekonomi masyarakat. (ibid)
Gus Dur kembali terpilih menjadi Ketum PBNU dalam Muktamar tahun 1989 dan 1994. Selama periode kepengurusan tersebut, ia pernah mengalami kepemimpinan sejumlah Rais Aam, yakni KH Achmad Siddiq (1984-1991), KH Ali Yafie (1991-1992), dan KH M Ilyas Ruhiat (1992-1999).
Pada tahun 1999, tokoh kelahiran Jombang tahun 1940 tersebut, terpilih sebagai Presiden RI. Muktamar ke-30 NU di Lirboyo pada tahun yang sama, memilih KH A Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum PBNU melanjutkan estafet kepemimpinan Gus Dur.
Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009. Beberapa tahun kemudian, ia mendapat anugerah sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK Tahun 2025.
10. KH A Hasyim Muzadi (1999-2010)
Dalam artikel berjudul KH Hasyim Muzadi: Dari Memimpin Ranting NU sampai Muslim Dunia (NU Online, 2018) diterangkan mengenai riwayat singkat pemilik nama lengkap Ahmad Hasyim Muzadi tersebut. Kiai Hasyim Muzadi lahir di Desa Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944.
Kiprahnya di NU cukup lengkap. Ia pernah aktif di IPNU, PMII, GP Ansor, hingga akhirnya di NU. Tercatat ia pernah menjadi Wakil Ketua PCNU Malang (1971-1973), Ketua PCNU Malang (1973-1977) Sekretaris PWNU Jawa Timur (1987-1988), Wakil Ketua PWNU Jawa Timur (1988-1992), dan Ketua PWNU Jawa Timur (1992-1999).
Forum Muktamar ke-30 NU, memilihnya menjadi Ketum PBNU masa periode 1999-2004 dan kemudian terpilih kembali pada muktamar berikutnya, dan memimpin hingga tahun 2010. Selama dua masa periode tersebut, Rais Aam PBNU yakni KH M A Sahal Mahfudh.
Pada periode kepemimpinannya, NU membuat media online bernama NU Online, menerbitkan Risalah NU, menyelenggarakan konferensi ulama dan cendekiawan muslim tingkat dunia atau International Conference of Islamic Scholars (lCIS), serta membentuk beberapa Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) di luar negeri.
Di ICIS, Kiai Hasyim mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal yang memimpin perwakilan cendekiawan muslim dari puluhan negara, dalam menanggapi berbagai persoalan dunia muslim di seluruh dunia. ICIS diprakarsai bersama oleh PBNU dan Departemen Luar Negeri RI sejak tahun 2004.
Kiai Hasyim wafat di Malang pada tanggal 16 Maret 2017. Pada tahun yang sama, atas jasa-jasa di berbagai bidang yang bermanfaat bagi kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa dan negara, KH Hasyim Muzadi mendapatkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana dari negara.
11. KH Said Aqil Siroj (2010-2021)
Tokoh yang melanjutkan estafet kepemimpinan PBNU dari Kiai Hasyim Muzadi, yakni Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj. Dalam artikel berjudul Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj (Ahmad Naufa, NU Online, 2017), disebutkan Kiai Said lahir di Cirebon pada 3 Juli 1953.
Kiprahnya di NU dimulai pada 1994 ketika dipercaya menjadi Wakil Katib Aam PBNU pada masa kepemimpinan KH M Ilyas Ruhiat dan KH Abdurrahman Wahid. Karier organisasinya berlanjut hingga ia terpilih sebagai Ketum PBNU pada 2010. Jabatan itu kembali dipercayakan kepadanya untuk periode berikutnya hingga 2021.
Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini, menjadi Ketum PBNU, pada masa empat Rais Aam, yakni KH M A Sahal Mahfudh (2010-2014), KH A Mustofa Bisri (2014-2015), KH Ma'ruf Amin (2015-2018), dan KH Miftachul Akhyar (2018-2021). Catatan ini menjadikannya sebagai Ketum PBNU yang paling banyak membersamai Rais Aam yang berbeda, yakni empat Rais Aam.
Semasa kepemimpinannya, NU terus berkembang menjadi organisasi besar. Dalam artikel berjudul Dua Periode Pimpin PBNU, Ini Prestasi yang Ditorehkan Kiai Said Aqil Siroj (NU Online, 2021) dipaparkan di bawah kepemimpinan Kiai Said, PBNU menjadi garda terdepan dalam merawat keutuhan NKRI dan menjadi perekat persatuan umat. Selain itu, PBNU juga berhasil mendirikan 43 Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) secara resmi berada di bawah badan hukum NU.
Masa periode kedua Kiai Said memimpin sebetulnya berakhir hingga 2020. Namun, pada tahun tersebut karena mengalami pandemi Covid-19, Muktamar ke-34 NU diundur hingga satu tahun. Setelah Muktamar NU tahun 2021, Kiai Said masuk ke dalam jajaran PBNU sebagai Mustasyar dan di Muktamar ke-35, namanya termasuk dalam sembilan ulama sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa).
12. KH Yahya Cholil Staquf (2021-2026)
Tokoh yang akrab disapa Gus Yahya tersebut lahir pada 16 Februari 1966. Pada saat terpilih menjadi Ketum PBNU, ia berusia 55 tahun. Bila kita perhatikan, soal usia Ketum PBNU ketika awal terpilih ini, mengalami kenaikan dari masa ke masa. Dari masa awal, yang kebanyakan masih berusia kepala tiga, kemudian naik 40-50 tahun, dan beberapa Ketum PBNU masa kini, berusia 50 tahun ke atas.
Gus Yahya merupakan putra dari KH M Cholil Bisri, seorang tokoh NU dari Rembang, Jawa Tengah. Sebelum menjadi Ketum PBNU, ia pernah menjadi Katib Aam PBNU, mendampingi Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin 2015-2018 dan KH Miftachul Akhyar 2018-2021.
Forum Muktamar ke-34 NU di Lampung, tahun 2021, memilih KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketum PBNU. Pada masa kepemimpinannya tersebut, NU memasuki usia abad yang kedua, setelah melewati satu abad, baik dari hitungan hijriah (1344-1444 H) ataupun Masehi (1926-2026).
Dalam artikel berjudul Gus Yahya Paparkan Capaian PBNU 2022-2026 Terkait Transformasi Digital dan Ekonomi (NU Online, 2026), dijelaskan NU memiliki 38 Pengurus Wilayah (PWNU) di tingkat provinsi, 548 Pengurus Cabang (PCNU) di tingkat kabupaten/kota, sejumlah Pengurus Cabang Istimewa (PCINU) di luar negeri, serta sekitar 7.000 Majelis Wakil Cabang (MWCNU) di tingkat kecamatan. Kemudian memiliki lebih dari 61.000 Pengurus Ranting yang tersebar di sekitar 80.000 kelurahan/desa di seluruh Indonesia.
Salah satu capaian yang disoroti ialah pengembangan platform Digitalisasi Data dan Layanan (Digdaya) NU sebagai bagian dari transformasi digital organisasi. Selain itu juga terdapat program bernama Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU). Kemudian, dalam konteks internasional, PBNU juga berhasil menyelenggarakan Muktamar Internasional Fiqih Peradaban I yang berhasil menghasilkan sejumlah rekomendasi.
13. KH Abdul Hakim Mahfudz (2026-2031)
KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) terpilih sebagai Ketum PBNU masa khidmah 2026–2031 dalam Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada penghujung Agustus lalu. Sebelum mendapat amanah tersebut, Gus Kikin dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang dan Ketua PWNU Jawa Timur.
Dalam artikel berjudul Profil Gus Kikin, Ketua Umum PBNU Masa Khidmah 2026-2031 (NU Online, 2026), diterangkan mengenai tokoh yang lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958 tersebut, merupakan cicit Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari, pendiri NU.
Hubungan tersebut tersambung melalui Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung KH M Hasyim Asy'ari yang menikah dengan KH Ma'shum Ali. Dari pernikahan tersebut lahir Nyai Hj Abidah Ma'shum yang kemudian menjadi ibu Gus Kikin. Sementara dari garis ayah, KH Mahfudz Anwar merupakan putra KH Anwar Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in Paculgowang, Jombang.
Sebelum menjadi Ketum PBNU, Gus Kikin pernah menjadi Ketua PBNU yang membidangi ekonomi. Di tingkat wilayah. Gus Kikin juga pernah terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024–2029.
Pengalaman di lingkungan pesantren, organisasi NU, serta dunia usaha menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya di NU. Pada Muktamar Ke-35 NU atau Muktamar NU pertama di abad kedua NU ini, Gus Kikin mendapat amanah untuk memimpin PBNU. Ia ditetapkan oleh AHWA sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031.
Ajie Najmuddin, Pemerhati sejarah NU

1 jam yang lalu
3



English (US) ·
Indonesian (ID) ·