Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor Addin Jauharudin menegaskan bahwa peringatan Hari Santri tidak cukup hanya menjadi momentum mengenang perjuangan ulama dan para pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Peringatan tersebut harus diwujudkan melalui aksi nyata yang menjawab persoalan masyarakat, mulai dari kesulitan ekonomi hingga penanganan bencana.
Addin mengatakan, GP Ansor turut dilibatkan dalam pelaksanaan Kirab Santri dari Jombang menuju Surabaya. Hal itu disampaikannya kepada NU Online di Kantor PP GP Ansor, Jakarta, Senin (19/10/2026).
“Kita juga dilibatkan terkait soal Kirab Santri dari Jombang ke Surabaya,” ujar Addin.
Selain keterlibatan dalam Kirab Santri, GP Ansor menyiapkan sejumlah kegiatan lain, termasuk aksi kemanusiaan. Menurut Addin, peringatan Hari Santri perlu dimaknai secara lebih luas dengan menghubungkan nilai perjuangan para pendiri NU dengan tanggung jawab sosial di tengah masyarakat.
“Ansor sendiri punya beberapa agenda, salah satunya aksi kemanusiaan. Selain itu, hari ini kita juga berdialog soal Mbah Abbas Buntet,” katanya.
Ia menegaskan, Hari Santri harus menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian dan keterlibatan santri dalam menyelesaikan persoalan bangsa.
“Jadi, Hari Santri itu kita maknai dengan kegiatan yang lebih luas. Selain tentunya mengingat perjuangan para muassis, juga peran-peran kemasyarakatan secara umum. Ini bagian dari kepedulian kita, bagaimana santri bersama masyarakat menyelesaikan problem-problem bangsa dan negara,” sambungnya.
Addin menilai, identitas santri tidak semata-mata ditentukan oleh lamanya seseorang menempuh pendidikan di pesantren. Menurutnya, nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan harus tetap menjadi pegangan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Saya pikir santri itu identitas yang melekat sampai kapan pun, baik orang yang pernah mondok secara penuh maupun setengah. Saya pikir itu santri. Maka, kebaikan, kemaslahatan, dan niat baik menjadi pegangan utama di mana pun,” ungkapnya.
Ia juga mendorong santri untuk hadir membantu masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Upaya tersebut, menurutnya, dapat diwujudkan melalui penciptaan lapangan kerja, bantuan kemanusiaan, dan kegiatan sosial.
“Dalam kondisi ekonomi bangsa yang sedang susah, kita harus turun ke masyarakat, menciptakan lapangan pekerjaan, dan membantu kesulitan masyarakat. Semuanya, mulai dari kekeringan, pascabencana erupsi, gempa NTT, termasuk Ansor yang melakukan kegiatan bersih-bersih masjid se-Indonesia,” pungkasnya.

8 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·