Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Anwar Ibrahim menegaskan bahwa Malaysia tidak takut ancaman Amerika Serikat karena berani mengusir warga negara Israel.
"Kami menentang kehadiran warga negara Israel mana pun di sini, bukan orang Yahudi, tetapi warga negara Israel karena mereka terlibat dalam pembunuhan, kejahatan, dan penindasan serta penjajahan berkelanjutan terhadap Palestina dan Gaza," tutur Anwar.
Karena itu, dia membantah bahwa tindakannya melanggar hukum internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ingin menanggapi para anggota parlemen Amerika Serikat, setidaknya beberapa di antaranya, yang secara tegas menyatakan bahwa Malaysia melanggar hukum internasional dan tidak menghormati hak-hak bangsa," kata Anwar seperti dikutip dari the Star.
Jawab Anwar Ibrahim
Bagi Anwar, mengusir warga Israel dari negaranya adalah soal rasa kemanusiaan dan keadilan bagi sesama warga, terutama Palestina.
"Kita berbicara tentang kemanusiaan, keadilan, hak asasi manusia bagi umat Muslim, Hindu, Buddha, dan Kristen. Kita menghormati mereka sebagaimana mereka menghormati kita."
"Tingkat agresi telah mencapai tingkat kegilaan," katanya.
"Perempuan dan anak-anak dibantai, rumah sakit dan sekolah dibom. Di manakah keadilan, kemanusiaan, dan hak-hak demokrasi yang dibicarakan Barat?"
Karena itulah, meski Amerika Serikat menekannya, dia tetap teguh pada pendiriannya. Ia ingin siapa pun bahkan untuk tidak bermimpi mengancam negaranya karena rakyat Malaysia tahu apa itu kebebasan, dikutip dari Anadolu Agency.
"Rakyat Malaysia telah berada di sana (untuk Palestina) hingga hari ini. Dan kami akan terus melakukannya tanpa rasa takut," kata Anwar Ibrahim.
"Kita menentang kekejaman, kezaliman dan penjajahan oleh Israel," katanya dilansir dari media Malaysia RTM.
Anwar juga menegaskan Malaysia sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat berhak menentukan pendiriannya dalam isu antarabangsa yang berlandaskan prinsip dan kepentingan negara.
"Saya katakan selama saya diberi mandat oleh rakyat, saya menolak ancaman. Kami akan tetap berjuang," katanya pada unjuk rasa saat aksi Solidaritas dengan Palestina di Stadion Axiata Arena.
Sejak merdeka lepas dari Inggris pada 1957, Malaysia tidak pernah menjalin hubungan dengan Israel. Dan hampir semua pemimpin Malaysia selalu mengutuk kekejaman Israel atas Palestina.
Pengusiran warga Israel dari Malaysia diawali dari penyelidikan terhadap operasional "Network School" di Forest City, Johor, yang diduga diikuti warga Israel.
Mereka datang dengan paspor ganda. Pemerintah Negara Bagian Johor kemudian meminta Kementerian Dalam Negeri dan lembaga terkait untuk melakukan penyelidikan.
(imf/bac)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·