Kemlu: Peternakan, bioteknologi jadi fokus RI-Iran di D8 Halal Expo

1 bulan yang lalu 17

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyampaikan bahwa Indonesia dan Iran memprioritaskan sektor peternakan dan bioteknologi karena dua sektor tersebut saling menguntungkan dan saling melengkapi dalam pengembangan kerja sama ekonomi halal D-8.

“Indonesia memiliki basis pelaku usaha peternakan, rantai pasok yang berkembang, serta produk dan industri pangan halal,” kata Direktur Sosial Budaya dan Kemitraan Strategis Kemlu RI Ary Aprianto kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

“Sementara Iran memiliki keunggulan komparatif di bidang bioteknologi peternakan seperti intervensi embrio dan pengembangan flavoring (perisa). Hal ini tentu akan memperkuat keunggulan kedua negara,” tambah Ary.

Kemlu menilai sinergi tersebut sejalan dengan kerja sama Indonesia-Iran di bidang nanoteknologi dan bioteknologi pertanian, sekaligus mendukung tema D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 tentang penguatan ekonomi halal melalui kolaborasi internasional, rantai pasok halal, dan ketahanan pangan nasional, kata Ary.

Ary mengatakan bahwa kerja sama dengan Iran berpotensi menjadi titik masuk ke kawasan tersebut karena posisi geografis serta jaringan dagang Iran yang menjangkau Asia Selatan dan Asia Tengah, termasuk melalui platform seperti Indonesia-Iran Trade Center (IITC).

Namun, realisasi peluang kerja sama itu masih memerlukan pemetaan pasar yang lebih mendalam, kata Ary.

“Di antaranya melalui kajian teknis dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah) terkait standar, kuota, serta pembentukan mekanisme sertifikasi halal lintas kawasan,” lanjutnya.

Dia juga menyatakan bahwa Kemlu RI akan terus berkoordinasi dengan KBRI di Teheran dan Kedutaan Besar Iran di Jakarta terkait kerja sama di sektor tersebut, terutama dalam hal diplomasi ekonomi, penanganan kendala teknis, dan pendampingan informasi pasar dan regulasi.

Terkait penanganan kendala teknis, Ary mengatakan pihak Kemlu akan berkoordinasi erat dengan kementerian/lembaga teknis seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Bank Indonesia, dan otoritas terkait untuk mengatasi kendala seperti tarif, standar halal, logistik jalur pengiriman, sistem pembayaran, dan regulasi.

Selain itu, Kemlu juga akan berperan sebagai fasilitator dan penghubung diplomatik untuk aspek teknis seperti perizinan karantina hewan dan skema pembayaran lintas batas yang kewenangannya berada pada kementerian/lembaga teknis.

Pada 10 Juli, Kemlu RI menyampaikan bahwa D-8 HEI sukses memfasilitasi courtesy meeting antara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dengan delegasi D-8 HEI dari Iran.

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepahaman awal untuk menjajaki keterhubungan bisnis antara pelaku usaha Indonesia dan Iran, khususnya pada sektor perdagangan, peternakan, kemasan makanan, perisa, dan bioteknologi pendukung sektor pertanian dan peternakan.

Kemlu menyampaikan bahwa HIPMI akan mendorong kerja sama itu berlanjut ke tahap yang lebih konkret seperti penandatanganan Letter of Intent atau MoU, peningkatan kapasitas pebisnis kedua negara, pertukaran teknologi dan pengalaman, dan penjajakan proyek bisnis bersama.

D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) merupakan bagian dari rangkaian keketuaan Indonesia pada D-8 periode 2026-2027 yang berlangsung pada 8-12 Juli 2026 dan mengusung tema “Strengthening D-8 Halal Economy through International Collaboration.”

Baca juga: D-8 Halal Expo Indonesia raih komitmen transaksi Rp242,6 Miliar

Baca juga: Memperkuat ekosistem halal bersama D-8

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya