Kemarau Ekstrem Ancam Kesehatan Pernapasan

1 hari yang lalu 1

Jakarta, NU Online

Musim kemarau ekstrem yang dipicu fenomena El Nino tidak hanya menghadirkan ancaman kekeringan dan kebakaran hutan, tetapi juga memperbesar risiko krisis kesehatan masyarakat, salah satunya gangguan saluran pernapasan.

Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan (Pulmonologi) Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), dr. Christian Febriandri mengingatkan bahwa dampak El Nino terhadap kesehatan tidak dapat dipisahkan dari persoalan lingkungan yang memburuk.


Ia menambahkan, kekeringan berkepanjangan memicu kebakaran hutan yang pada akhirnya menurunkan kualitas udara dan meningkatkan kerentanan tubuh manusia terhadap penyakit.


“Mengakibatkan sistem ketahanan tubuh manusia menjadi rentan, kemudian kualitas udara menjadi rendah, polusi udara sulit dikontrol terutama di kawasan industri besar," ujarnya dalam Webinar Kesiapsiagaan Dampak El Nino: Memperkuat Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia, Sabtu (18/7/2026).


Febriandri menjelaskan bahwa kebakaran hutan akibat kekeringan berkepanjangan menghasilkan emisi dan partikel halus yang berbahaya bagi kesehatan. Paparan partikel tersebut, terutama PM2,5 dapat memicu iritasi saluran napas hingga mengganggu pertumbuhan paru pada anak.

“Tentunya akan meningkatkan emisi yang lebih besar dari PM2,5, ini akan menyebabkan gangguan paru atau perkembangan paru pada anak kecil,” tuturnya.

Ia mengungkapkan bahwa dampak polusi udara tidak berhenti pada keluhan sesaat. Paparan yang terjadi secara terus-menerus dapat menyebabkan perubahan fungsi paru, baik yang masih dapat dipulihkan maupun yang bersifat permanen. Bahkan, polusi udara juga berisiko memengaruhi kesehatan jantung.


“Dari awalnya iritasi paru, terus kelamaan jadi perubahan fungsi paru yang yang bisa permanen maupun reversible, terus ada gangguan di jantung juga, dan dampaknya tidak tunggal bisa menyebar ke fungsi organ lain,” ungkapnya.


Untuk dampak akut, masyarakat dapat mengalami iritasi pada mata dan mukosa saluran napas, hidung berair, hingga peradangan pada saluran napas bagian bawah. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta memperparah serangan asma.

"Kalau akut iritasinya, mukosanya kena, matanya merah, hidung berair. Kalau besar gangguan pernafasannya di bagian bawah paru akan meradang, dan juga peningkatan ISPA, serangan asma,” katanya.


Febriandri menghimbau masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan polusi udara dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, beralih ke transportasi massal, tidak membakar sampah sembarangan, serta menghemat konsumsi listrik.

“Sering-sering memantau kualitas udara secara reltime sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Kalau mengambil keputusan beraktivitas di luar rumah, gunakan masker secara berkala,” ujarnya.

Ia menyarankan masyarakat menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Bagi penderita penyakit jantung, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), maupun penyakit paru lainnya, kewaspadaan perlu ditingkatkan dengan mengenali tanda-tanda perburukan penyakit sejak dini.

“Apabila terjadi masalah kesehatan yang mengganggu atau terjadi serangan, segera memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” tegasnya.

Baca Artikel Selengkapnya