Kelola Online Scam di Madagaskar, 148 Warga China Diekstradisi

48 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Penggerebekan sejumlah pusat penipuan daring di Madagaskar mengungkap keterkaitan operasi tersebut dengan kelompok kriminal yang sebelumnya menjalankan kegiatan serupa di Kamboja.

Jaringan itu diduga menipu warga Afrika melalui skema perdagangan manusia, menurut keterangan sejumlah pejabat lokal kepada kantor berita AFP.

Pusat-pusat penipuan tersebut menjalankan berbagai modus, mulai dari penipuan asmara, mata uang kripto, hingga investasi. Sebagian besar operasi diduga dikelola warga negara China. Kementerian Kehakiman Madagaskar menyebut sebanyak 148 warga China telah diekstradisi terkait rentetan kasus ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebanyak 13 kompleks penipuan yang dikelola warga China dibongkar dalam operasi pada Agustus dan September, yang dilakukan bersama Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ). Dalam satu hari, aparat menyita aset mata uang kripto senilai sekitar US$52 juta dan memeriksa lebih dari 3.200 perangkat elektronik, menurut pernyataan otoritas AS.

Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) sebelumnya telah memperingatkan perluasan jaringan semacam ini, terutama ke kawasan Afrika bagian selatan.

Penggerebekan tersebut juga menjadi sorotan setelah 11 warga China yang ditangkap dalam operasi pemberantasan penipuan daring dilaporkan bebas secara misterius dari penjara Madagaskar pada Agustus. Skandal itu diduga melibatkan kepala lembaga pemasyarakatan setempat.

Sementara itu, sejumlah warga negara Afrika masih ditahan meskipun temuan awal menunjukkan mereka kemungkinan merupakan korban perdagangan manusia, menurut para pejabat.

Seperti dalam operasi penipuan di Asia Tenggara, pusat-pusat penipuan di Madagaskar diduga merekrut warga Afrika melalui media sosial dengan iming-iming pekerjaan dan gaji.

Dalam kasus ini, sekitar 20 warga Kenya, Rwanda, Uganda, dan Zimbabwe dilaporkan berada dalam tahanan.

"Mereka mengaku direkrut melalui Facebook untuk bekerja di sektor komersial di Madagaskar," ujar Kepala Unit Kejahatan Kepolisian Madagaskar, Hassan Mouigni, kepada AFP.

"Namun saat ketibaan, sebagian besar paspor mereka disita oleh pemimpin operasi, dan mereka dipaksa menjalankan penipuan. Mereka ini adalah korban penipuan," sambungnya.

Salah satu skema penipuan asmara diduga dijalankan oleh warga Malaysia bernama Chui Kok Wa. Otoritas Amerika Serikat (AS) menyebut Chui tinggal di sebuah vila di kawasan elite Ivato, dekat ibu kota Madagaskar, Antananarivo.

Mouigni mengatakan, berdasarkan visa dalam paspor Chui, pria tersebut pertama kali tiba di Madagaskar pada 2024 dan sebelumnya pernah berada di Kamboja.

Departemen Kehakiman AS menduga kelompok kriminal yang memiliki hubungan dengan Malaysia dan China mulai membuka kompleks penipuan di Madagaskar pada awal 2025. Kelompok tersebut kemungkinan memindahkan operasinya dari Kamboja setelah aparat penegak hukum melakukan penindakan di negara itu.

Koordinator unit kejahatan siber di Kementerian Komunikasi Madagaskar, Tsitohaina Ralihivao, mengaitkan perpindahan tersebut dengan operasi pemberantasan kompleks penipuan di Kamboja pada 2025, khususnya di wilayah dekat perbatasan Thailand, ketika kedua negara juga terlibat bentrokan militer.

"Setelah kompleks-kompleks tersebut dibongkar oleh otoritas Thailand, jaringan yang sama memindahkan operasinya ke Madagaskar," ucapnya.

Memindahkan operasi ke Afrika

Dokumen pengadilan FBI yang dibagikan Departemen Kehakiman AS memperkuat dugaan perpindahan operasi tersebut. Dokumen itu memuat keterangan tiga warga Brasil yang pernah bekerja di sebuah kompleks penipuan di Antananarivo.

Ketiganya mengaku awalnya merespons tawaran pekerjaan yang dipublikasikan secara daring, tetapi kemudian berakhir bekerja di sebuah kompleks penipuan di Kamboja.

Mereka kemudian dipindahkan ke Antananarivo pada awal Mei 2026. Pemindahan itu, menurut dokumen tersebut, antara lain dipicu konflik bersenjata antara Kamboja dan Thailand serta aktivitas kepolisian Kamboja terkait pemberantasan kompleks penipuan.

"Pusat-pusat penipuan siber semakin banyak dibuka di Afrika setelah kompleks serupa ditutup di Asia Tenggara," sebut pernyataan FBI.

Mouigni mengatakan otoritas AS turun tangan karena pusat-pusat tersebut terutama menargetkan negara-negara berbahasa Inggris, termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Pakistan.

Kondisi itu membuat jaringan tersebut membutuhkan tenaga kerja dari negara-negara Afrika yang menggunakan bahasa Inggris, kata Ralihivao.

Keberadaan pusat penipuan tersebut mulai menarik perhatian warga di ibu kota Madagaskar. Mouigni mengatakan, taktik awal para pelaku adalah menyewa vila-vila yang tidak terlalu menarik perhatian.

"Namun, aktivitas mereka mulai terungkap ketika mereka beralih menyewa seluruh bangunan hotel," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Salah satu kompleks yang beroperasi di Live Hotel di Antananarivo diduga dipimpin seorang warga China yang termasuk dalam kelompok yang telah diekstradisi ke Beijing.

Seorang petugas kepolisian federal AS mengatakan dalam dokumen pengadilan bahwa warga China yang teridentifikasi sebagai pemimpin operasi tersebut tidak dapat diperiksa oleh FBI.

(dna)

Baca Artikel Selengkapnya