GAZA — Saat berjalan menyusuri tenda-tenda pengungsian di Jalur Gaza, tak butuh waktu lama untuk mendengar pertanyaan yang membebani hati para orang tua: "Apa yang akan kita makan hari ini?"
Pertanyaan yang terdengar sederhana. Hanya saja, tersimpan ketakutan mendalam untuk diungkapkan dengan kata-kata bagi warga Gaza. ketakutan bahwa anak-anak akan terbangun dalam keadaan lapar. Kemudian, setelah berjam-jam mencari, orang tua mereka kembali tanpa membawa apa pun untuk mengisi perut mereka.
Pertanyaan tersebut kembali datang seiring menyusutnya pasokan makanan pokok serta semakin langkahnya buah dan sayuran. Banyak keluarga tidak lagi mampu membeli sisa barang yang ada di pasar akibat melonjaknya harga.
Setiap hari, para orang tua menghadapi tugas yang sama: berangkat pagi-pagi sekali untuk mencari sesuap nasi bagi anak-anak mereka, tanpa jaminan akan mendapatkannya atau bahkan kembali dengan selamat. Mereka berjuang di tengah ancaman genosida dan pemboman yang terus berlangsung di sekeliling mereka.
Di Jalur Gaza, tempat dimana blokade dan perang bertahun-tahun telah mendorong keluarga-keluarga ke ambang kehancuran, kekhawatiran akan kelaparan kembali mencuat. Warga khawatir akan munculnya gelombang kelaparan ketiga, yang membangkitkan kembali ingatan akan penderitaan mendalam yang belum sempat mereka pulihkan.
Mohammed Shurrab (42 tahun), seorang ayah tiga anak yang terpaksa mengungsi dari Khan Younis di Gaza selatan, mengatakan, laporan mengenai ancaman kelaparan yang kembali datang telah membangkitkan perasaan mengerikan. Padahal, dia sempat berharap kondisi itu tidak akan pernah dihadapinya lagi.
"Sejak saya mendengar kelaparan kembali mengancam, saya merasa seolah-olah mimpi buruk baru sedang membayangi. Ketika anak-anak saya tahu bahwa pasar-pasar kosong atau barang-barang pokok menjadi sangat langka, dan apa pun yang tersedia harganya sangat mahal, mereka mulai menangis,"kata dia dikutip dari Palestine Chronicle, Ahad(25/10/2026).
Bagi Mohammed, berita tersebut bukan sekadar hilangnya barang-barang tertentu dari pasar. Ini adalah tentang ketakutan tidak mampu memberi makan anak-anaknya pada hari-hari mendatang. Mereka harus bertahan di dalam kondisi yang menyisakan sedikit sekali harapan untuk bertahan menghadapi krisis lainnya.
Ia bertanya dengan nada pahit, "Apa yang sedang ditunggu dunia? Apakah mereka menunggu anak-anak dan lansia meninggal sebelum mengambil tindakan? Di mana para mediator dan organisasi hak asasi manusia di tengah semua yang terjadi ini? Mengapa mereka tidak bertindak untuk menghentikan gelombang ini sebelum menjadi lebih buruk?"

1 jam yang lalu
1





English (US) ·
Indonesian (ID) ·