Katib Syuriyah PWNU Jakarta Ajak Lanjutkan Perjuangan KH Syukron Ma'mun

1 jam yang lalu 1

Jakarta, NU Online Jakarta
Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Lukman Hakim Hamid mengajak para santri, alumni, dan umat Islam untuk meneruskan warisan ilmu dan nilai-nilai perjuangan almarhum Prof KH Syukron Ma’mun. Menurutnya, wafatnya seorang ulama tidak berarti berakhirnya pengabdian dan pengaruhnya bagi umat.

Kiai Lukman menegaskan, ilmu yang telah diajarkan KH Syukron Ma’mun harus terus menjadi pedoman hidup, terutama bagi keluarga besar Pesantren Daarul Rahman Jakarta. Keteladanan almarhum dalam berdakwah, mempertahankan prinsip, dan menyebarkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah perlu diteruskan oleh generasi penerus.

“Jasadnya sudah dikubur, tetapi pelajaran apa pun yang sudah beliau sampaikan menjadi bekal hidup kita, khususnya bagi santri dan alumni. Kalau guru, walaupun sudah ratusan tahun, jasanya tetap hidup,” ungkap KH Lukman di acara Tahlil malam keempat KH Syukron Ma'mun di  Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026).

Ia menjelaskan, KH Syukron Ma’mun merupakan ulama yang dikenal teguh memegang prinsip dan berani mempertahankan pendiriannya. Julukan Singa Podium yang melekat pada almarhum mencerminkan keberanian dalam berdakwah sekaligus keteguhan menyampaikan pandangan di hadapan masyarakat maupun pemerintah.

“Beliau ini adalah orang yang sangat memegang teguh prinsip dan tidak tergoyahkan dengan apa pun. Beliau orang yang tidak takut kepada pemerintah. Nah, itu kelebihannya KH Syukron,” tuturnya.

Menurut Kiai Lukman, keteguhan tersebut merupakan salah satu warisan penting yang patut diteladani oleh para santri dan alumni. Ia berharap Pondok Pesantren Daarul Rahman terus melahirkan ulama yang memiliki keluasan ilmu, keberanian berdakwah, dan keteguhan dalam memperjuangkan nilai-nilai agama.

“Mudah-mudahan dari Daarul Rahman ini akan lahir Kiai Syukron-Kiai Syukron masa kini,” harapnya.

Kiai Lukman menjelaskan, KH Syukron Ma’mun lahir di Sampang, Madura, pada 1941. Kiprah dakwahnya telah dimulai sejak usia muda. Ketika masih duduk di kelas dua sekolah menengah atas (SMA), almarhum sudah aktif menyampaikan ceramah keagamaan. Pada usia 26 tahun, ia dikenal sebagai Singa Podium di sejumlah wilayah Jawa Timur, antara lain Nganjuk, Madiun, dan Bojonegoro.

Perjalanan tersebut, menurutnya, menunjukkan besarnya pengabdian KH Syukron Ma’mun dalam menyebarkan ajaran Islam. Meski berasal dari Madura, almarhum kemudian menjadi salah satu ulama yang berpengaruh dalam kehidupan keagamaan masyarakat Jakarta.

Selain mengamalkan warisan keilmuan, Kiai Lukman mengingatkan umat Islam agar senantiasa menjaga penghormatan kepada guru. Ia menilai, hubungan antara guru dan murid tidak berakhir ketika sang guru meninggal dunia. Jasa dan ilmu yang diwariskan tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup seorang murid.

Ia mengaitkan penghormatan kepada guru dengan konsep birrul walidain, yakni berbakti kepada orang tua. Dalam tradisi keilmuan Islam, guru dipandang sebagai orang tua dalam agama karena telah membimbing murid menuju pemahaman ilmu dan kehidupan yang lebih baik.

“Orang yang mengajarkan kita walaupun satu huruf, itu orang tua kita. Makanya Sayyidina Ali pernah berkata, aku adalah budak bagi orang yang mengajariku walaupun hanya satu huruf,” jelasnya.

Kiai Lukman juga mengenang pertemuan terakhirnya dengan KH Syukron Ma’mun ketika bersilaturahmi menjelang Muktamar NU. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar tiga setengah jam tersebut, ia mengaku dapat menimba ilmu melalui percakapan langsung bersama almarhum.

“Sowan saya terakhir kepada beliau ketika mau Muktamar, tiga jam setengah. Jadi, ngajinya lewat sowan,” kenangnya.

Selengkapnya klik di sini.

Baca Artikel Selengkapnya