Jakarta, CNN Indonesia --
Media Malaysia mempertanyakan pemerintah Malaysia yang belum juga mengungkap hasil penyelidikan pilot Malaysia Airlines Mohd Saufi bin Othman yang bisa lolos saat membawa 70.000 butir pil ekstasi ke Indonesia.
"Dua minggu telah berlalu, dan pertanyaan tentang bagaimana seorang kopilot Malaysia yang ditangkap di Jakarta karena membawa narkoba bisa lolos dari pemeriksaan bagasi di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) belum terjawab," tulis media Berita Harian, Senin (10/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun berbagai pertanyaan muncul seputar kasus ini, terutama mengenai pemeriksaan keamanan di KLIA, pihak berwenang belum memberikan jawaban pasti tentang bagaimana 25 kilogram bagasi berisi narkoba bisa lolos dari pemeriksaan keamanan," tulis Berita Harian.
Saufi ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Indonesia, setelah didapati membawa 70.000 butir ekstasi setara dengan 26 kg pada 28 Juli lalu.
Keberhasilan Saufi yang bisa lolos dari pemeriksaan di Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia, kemudian menjadi tanda tanya. Dua pekan insiden terjadi, pihak pemerintah Malaysia pun belum mengungkap bagaimana Saufi bisa lolos pemeriksaan.
"Masyarakat mempertanyakan bagaimana bagasi pilot, yang berisi 14 paket besar berisi 70.114 pil ekstasi seberat 25,19 kilogram (kg), ditambah satu paket sabu seberat 2,75 gram (g) dan residu sabu seberat 0,08 g dalam pipa kaca, dengan mudah berhasil menembus sistem keamanan di KLIA pada 28 Juli," tulis Berita Harian.
Sebelumnya, pihak Malaysia menyatakan pemeriksaan keamanan di KLIA adalah tanggung jawab Tim Keamanan Penerbangan Bandara (AVSEC), yang merupakan unit di Malaysia Airports Holdings Berhad (MAHB).
Lembaga di bawah Kementerian Dalam Negeri (KDN), yaitu Badan Pengawasan dan Perlindungan Perbatasan Malaysia (AKPS), juga terlibat dan menggunakan mesin pemindai berbasis kecerdasan buatan (AI).
MAHB menyatakan deteksi, investigasi, dan penegakan hukum terhadap kasus-kasus yang melibatkan zat terlarang yang tidak mengancam keselamatan penerbangan berada di bawah yurisdiksi AKPS.
AKPS kemudian menyatakan pemeriksaan bagasi dilakukan oleh AVSEC dan investigasi awal menemukan bahwa tidak ada benda mencurigakan yang terdeteksi ketika koper pilot Saufi melewati mesin scanner sebelum diizinkan naik ke pesawat.
Menteri Dalam Negeri Malaysia, Saifuddin Nasution Ismail, juga memastikan alat scanner yang digunakan di KLIA mampu mendeteksi narkoba. Namun, Saifuddin mengklaim protokol pemeriksaan lebih menitikberatkan pada deteksi senjata, termasuk senjata api, benda tajam, dan bahan peledak.
"Dari sudut pandang cakupan inspeksi, fokus [saat ini] lebih pada unsur persenjataan daripada barang selundupan. Ini adalah salah satu aspek perbaikan yang perlu kita fokuskan sesuai dengan keahlian petugas yang melakukan inspeksi," ucap Saifuddin.
(har/bac)

2 jam yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·