Kapal-Kapal Perang AS Merapat ke Timur Tengah Saat Upaya Mediasi Jenderal Pakistan ke Iran Gagal

1 jam yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengerahkan kekuatan Angkatan Laut tambahan dan ribuan personel militer ke Timur Tengah saat upaya diplomatik terbaru untuk mencegah konflik baru dengan Iran menemui kebuntuan. Financial Times (FT) dilansir Gulf News, Rabu (21/10/2026), mengerahkan kapal induk USS Theodore Roosevelt beserta kapal-kapal pengawalnya dan kelompok kapal amfibi UU Makin Island.

Masih menurut laporan FT, pengerahan kapal-kapal itu juga melibatkan 9.000 pelaut dan Marinir. UUS Theodore Rooselvelt diketahui berangkat dari pangkalan di San Diego pada 27 September dan diharapkan tiba di kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.

Pergerakan kapal-kapal itu tidak memastikan bahwa sebuah serangan baru terhadap Iran sudah diputuskan oleh Presiden AS Donald Trump. Namun, mereka dikirim ke Timur Tengah saat Iran menolak untuk menyerahkan uranium diperkaya yang mereka miliki saat ini kecuali Washington lebih dulu memenuhi tuntutan mereka untuk kemudian melanjutkan proses negosiasi.

Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menegaskan kepada Kepala Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir selaku mediator bahwa, Teheran tak akan memperbolehkan uranium diperkaya keluar dari negara mereka. Ia juga menegaskan kepada mediator bahwa perundingan damai dengan AS hanya akan dilanjutkan jika tuntutan Iran dipenuhi.

Asim Munir diketahui berada di Teheran sebagai bagian dari upaya mendorong kembali sebuah perundingan untuk mencapai kesepakatan damai antara Iran dan AS. Kepada Munir, Rezaei menegaskan bahwa material nuklir "adalah aset utama dan kekayaan nasional rakyat Iran," demikian dilaporkan AFP dilansir Hindustan Times, Rabu (21/10/2026).

Terkait kelanjutan dialog dengan Washington, Rezaei mengatakan, "Tidak akan ada negosiasi hingga Amerika mengambil langkah untuk membangun kepercayaan -- sebuah proses yang harus dimulai dengan memenuhi tuntutan Iran."

Dalam pertemuannya dengan Asim Munir, Rezaei juga menekankan kurang percayanya Teheran terhadap Washington, sambil mengatakan, "Hari ini, bangsa kami tidak memercayai Amerika. Diyakini bahwa jika kami masuk ke proses negosiasi, mereka akan menyerang kami lagi."

Pernyataan Rezaei itu merepresentasikan sikap keras Iran dalam perundingan-perundingan sebelumnya, di mana Teheran berulang kali mengatakan bahwa pembicaraan gencatan senjata dimulai hanya setelah AS menerima tuntutan Iran. Tuntutan itu termasuk akhir dari blokade maritim AS, pencabutan sanksi atas ekspor minyak Iran dan penghentian permusuhan di semua front.

Jenderal Asif Munir yang telah lima kali mengunjungi Iran sejak Juni, pada Selasa (20/10/2026) bertemu dengan pejabat tinggi Iran sebagai bagian dari upaya deeskalasi di kawasan Asia Barat. Munir ditemani oleh Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi, bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dan juga menggelar pertemuan dengan Juru Bicara Perlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.

Senada dengan Rezaei, Ghalibaf juga menegaskan longsornya rasa percaya Iran terhadap Washington, sambil merujuk pada pelanggaran yang dilakukan AS terhadap perjanjian gencatan senjata yang diteken pada Juni lalu. Ghalibaf menegaskan bahwa, Washington harus memenuhi tujuh tuntutan Teheran, dan mengatakan bahwa ancaman tak akan mengubah keputusan-keputusan strategis Teheran.

sumber : Antara, Anadolu

Baca Artikel Selengkapnya