Jakarta, CNN Indonesia --
Sekitar 15 orang termasuk bayi baru lahir tewas dalam serangan militer Myanmar di sejumlah lokasi sepanjang akhir pekan, termasuk sebuah klinik bersalin dan sekolah, Senin (2/11).
Reuters melaporkan serangan udara tersebut berlangsung ketika junta militer Myanmar mulai kembali "diterima" oleh sesama negara Asia Tenggara menyusul kudeta pada 2021 lalu hingga persekusi yang diterima komunitas Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan ini juga berlangsung ketika junta militer Myanmar meningkatkan operasi untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang jatuh ke tangan kelompok perlawanan, yang kini menguasai sebagian besar wilayah negara itu.
Juru bicara junta militer Myanmar belum segera menanggapi permintaan komentar terkait rentetan serangan selama akhir pekan. Namun, sebelumnya, Myanmar menyatakan pihaknya tengah menjalankan operasi yang sah untuk memerangi "teroris".
Pada 1 November, serangan udara menghantam empat wilayah kecamatan di Rakhine, Myanmar barat. Pertempuran di kawasan tersebut berlangsung sengit dalam beberapa pekan terakhir.
Kelompok perlawanan Tentara Arakan menguasai sebagian besar wilayah negara bagian itu yang terus meluas dan semakin mendekati ibu kota Rakhine, Sittwe.
Serangan tersebut menghantam sebuah jembatan di Kyauktaw, sejumlah lokasi di Kyaukpyu dan Pauktaw, serta sebuah klinik darurat dan bangsal bersalin di Mrauk-U.
Juru bicara Tentara Arakan dan sejumlah sukarelawan kemanusiaan melaporkan sekitar 12 orang tewas dan 32 lainnya terluka dalam serangan itu.
Seorang bayi perempuan yang baru berusia satu minggu ikut tewas dalam gempuran itu. Sang bayi memiliki saudara kembar yang selamat.
Pekerja kemanusiaan yang berbasis di Mrauk-U, Wai Hun Aung, menuturkan dua bayi kembar itu seharusnya sudah diperbolehkan pulang keesokan harinya, tetapi "tertimpa reruntuhan dan tewas ketika bangunan tersebut ambruk akibat ledakan".
Empat orang lainnya, termasuk tenaga kesehatan, juga tewas dalam insiden itu.
Sehari sebelumnya, serangan udara di Loikaw, Negara Bagian Kayah di Myanmar timur yang berbatasan dengan Thailand, menghantam sebuah sekolah saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kelompok Hak Asasi Manusia Karenni (KnHRG) melaporkan tiga siswa tewas dan lima lainnya terluka.
Menurut KnHRG dan sekretaris Dewan Eksekutif Sementara Karenni, Banyar Khun Aung, sebuah pesawat angkut Y-12 dan sebuah jet tempur menjatuhkan lebih dari 20 bom ke sekolah di Loikaw. Keduanya mengatakan tidak ada pergerakan pasukan militer maupun bentrokan di kawasan tersebut.
"Menargetkan sekolah tempat anak-anak belajar dan berulang kali membombardirnya merupakan tindakan tidak manusiawi yang tergolong kejahatan perang," kata Banyar.
Sementara itu, Thailand ikut terganggu dengan perang sipil yang berlangsung di Myanmar ini selama bertahun-tahun.
Bangkok mengatakan jet tempur negaranya telah melakukan patroli udara setelah konflik meluas hingga melintasi perbatasan, menyebabkan rumah-rumah rusak dan sedikitnya satu orang terluka di wilayah Thailand.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan pemerintahnya telah mendesak Myanmar agar bertindak hati-hati untuk memastikan situasi tersebut tidak berdampak pada Thailand.
(rds)

10 jam yang lalu
3





English (US) ·
Indonesian (ID) ·