Jumlah Anak Palestina di Penjara Israel Meningkat 8 Kali Lipat

2 jam yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Kekejaman Israel terhadap warga Palestina tidak hanya menyasar orang dewasa, tapi juga anak-anak.

Organisasi Parents Against Child Detention menyebutkan, jumlah anak di bawah umur yang ditahan secara administratif selama lebih dari satu tahun meningkat lebih dari delapan kali lipat, dari enam orang pada Maret 2025 menjadi 50 orang pada Maret 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dan yang lebih memprihatinkan lagi, anak-anak yang ditahan secara administratif itu, ditahan tanpa batas waktu, tanpa dakwaan atau pengadilan.

Di bawah praktik kontroversial ini, yang menurut Israel diperlukan untuk mengatasi ancaman keamanan yang mendesak, bahkan para tahanan anak-anak tidak diberitahu tentang tuduhan terhadap mereka, dan bukti apa pun disajikan di pengadilan dalam proses yang dirahasiakan.

Direktur eksekutif Parents Against Child Detention, Titi Carmel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa angka-angka tersebut mengkhawatirkan.

"Sementara anak-anak di Israel dan di seluruh dunia menikmati liburan musim panas mereka, semakin banyak anak-anak Palestina ditahan dalam kondisi keras yang identik dengan kondisi orang dewasa. Yang sangat mengkhawatirkan adalah peningkatan tajam jumlah anak-anak yang ditahan dalam penahanan administratif - penahanan tanpa dakwaan atau pengadilan, berdasarkan bukti rahasia," katanya dikutip dari Times of Israel.

Menurut Dinas Penjara Israel, total 3.198 warga Palestina saat ini ditahan dalam penahanan administratif, sebagian besar berasal dari Tepi Barat.

Angka tersebut tidak termasuk warga Palestina yang ditahan selama perang di Gaza yang oleh Israel diklasifikasikan sebagai "kombatan ilegal."

Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Katz justru membanggakan diri karena telah menghentikan persetujuan perintah penahanan administratif terhadap tersangka Yahudi. Sebaliknya, secara signifikan praktik tersebut meningkatkan terhadap tersangka Arab.

Untuk membenarkan kebijakannya membedakan antara Yahudi dan Arab, Katz yang juga seorang zionios ekstrim, mengklaim bahwa kekerasan yang dilakukan oleh para pemukim bukanlah terorisme, sedangkan kekerasan yang dilakukan oleh orang Arab adalah terorisme.

(imf/bac)

Baca Artikel Selengkapnya