REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Agen federal Amerika Serikat menggeledah kediaman anggota Kongres Ilhan Omar di Washington, D.C., Senin (12/10/2026) dini hari. Tindakan itu dilakukan hanya sekitar tiga pekan sebelum pemilu sela AS, ketika politisi Muslim kelahiran Somalia tersebut tengah berupaya mempertahankan kursinya di DPR.
Penggeledahan dilakukan Homeland Security Investigations (HSI), unit investigasi di bawah otoritas imigrasi dan keamanan dalam negeri AS. Departemen Kehakiman AS atau Department of Justice (DOJ) mengonfirmasi agen menjalankan surat perintah penggeledahan yang telah mendapat persetujuan pengadilan sebagai bagian dari penyelidikan kriminal federal yang masih berlangsung.
Namun, pemerintah AS belum membuka kepada publik dasar faktual yang diajukan untuk memperoleh surat perintah tersebut. DOJ juga belum membeberkan secara lengkap dugaan pidana yang sedang diselidiki.
ABC News melaporkan Omar hingga Senin belum didakwa melakukan kejahatan. Politisi Partai Demokrat itu sebelumnya juga telah membantah berbagai tuduhan mengenai pelanggaran imigrasi yang selama bertahun-tahun diarahkan kepadanya.
Fakta tersebut menjadi batas penting dalam membaca perkembangan terbaru. Penggeledahan dengan surat perintah pengadilan menunjukkan penyelidikan telah mencapai tahap ketika penyidik meyakinkan hakim bahwa pencarian dapat dilakukan secara sah, tetapi tindakan itu tidak sama dengan putusan bahwa Omar melakukan kejahatan.
CBS News, mengutip tiga sumber yang mengetahui penyelidikan, melaporkan kasus tersebut berpusat pada dokumen imigrasi Omar. Dokumen yang sedang diteliti disebut berasal dari masa kecilnya dan mencakup dokumen yang diisi mendiang ayah Omar ketika ia masih anak-anak.
HSI memimpin penyelidikan tersebut dengan bantuan Departemen Kehakiman. Hingga berita ini ditulis, rincian mengenai dokumen mana yang diduga bermasalah dan dugaan pelanggaran hukum apa yang sedang diperiksa belum diumumkan secara resmi.
Hal itu juga berarti penyelidikan terbaru tidak dapat begitu saja disamakan dengan berbagai tuduhan lama yang telah beredar mengenai kehidupan pribadi Omar. Wall Street Journal melaporkan pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya menyinggung dugaan lama mengenai pernikahan dan persoalan imigrasi Omar, tetapi tuduhan tersebut telah dibantah Omar selama lebih dari satu dekade.
CBS, sebaliknya, secara spesifik melaporkan penyelidikan sekarang berfokus pada dokumen yang berasal dari masa kanak-kanaknya. Belum ada bukti publik yang menunjukkan seluruh tuduhan lama terhadap Omar merupakan bagian dari dasar surat perintah yang dijalankan Senin.
Penggeledahan sebelum fajar
Fox News, yang pertama kali melaporkan operasi tersebut, menyebut agen HSI mendatangi kediaman Omar pada Senin pagi sebelum matahari terbit. DOJ kemudian mengonfirmasi bahwa surat perintah tersebut telah mendapat otorisasi yudisial.
CBS News juga mengonfirmasi operasi sebelum fajar tersebut melalui tiga sumber yang mengetahui investigasi. Washington Post selanjutnya melaporkan bahwa penggeledahan merupakan bagian dari penyelidikan federal yang sedang berjalan, tetapi pemerintah tidak memberikan rincian mengenai benda atau dokumen apa yang dicari maupun disita.
Keberadaan surat perintah pengadilan mempunyai arti hukum tertentu. Dalam sistem federal AS, penyidik harus memperoleh persetujuan hakim sebelum menggeledah sebuah rumah berdasarkan surat perintah.
Tetapi standar untuk memperoleh surat perintah berbeda dengan standar untuk membuktikan kesalahan dalam persidangan. Penggeledahan dimaksudkan untuk mencari bukti yang dinilai relevan bagi penyelidikan, sedangkan tuduhan pidana tetap harus melalui proses hukum berikutnya.
Karena dokumen pendukung surat perintah belum dibuka, publik belum mengetahui bukti apa yang diajukan pemerintah kepada hakim. Belum diketahui pula apakah Omar sendiri merupakan target utama, subjek penyelidikan, atau apakah rumahnya digeledah karena penyidik mencari dokumen tertentu terkait kasus yang lebih luas.
Tiga pekan menuju pemilu
Waktu penggeledahan membuat kasus tersebut segera memperoleh dimensi politik. Pemilu federal AS dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026, menurut Federal Election Commission, sehingga operasi terhadap kediaman Omar terjadi hanya 22 hari sebelum pemungutan suara.
Omar sedang maju kembali untuk mempertahankan kursi Minnesota Distrik Kongres ke-5. CBS Minnesota melaporkan ia memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat pada Agustus dengan lebih dari 80 persen suara.
Washington Post menyoroti bahwa timing operasi tersebut sensitif karena Departemen Kehakiman secara tradisional berhati-hati melakukan tindakan investigasi terbuka terhadap kandidat politik mendekati hari pemungutan suara. Tujuannya adalah menghindari tindakan penegakan hukum yang dapat dianggap memengaruhi pemilu.
Namun, apa yang kerap disebut sebagai “aturan 60 hari” bukan larangan hukum absolut. Washington Post dalam pemberitaan sebelumnya menjelaskan bahwa praktik tersebut merupakan norma lama dan pedoman kehati-hatian di lingkungan DOJ, bukan undang-undang yang secara otomatis melarang tindakan penyidikan menjelang pemilu.
Karena itu, fakta bahwa penggeledahan berlangsung 22 hari sebelum pemilu tidak dengan sendirinya membuktikan adanya motif politik. Sebaliknya, waktunya membuat pemerintah menghadapi tuntutan lebih besar untuk menjelaskan dasar hukum operasi tersebut secara transparan.

37 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·