Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkan Prof Mohammad Nuh sebagai Katib Aam PBNU masa khidmah 2026-2031. Keputusan tersebut disampaikan dalam pengumuman susunan PBNU di Jakarta, Rabu malam, 30 September 2026.
Mohammad Nuh lahir di Surabaya pada 17 Juni 1959. Ia merupakan arek Suroboyo asli yang tumbuh dalam lingkungan agamis. Ayahnya, KH Muchammad Nabhani, merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Gununganyar, Surabaya.
Ia menamatkan pendidikan sarjana (S1) Teknik Elektro di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada 1983. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar magister (S2) dan doktor (S3) di bidang teknologi dari École Centrale de Nantes, Prancis.
Mengawali karier sebagai dosen di ITS, pada 1997 Mohammad Nuh dipercaya menjadi Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Kemudian, pada 15 Februari 2003, ia dikukuhkan sebagai Rektor ITS pada usia 42 tahun sehingga menjadi rektor termuda dalam sejarah ITS.
Ia kemudian dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Sistem Kontrol Digital dengan spesialisasi Sistem Rekayasa Biomedika.
Namanya semakin dikenal luas ketika dipercaya menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia pada 2007-2009. Dalam posisi tersebut, ia turut berkontribusi dalam penataan frekuensi digital nasional.
Setelah itu, Mohammad Nuh dipercaya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 2009-2014. Pada periode tersebut, ia menginisiasi lahirnya Kurikulum 2013 (K-13) yang menekankan pembentukan karakter siswa serta meluncurkan program beasiswa Bidikmisi yang membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pada 2019-2022, Mohammad Nuh terpilih menjadi Ketua Dewan Pers.
Selain itu, sejumlah jabatan pernah diembannya, antara lain Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Sekretaris Yayasan Dana Sosial Al Falah Surabaya, anggota Pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsis) Surabaya yang menaungi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), serta Ketua Yayasan Pendidikan Al Islah Surabaya.
Karier di Nahdlatul Ulama
Karier Mohammad Nuh di Nahdlatul Ulama berawal dari keterlibatannya sebagai pengurus Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya. Ia kemudian masuk jajaran Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur masa Khidmah 2008-2013 dan selanjutnya menjadi Mustasyar.
Pada masa khidmah 2009-2014, pria yang akrab disapa M Nuh tersebut masuk jajaran PBNU sebagai A'wan. Selanjutnya, pada masa khidmah 2015-2019, ia dipercaya menjadi salah satu Ketua PBNU.
Pada masa khidmah 2021-2026, Mohammad Nuh menjabat sebagai Rais Syuriyah PBNU. Kini, ia kembali dipercaya mengemban amanah sebagai Katib Aam PBNU masa Khidmah 2026-2031.
Ia juga dikenal sebagai salah satu pengembang Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) yang berperan dalam mengonsolidasikan dan mendorong pendirian berbagai universitas Nahdlatul Ulama (UNU) di Indonesia.
Di antaranya, ia turut mendorong transformasi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) menjadi salah satu perguruan tinggi swasta milik NU yang berkembang pesat.
Penghargaan
Atas kiprahnya, Mohammad Nuh pernah menerima sejumlah penghargaan. Pada 2013, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana, salah satu tanda kehormatan sipil tertinggi yang diberikan Pemerintah Indonesia atas jasa luar biasa dalam memajukan pendidikan dan kebudayaan nasional selama menjabat sebagai menteri.
Pada 2016, ia menerima penghargaan The Order of the Rising Sun, Gold and Silver Star dari Pemerintah Jepang. Penghargaan tersebut diserahkan dalam sebuah upacara di Istana Kekaisaran Tokyo.
Penghargaan itu diberikan atas kontribusinya dalam mempererat hubungan Indonesia-Jepang, termasuk melalui kepemimpinannya dalam Asosiasi Rektor Universitas Jepang-Indonesia serta keterlibatannya dalam upaya kemanusiaan untuk memfasilitasi pengembalian kerangka tentara Jepang dari era Perang Dunia II.

8 jam yang lalu
3




English (US) ·
Indonesian (ID) ·