Jamu dengan Kudapan Tradisional, Ikhtiar Tuan Rumah Merawat Khidmah Muktamar

38 menit yang lalu 1

Jombang, NU Online

Sekitar satu jam sebelum forum Bahtsul Masail Maudhu'iyah Muktamar KE-35 dimulai, halaman Madrasah Aliyah Negeri 3 Jombang, Jawa Timur, berdiri tenda beserta dampar yang ditata rapi. Tak hanya itu, di sana juga sudah tersedia beragam kudapan tradisional khas Jawa Timur yang disiapkan sebagai jamuan.

Getuk, klanting, ongol-ongol, lepet, sawut ketela, hingga aneka kukusan tersaji rapi di sisi kanan dan kiri pintu ruangan. Aneka minuman seperti teh, kopi dan air mineral juga disediakan untuk menemani para peserta mengikuti forum yang berlangsung hingga malam.

Menurut panitia, sajian tersebut merupakan perhatian terhadap kesehatan sekaligus bentuk penghormatan kepada para tamu yang datang dari berbagai daerah untuk mengikuti rangkaian Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama.

Rahmi Nur Azizah, panitia bagian konsumsi mengatakan bahwa berbagai kudapan  yang disediakan dipilih dengan mempertimbangkan bahan dan cara mengolahhya. Hal ini dilakukan sebagai ikhtiar untuk menjaga kondisi para muktamirin agar tetap bugar selama mengikuti agenda Muktamar.

“Jadi pertimbangan kami supaya muktamirin tetap sehat, segar bugar, dan semangat mengikuti Muktamar sampai akhir,” katanya saat ditemui NU Online di lokasi, Jumat (28/8/2026) malam.

Rahmi memandang, pelayanan kepada para peserta sebagai bagian dari khidmah. Tuan rumah berusaha memberikan yang terbaik kepada tamu yang datang untuk menjalankan tugas organisasi dan mengikuti permusyawaratan.

“Semoga apa yang kami suguhkan ini menambah khidmah kita di NU, dan dari hasil muktamar ini menghasilkan keputusan dan pimpinan yang benar-benar membawa NU semakin maju dan bermanfaat,” harapnya.

Setelah persiapan rampung, pimpinan sidang membuka forum dengan pembacaan Surah Al-Fatihah. Pembahasan kemudian berlanjut pada tiga tema secara berurutan, yakni I'adatun Nazhar, Pajak Berkeadilan, dan Nilai-nilai Keulamaan.

Suasana forum pun berubah dengan khidmat. Para peserta saling melemparkan pandangan dan menyahut argumentasi dalam proses musyawarah keagamaan. Namun, keseriusan pembahasan sesekali diselingi humor khas pesantren dengan istilah fiqhiyah nya. 

Di sela-sela perdebatan, panitia silih berganti mengambil kudapan yang tersedia di meja belakang. Bagi peserta dari luar Jawa, sajian tersebut juga menjadi pengalaman tersendiri. Munajib Khalid, salah seorang peserta asal Nusa Tenggara Barat, mengaku baru pertama kali mencicipi sejumlah makanan tradisional Jawa Timur.

“Saya enggak tahu namanya. Tapi ini rasanya enak,” katanya sembari menunjukkan ongol-ongol yang ia pegang.

Baca Artikel Selengkapnya