Personel paramiliter wanita Iran dari Basij dalam aksi Jan-Fada di Teheran, Jumat (18/9/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Juru bicara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, pada Rabu (14/10/2026) mengatakan bahwa Iran, "memiliki senjata-senjata canggih baru usai perang 40 hari yang diterapkan oleh AS." Mohebbi pun tidak menafikan kemungkinaan pecahnya perang baru.
Berbicara dengan media berbahasa Inggris di Teheran, Mohebbi menegaskan, bahwa Angkata Bersenjata Iran telah sangat siap untuk merespons potensi agresi apapun sejak negaranya diperlengkapi senjata-senjata canggih tambahan.
Mohebbi menegaskan, Iran telah bersiap untuk merespons agresi lanjutan dengan kekuatan lebih besar dari sebelumnya, dan konsekuensi dari aksi agresi oleh AS akan "lebih menyakitkan."
Mohebbi juga mengkritik liputan media terhadap perang AS terhadap Iran. Menurutnya, Trump memiliki keyakinan bahwa publik AS tidak terinformasikan dengan baik atas realita konflik dan media arus utama menutup kebenaran atas apa yang disebutnya sebagai "aksi agresi yang kejam".
Ia juga membantah pernyataan-pernyataan yang diutarakan pejabat Washington soal adanya jurang pemisah dan kurangnya kerja sama antara pejabat Iran dengan menyebutnya "penuh kepalsuan".

1 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·