REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Hossein Mohebbi, mengatakan akan ada "perubahan signifikan" dalam operasi pertahanan dan serangan balik Iran jika terjadi serangan baru oleh AS. Perubahan itu akan ditandai dengan pengumuman senjata baru yang diklaim bakal membuat takjub dunia.
"Perubahan tersebut mencakup pergeseran geografi perang serta perubahan jenis senjata dan peralatan militer," ujarnya kepada media setempat. "Kami akan mengerahkan senjata baru dengan kemampuan baru ke medan perang, dan dunia akan dibuat takjub."
Ia menambahkan, "Target-target kami juga tidak harus sama dengan target-target sebelumnya. Kami memiliki target baru yang belum pernah diserang."
IRGC Iran menyatakan telah mencegat dan menghancurkan sebuah pesawat nirawak (drone) MQ-1 milik AS di atas Selat Hormuz.
Dalam pernyataan yang disiarkan oleh kantor-kantor berita Iran, IRGC menyebutkan bahwa AS sebenarnya telah mempensiunkan drone MQ-1, namun terpaksa mengoperasikannya kembali setelah kehilangan banyak unit MQ-9 yang lebih canggih.
"Kedua jenis drone tersebut kini menjadi sasaran perburuan intensif oleh sistem pertahanan udara baru milik IRGC," demikian bunyi pernyataan itu. Angkatan Udara AS telah mempensiunkan varian MQ-1 Predator pada tahun 2018.
Militer Iran menyatakan keyakinannya bahwa AS berencana melancarkan kembali serangan terhadap negara tersebut dan berjanji akan membalas "tanpa batasan" jika Washington merealisasikan rencana itu.
"Berdasarkan informasi yang diterima, Amerika yang kriminal sekali lagi telah memutuskan untuk melanjutkan tindakan terhadap Iran—dengan restu dari sejumlah negara kawasan—dalam sebuah pertemuan bersama di sebuah negara Eropa," demikian pernyataan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya pada hari Ahad.
Pihaknya juga memperingatkan negara-negara kawasan bahwa mereka semua "akan dianggap terlibat" jika mendukung serangan AS, serta menegaskan bahwa mereka "tidak bisa lagi mengharapkan sikap menahan diri atau kesantunan" dari pasukan Iran.
Sementara itu, media AS melaporkan bahwa Trump sedang dalam "tahap pengambilan keputusan" dan bahwa "hal-hal yang sangat besar akan terjadi dalam waktu dekat".
Trump mengatakan kepada Fox News bahwa opsi yang tersedia adalah "melenyapkan Iran, membiarkan mereka hancur secara ekonomi, atau mencapai kesepakatan". "Pertanyaan saya adalah apakah dan kapan saya akan menghancurkan seluruh negara itu? Sebaiknya mereka bersikap tertib," ujarnya.
Kedutaan besar virtual AS untuk Iran juga mengeluarkan peringatan keamanan yang mengimbau warga untuk tidak bepergian ke Iran dengan alasan apa pun dan agar segera meninggalkan negara tersebut.
Sebelumnya, kepala keamanan Iran Mohsen Rezaei menyatakan bahwa Teheran telah menyerahkan daftar persyaratan kepada AS untuk mengakhiri konflik. Ia juga menegaskan kesiapan Iran menghadapi serangan baru dengan mengatakan: "Kami akan menghadapi Amerika dengan kekuatan yang lebih besar, serta serangan yang lebih banyak jumlahnya dan lebih menyakitkan."

51 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·