Papan reklame digital menampilkan gambar rudal saat para pendukung Houthi menggelar aksi solidaritas untuk rakyat Iran sekaligus memprotes serangan udara Amerika Serikat terhadap Iran di Sana
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Hossein Mohebi pada Kamis (20/8/2026) mengatakan, Iran telah menyiapkan senjata presisi yang lebih dahsyat jika perang kembali pecah di kawasan Timur Tengah. Pejabat senior militer Iran itu menambahkan bahwa Teheran terus meningkatkan seluruh persenjataannya dengan mengembangkan senjata yang lebih presisi, lebih destruktif, dan lebih maju secara teknologi.
"Jika perang kembali pecah, senjata yang kami gunakan tentu akan berbeda, baik dari segi generasi hulu ledak, tingkat presisi, jangkauan rudal, maupun parameter lainnya," kata Mohebi, seperti dikutip kantor berita Iran, Defa Press.
Wakil Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Reza Sheikh dikutip IRNA, Rabu (12/8/2026) mengatakan bahwa 75 persen dari total stok rudal dan drone Iran saat ini masih utuh dan siap digunakan melawan AS dan Israel. Pernyataan Ali Reza membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut kapabilitas militer Iran telah hancur.
Menurut Ali Reza, serangan AS dan Israel sejauh ini tidak seefektif klaim Washington. "Lebih dari 75 persen kapabilitas rudal dan drone Iran masih utuh dan siap," ujar Sheikh.
Dia menggambarkan sistem drone Iran telah menjadi sebuah "mimpi buruk bagi musuh", dalam sebuah pesan yang bertujuan untuk menegaskan keberlanjutan kemampuan Iran dalam menggunakan sistem drone meski diserang AS dan Israel. Komentar Ali Reza Sheikh kontras dengan klaim Trump yang menebut Iran saat ini hanya memiliki sekitar 21 hingga 22 persen dari total stok rudal dan drone.
Mengutip pejabat AS, CNN sebelumnya melaporkan bahwa Washington beralih ke strategi "pencekikan" ekonomi secara bertahap terhadap Iran daripada mengambil tindakan militer. Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan operasi ekonomi terhadap Iran, dan menyebutnya sebagai upaya isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta mendesak negara-negara sekutu untuk bergabung.
sumber : Antara, Sputnik/RIA Novosti

5 jam yang lalu
6





English (US) ·
Indonesian (ID) ·