Teheran (ANTARA) - Kepala badan energi atom Iran menegaskan negaranya tidak akan menanggalkan pengembangan teknologi nuklir domestik hanya karena "para penindas" menuntut hal demikian.
Presiden Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Mohammad Eslami menyampaikan hal tersebut saat menghadiri konferensi internasional bertajuk "Ekosida, Kejahatan Perang Senyap" di Teheran, Minggu (11/10).
Eslami menekankan bahwa bangsa Iran tidak boleh kehilangan hak atas pencapaian ilmiahnya sendiri hanya karena menolak tunduk pada tuntutan dan kebijakan yang dipaksakan pihak lain ataupun menolak menuruti perintah mereka, demikian pernyataan yang dipublikasikan di situs resmi AEOI.
Dia menegaskan bahwa meskipun telah menghadapi sanksi, tekanan, aksi sabotase, dan perang selama bertahun-tahun, Iran tetap melanjutkan kemajuannya.
Eslami menyoroti ancaman yang sering dilontarkan para pejabat Amerika Serikat (AS) mengenai serangan terhadap fasilitas nuklir Iran menggunakan senjata taktis atau bahkan senjata atom. Dia menekankan bahwa bangsa Iran tidak akan pernah menyerah.
Dia juga mengecam serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran yang berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), serta menyayangkan kegagalan IAEA dalam mengutuk serangan-serangan itu.
Berbicara di sela-sela konferensi yang sama, juru bicara AEOI Behrouz Kamalvandi menegaskan bahwa Iran akan terus memperjuangkan kepentingan nasionalnya dengan tegas, demikian dilansir kantor berita resmi Iran, IRNA.
Kamalvandi menekankan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya bersifat "damai dan transparan" serta berada di bawah pengawasan berkelanjutan IAEA.
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lain di Iran. Iran merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset AS di kawasan tersebut. Iran juga memperketat kendalinya atas Selat Hormuz.
Gencatan senjata berhasil dicapai antara pihak-pihak yang bertikai pada 8 April. Pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai penghentian perang di semua front.
Berdasarkan MoU tersebut, kedua negara dijadwalkan mengadakan perundingan dalam waktu 60 hari, yang berakhir pada 17 Agustus, untuk mencapai kesepakatan akhir mengenai program nuklir dan pencabutan sanksi Iran. Namun, kedua belah pihak gagal mencapai kemajuan yang memadai karena ketegangan terus meningkat.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Gilang Galiartha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






English (US) ·
Indonesian (ID) ·