Iran Bantah Laporan Media Saudi, Tegaskan tak Ada Negosiasi Soal Nuklir dengan AS

14 jam yang lalu 2

Seseorang berjalan melewati pagar menampilkan foto-foto wajah ilmuwan nuklir senior Iran yang terbunuh oleh serangan udara AS di Sanaa, Yaman, Selasa (28/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran pada Selasa (29/9/2026) membantah laporan media Arab Saudi, Al Hadath yang mengutip sumber Pakistan bahwa Teheran telah menyetujui untuk menghentikan sementara program pengayaan uranium dengan imbalan pencabutan sanksi dari Amerika Serikat (AS). Teheran seperti dilaporkan Fars News, menegaskan laporan yang menyebut Iran akan bersikap fleksibel soal nuklir 'tidak benar" dan posisi mereka tidak berubah.

Al Hadath dalam laporannya menyebut Iran setuju menunda pengayaan uranium dengan imbal balik pencabutan sanksi. Pejabat Iran menegaskan bahwa tidak ada diskusi soal nuklir saat ini.

Sumber di kalangan pejabat Iran juga menuduh pemerintahan Trump memanfaatkan pejabat Pakistan untuk memanipulasi pasar lewat laporan-laporan palsu. Sementara pejabat lain dikutip Press TV mengatakan bahwa AS saat ini "terjebak di Selat Hormuz dan lalu mengangkat isu nuklir untuk mengalihkan perhatian dari masalah itu".

Iran pada Jumat pekan lalu mendeklarasikan bahwa Teheran tak lagi bernegosiasi soal program nuklir, dan menegaskan tidak akan membuat konsensi apapun terkait pengayaan uranium atau mengirim uranium yang diperkaya keluar dari negara mereka.

Iran ingin AS kembali pada nota kesepahaman yang dicapai pada Juni lalu, di mana mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan rencana untuk memulai perundingan nuklir, dengan imbalan sejumlah langkah, termasuk keringanan sanksi, pencairan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan di luar negeri, serta penghentian blokade AS.

Namun, pejabat AS mengatakan, Trump tidak lagi ingin kembali pada kesepakatan tersebut. AS juga memperketat sanksi dan mempertahankan blokadenya atas Iran.

sumber : Antara, Anadolu

Baca Artikel Selengkapnya