Iran Ancam Hancurkan Pusat Data dan Fasilitas AI di Teluk

1 jam yang lalu 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Iran mengancam akan menghancurkan pusat data (data center), jaringan kabel komunikasi, dan fasilitas kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) milik atau terkait kepentingan Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia apabila perang kembali meningkat. Ancaman tersebut menandai perluasan sasaran strategis Teheran, dari pangkalan militer dan infrastruktur energi menuju fasilitas teknologi yang menopang ekonomi digital internasional.

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, mengungkapkan ancaman tersebut pada Ahad (11/10/2026), ketika perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran kembali menghadapi kebuntuan. Mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) itu secara khusus menyinggung aset-aset teknologi bernilai tinggi milik Amerika Serikat di Uni Emirat Arab (UEA) dan kawasan sekitar Selat Hormuz yang selama ini belum dimasukkan ke dalam daftar sasaran serangan Iran.

“Kami belum memasukkan aset-aset tersebut ke dalam daftar sasaran kami. Namun, jika perang pecah, banyak kabel komunikasi, pusat data, fasilitas kecerdasan buatan, dan berbagai fasilitas lainnya akan dihancurkan,” kata Rezaei sebagaimana dilaporkan televisi pemerintah Iran, Press TV, Ahad.

Rezaei menegaskan Iran masih menyimpan kemampuan militer yang belum sepenuhnya digunakan dalam konfrontasi sebelumnya dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia memperingatkan bahwa Teheran akan memperlihatkan kemampuan baru tersebut apabila Washington kembali melancarkan serangan terhadap wilayah Iran.

Pernyataan itu memperlihatkan perubahan penting dalam perhitungan strategis Teheran. Iran tidak lagi hanya menyoroti instalasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah, tetapi juga infrastruktur komersial yang berperan dalam komputasi awan, pengolahan data, sistem keuangan, dan pengembangan kecerdasan buatan.

Ancaman tersebut bersifat kondisional, yakni apabila perang kembali meningkat, dan bukan pengumuman bahwa serangan baru terhadap fasilitas AI telah dilaksanakan. Hingga pernyataan itu disampaikan, belum ada bukti terverifikasi bahwa Iran telah memulai operasi penghancuran pusat data baru sebagai tindak lanjut ancaman Rezaei pada 11 Oktober.

Pusat Data Amazon Pernah Dihantam Drone Iran

Ancaman Rezaei bukan sekadar retorika yang tidak memiliki preseden. Pada Maret 2026, sejumlah fasilitas pusat data Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab dan Bahrain mengalami kerusakan akibat serangan drone dalam rangkaian perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Financial Times melaporkan pada Maret 2026 bahwa serangan terhadap fasilitas AWS menjadi perkembangan penting dalam peperangan modern. Infrastruktur komputasi awan milik perusahaan teknologi Amerika Serikat untuk pertama kalinya menjadi sasaran langsung serangan militer dalam konflik tersebut.

AWS mengonfirmasi pada 2 Maret 2026 bahwa dua fasilitasnya di UEA terkena serangan drone secara langsung. Sementara itu, satu fasilitas di Bahrain mengalami kerusakan akibat serangan drone yang terjadi di dekat lokasi operasionalnya.

Dampaknya tidak terbatas pada kerusakan fisik bangunan. Gangguan pasokan listrik, konektivitas, dan sistem pendinginan menyebabkan sejumlah layanan komputasi awan tidak dapat beroperasi secara normal, sehingga pelanggan diminta memindahkan aplikasi dan data ke pusat layanan AWS di wilayah lain.

Konsekuensi serangan tersebut bahkan berlangsung berbulan-bulan. Dalam pembaruan status layanan pada 15 September 2026, AWS menyatakan tidak dapat memulihkan akses terhadap sebagian sumber daya dan data yang hanya tersimpan di salah satu zona operasionalnya di UEA.

Situasi lebih berat terjadi di Bahrain karena kerusakan melampaui kemampuan sistem pemulihan layanan di kawasan tersebut. AWS menyatakan sejumlah data yang hanya tersimpan di wilayah Bahrain tidak dapat diakses kembali, meskipun banyak pelanggan sudah memindahkan operasional mereka ke kawasan lain.

Deutsche Welle dalam laporan 10 Mei 2026 menyoroti serangan terhadap fasilitas AWS sebagai peringatan mengenai kerentanan infrastruktur digital. Media Jerman tersebut menjelaskan bahwa kerusakan pusat data dapat memengaruhi transaksi perbankan, sistem pembayaran, pelayanan publik, dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada jaringan komputasi awan.

Serangan terhadap pusat data memperlihatkan bahwa sebuah instalasi teknologi komersial dapat menimbulkan dampak jauh lebih luas daripada kerusakan bangunannya. Gangguan pada satu pusat komputasi yang melayani banyak pelanggan berpotensi merambat ke sejumlah sektor ekonomi, terutama ketika sistem cadangan tidak tersedia atau berada di fasilitas yang sama.

Baca Artikel Selengkapnya