Iran Ajukan 6 Syarat 'Baru' jika Trump Mau Perang Berhenti, Apa Saja?

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, memaparkan Teheran telah melayangkan serangkaian persyaratan terbaru untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat.

Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera pada Sabtu (10/10), Rezaei mengatakan Teheran telah menyampaikan persyaratannya kepada AS melalui mediator Qatar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rezaei menegaskan meski Iran melayangkan syarat baru untuk memulai babak baru negosiasi, Teheran masih jauh lebih tangguh menghadapi perang dibandingkan pada 40 hari pertama konflik tersebut, yang dimulai pada akhir Februari setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran.

"Kami akan menghadapi Amerika dengan kekuatan yang lebih besar, serta melancarkan serangan yang lebih banyak dan lebih menyakitkan," kata Rezaei.

Lantas, apa saja persyaratan terbaru Iran? Berikut persyaratan yang disampaikan Rezaei kepada Al Jazeera:

1. Mengakhiri perang di semua front, khususnya di Lebanon.

2. Membebaskan dana Iran yang dibekukan senilai miliaran dolar AS.

3 .Mengakhiri blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

4. Mengakhiri campur tangan AS dalam urusan dalam negeri Iran.

5. Mengakhiri kerja sama AS dengan "pihak-pihak yang menentang revolusi kami".

6. Menghentikan seluruh serangan AS terhadap wilayah Iran.

"Kepentingan Washington adalah menerima persyaratan ini. Ancaman Trump tidak akan membuahkan hasil apa pun. Kami siap menghadapi perang yang menentukan," kata Rezaei.

Apa bedanya dengan MoU Juni lalu?

Serangkaian persyaratan baru ini memiliki banyak kesamaan dengan tuntutan yang tercantum dalam MoU yang ditandatangani pada Juni. Kesepakatan itu juga mencakup penghentian perang di semua front, termasuk Lebanon; penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing pihak dan larangan mencampuri urusan dalam negeri; penghentian blokade laut oleh kedua belah pihak; serta pembebasan dana Iran yang dibekukan.

MoU tersebut juga mengusulkan rencana rekonstruksi senilai US$300 miliar yang didukung AS. Kedua pihak turut menyepakati bahwa Iran tidak akan memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir dan bahwa Teheran akan membuka Selat Hormuz agar kapal-kapal dapat melintas dengan aman.

Selain itu, AS diwajibkan memberikan pengecualian sanksi yang memungkinkan ekspor minyak mentah Iran dan layanan lainnya, tidak menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran, serta tidak mengerahkan tambahan pasukan AS ke kawasan tersebut.

Dalam wawancara itu, Rezaei tidak menyebut reparasi perang dari AS, yang sebelumnya pernah dituntut Teheran.

Bagaimana tanggapan AS?

AS belum memberikan tanggapan terhadap persyaratan baru Iran. Rezaei mengatakan bahwa Iran "menunggu Amerika menerima dan melaksanakannya".

Meski demikian, pada Sabtu, AS memperingatkan warganya di Irak, Bahrain, Oman, Arab Saudi, Iran, Qatar, Lebanon, Kuwait, dan Yordania agar meningkatkan kewaspadaan. Washington menyatakan bahwa "situasi keamanan masih kompleks dan berpotensi mengalami eskalasi yang tidak terduga".

Presiden AS Donald Trump juga mempersingkat kunjungan akhir pekannya ke Camp David. Menurut Gedung Putih, ia kembali ke Washington, DC, pada Sabtu dari kompleks kepresidenan yang terpencil di pedesaan Maryland. Gedung Putih tidak memberikan penjelasan mengenai kepulangannya lebih awal tersebut, yang terjadi di tengah meningkatnya pertempuran antara Arab Saudi dan Houthi.

Menurut Rob Geist Pinfold, dosen di King's College London, Trump mungkin akan menanggapi serius nota yang diajukan Iran, sebagai bagian dari upaya mengakhiri perang sebelum pemilu paruh waktu AS pada November.

(rds)

Baca Artikel Selengkapnya