Intelijen Peringatkan Sabotase Rusia, Eropa Siapkan Protokol Darurat

18 menit yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas memperingatkan bahwa informasi intelijen menunjukkan Rusia diduga sedang merencanakan aksi sabotase lebih lanjut di Eropa. Peringatan tersebut mendorong negara-negara Uni Eropa mempercepat pembahasan mekanisme keamanan baru untuk menghadapi serangan hibrida yang berada di bawah ambang perang terbuka.

"Kita harus waspada karena kami melihat dalam informasi intelijen bahwa Rusia sedang merencanakan lebih banyak aksi sabotase," kata Kallas saat tiba dalam pertemuan para menteri pertahanan Uni Eropa di Brussels, Senin (28/9/2026).

Menurut Kallas, serangan semacam itu diarahkan untuk mengganggu demokrasi Eropa, memecah masyarakat, serta mengintimidasi negara-negara Eropa agar mengurangi dukungan kepada Ukraina. Ia mengatakan ancaman tersebut perlu diantisipasi sebelum berkembang menjadi krisis yang lebih besar.

Peringatan Kallas memberikan urgensi baru terhadap pembahasan para menteri Uni Eropa di Brussels. Mereka mulai membicarakan apa yang disebut Emergency Security Protocol atau Protokol Keamanan Darurat, sebuah mekanisme yang memungkinkan negara-negara anggota dengan cepat mengoordinasikan respons ketika menghadapi serangan hibrida.

Gagasan tersebut sebelumnya diperkenalkan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen sebagai semacam "Pasal 4 Eropa". Namun, mekanisme yang sedang dirancang Brussels tidak ditujukan untuk menggantikan ataupun menduplikasi mekanisme pertahanan NATO.

Pasal 4 NATO memungkinkan suatu negara anggota meminta konsultasi ketika integritas teritorial, kemerdekaan politik, atau keamanannya merasa terancam. Adapun mekanisme Uni Eropa diarahkan untuk menentukan instrumen yang dapat digunakan ketika sebuah negara menghadapi agresi yang belum mencapai kategori serangan bersenjata.

"Protokol darurat lebih mengenai alat apa yang dapat digunakan pada saat terjadi agresi yang bukan agresi bersenjata, yang berada di bawah ambang Pasal 5," kata Kallas seusai pertemuan.

Ancaman di Bawah Ambang Perang

Perbedaan itu menjadi penting karena Eropa menghadapi ancaman yang tidak selalu dapat dikategorikan sebagai serangan militer konvensional. Sabotase, serangan siber, pembakaran, operasi disinformasi, gangguan terhadap infrastruktur penting, hingga penerbangan drone dapat menimbulkan dampak keamanan tanpa ada pasukan asing yang secara terbuka menyeberangi perbatasan.

Sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022, pejabat Uni Eropa mengatakan terjadi peningkatan serangan hibrida terhadap negara-negara Eropa. Kallas sebelumnya menyebut rangkaian insiden tersebut semakin berani dan berbahaya, sementara Rusia membantah sejumlah tuduhan keterlibatan dalam operasi sabotase di Eropa.

Kekhawatiran itu meningkat setelah sejumlah insiden terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Salah satu yang paling menonjol adalah dugaan serangan drone di Bandara Leipzig/Halle, Jerman, yang oleh pemerintah Jerman dikaitkan dengan Rusia.

NATO juga meningkatkan pertukaran intelijen menyusul sejumlah insiden yang dicurigai berkaitan dengan Moskow, termasuk dugaan sabotase dan aktivitas perang hibrida. Panglima Tertinggi Sekutu NATO di Eropa (SACEUR) Jenderal Alexus Grynkewich mengatakan aliansi tetap waspada menghadapi perkembangan tersebut.

Denmark bahkan memperkirakan Rusia akan meningkatkan perang hibridanya terhadap Barat dan NATO dalam beberapa bulan mendatang. Penilaian intelijen pertahanan Denmark menyebut tindakan tersebut dapat mencakup serangan siber, operasi dengan drone atau rudal dalam skala terbatas, hingga operasi yang dirancang untuk menyamarkan identitas pelaku. Rusia membantah penilaian tersebut dan menuduh negara-negara Barat meningkatkan ketegangan.

Bagi Brussels, pola tersebut menghadirkan persoalan yang rumit. Sebuah tindakan dapat cukup serius untuk mengancam keamanan suatu negara, tetapi belum memenuhi ambang serangan bersenjata yang dapat mengaktifkan prinsip pertahanan kolektif NATO.

Di ruang abu-abu itulah Uni Eropa ingin membangun mekanisme baru.

Baca Artikel Selengkapnya