Inggris Prediksi Perang Pecah di Eropa 1000 Hari Lagi, Wanti-wanti Ini

41 menit yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting memprediksi perang kemungkinan bisa pecah di Eropa dalam 1.000 hari ke depan atau sekitar hampir tiga tahun lagi.

Dalam tulisannya di The Telegraph pada Sabtu (24/10), Streeting menyebut bahwa musuh-musuh Inggris bakal bersiap untuk menyerang Inggris pada 2030.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan demikian, Inggris dan aliansi negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) hanya memiliki waktu tiga tahun untuk melakukan persiapan.

"Keinginan pihak lawan untuk mencelakai kita bukanlah hal baru. Hal yang telah berubah adalah kapasitas mereka. Menjelang tahun 2030, kekuatan militer dan ekonomi perang mereka dapat menempatkan mereka dalam posisi untuk melancarkan serangan. Hal ini memberi kita waktu sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan misi kita: bersiap bersama sekutu untuk bertempur dan meraih kemenangan," tulisnya di The Telegraph, dikutip dari Anadolu Agency.

"Untuk mencegah skenario terburuk, kita harus bersiap menghadapinya. Prioritas utama saya adalah memastikan negara ini siap untuk bertempur dan memenangkan perang," tambahnya.

Streeting pun meminta warga Inggris bersiap soal kemungkinan perang pecah di Eropa dalam 1.000 hari ke depan, salah satunya dengan mengumpulkan stok suplai bahan makanan dan minuman untuk mengantisipasi kesulitan pangan jika terjadi perang.

Streeting juga memperingatkan tentang ancaman yang kian berkembang dari negara-negara yang memusuhi, serangan siber, kejahatan terorganisasi, dan perubahan iklim, termasuk risiko terhadap infrastruktur krusial.

Dalam sebuah pernyataan di BBC, ia menyebutkan bahwa Inggris menghadapi tingkat ancaman yang lebih besar "dibandingkan dengan apa yang pernah kita alami sepanjang hidup saya-atau setidaknya selama sebagian besar hidup saya."

Peringatan ini muncul bersamaan dengan peluncuran kampanye pemerintah yang bertajuk "Be Ready" (Bersiaplah). Kampanye itu mengimbau setiap rumah tangga untuk menyimpan persediaan kebutuhan pokok yang cukup untuk bertahan selama tiga hari jika terjadi keadaan darurat nasional.

Panduan tersebut menyarankan untuk menyimpan air minum dalam kemasan, makanan yang tidak mudah rusak, uang tunai, dan kebutuhan pokok lainnya di rumah. Pemerintah menyatakan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan nasional, bukan sebagai respons terhadap peringatan intelijen tertentu.

Streeting mengatakan bahwa istilah-istilah seperti "perang hibrida" dan "ancaman zona abu-abu" tidak cukup menggambarkan risiko yang ditimbulkan oleh negara-negara yang memusuhi.

(rds/rds)

Baca Artikel Selengkapnya